Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan kesenjangan yang masih sangat besar antara nilai impor dan ekspor negara tersebut. Pada tahun 2025, defisit perdagangan barang AS mencapai sekitar 1,24 triliun dollar AS, atau setara Rp 20.835 triliun. Angka fantastis ini memicu pertanyaan mengenai negara-negara penyumbang defisit terbesar dan efektivitas kebijakan tarif yang telah diterapkan.
Apa Itu Defisit Perdagangan?
Secara sederhana, defisit perdagangan terjadi ketika nilai impor suatu negara melampaui nilai ekspornya. Jika sebuah negara mengimpor barang dan jasa senilai 1 triliun dollar AS tetapi hanya mengekspor 800 miliar dollar AS, maka selisih 200 miliar dollar AS itulah yang disebut defisit perdagangan.
Dalam kasus Amerika Serikat, defisit perdagangan barang pada tahun 2025 mencapai sekitar 1,24 triliun dollar AS, setara sekitar Rp 20.835 triliun. Namun, jika digabungkan antara barang dan jasa, total defisit perdagangan AS berada di kisaran 901,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 15.148 triliun. Perbedaan ini disebabkan oleh surplus AS di sektor jasa yang membantu mengurangi sebagian defisit barang.
Lima Negara Penyumbang Defisit Terbesar AS
Berdasarkan data yang dirangkum Visual Capitalist dari statistik perdagangan resmi AS, berikut adalah negara-negara dengan defisit perdagangan barang terbesar terhadap Amerika Serikat pada tahun 2025:
- China: Defisit perdagangan AS dengan China tercatat sekitar 202 miliar dollar AS, setara dengan sekitar Rp 3.394 triliun. China masih menjadi penyumbang defisit terbesar, dengan impor produk elektronik, mesin, peralatan rumah tangga, hingga berbagai barang konsumsi.
- Meksiko: Defisit perdagangan AS dengan Meksiko mencapai sekitar 196,9 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 3.308 triliun. Meksiko kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar AS, dengan banyak produk otomotif, suku cadang kendaraan, dan barang manufaktur diproduksi untuk pasar Amerika.
- Vietnam: Vietnam mencatat defisit terhadap AS sekitar 178 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 2.991 triliun. Kenaikan defisit ini berkaitan dengan pergeseran basis produksi global dari China ke Asia Tenggara, di mana banyak perusahaan multinasional memindahkan fasilitas produksinya ke Vietnam.
- Taiwan: Defisit perdagangan AS dengan Taiwan mencapai 147 miliar dollar AS, atau setara sekitar Rp 2.470 triliun. Sebagian besar berasal dari impor komponen teknologi dan semikonduktor, mengingat Taiwan adalah salah satu pusat produksi chip terbesar di dunia.
- Uni Eropa (Agregat): Jika dihitung secara keseluruhan sebagai blok perdagangan, defisit AS terhadap Uni Eropa mencapai sekitar 219 miliar dollar AS, setara dengan Rp 3.680 triliun. Jerman dan Irlandia menjadi penyumbang utama, terutama pada sektor otomotif, farmasi, dan mesin industri.
Mengapa Defisit Perdagangan AS Tetap Besar?
Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan mengapa defisit perdagangan AS tetap tinggi, di antaranya:
- Konsumsi Domestik yang Kuat: Tingkat konsumsi rumah tangga di Amerika Serikat sangat tinggi, mendorong permintaan besar terhadap barang impor seperti elektronik dan pakaian.
- Peran Dollar AS: Sebagai mata uang cadangan utama dunia, permintaan global terhadap dollar AS menjadikannya relatif kuat. Mata uang yang kuat membuat barang impor lebih murah bagi konsumen domestik, namun membuat ekspor lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
- Struktur Rantai Pasok Global: Produksi barang sering melibatkan banyak negara. Sebuah produk elektronik bisa dirancang di AS, komponennya dibuat di Taiwan, dirakit di Vietnam, lalu diimpor kembali ke AS. Secara statistik, nilai penuh barang tercatat sebagai impor dari negara perakitan akhir.
Efektivitas Kebijakan Tarif
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menerapkan berbagai tarif impor, terutama terhadap China, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada barang impor dan mendorong produksi dalam negeri.
Namun, data menunjukkan bahwa meskipun defisit dengan China menurun, defisit dengan negara lain seperti Vietnam dan Taiwan justru meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai trade diversion atau pengalihan perdagangan, di mana impor berpindah dari satu negara ke negara lain tanpa benar-benar menurunkan total impor secara keseluruhan.
Surplus Neraca Jasa Sebagai Penyeimbang
Meskipun defisit barang sangat besar, Amerika Serikat memiliki kekuatan signifikan di sektor jasa. Surplus neraca perdagangan jasa AS mencapai sekitar 339 miliar dollar AS, atau setara sekitar Rp 5.696 triliun.
Sektor jasa yang dominan meliputi jasa keuangan, teknologi informasi, konsultasi bisnis, pendidikan, dan pariwisata. Surplus ini membantu mengurangi total defisit, namun nilainya belum cukup untuk menutup sepenuhnya defisit barang yang sangat besar.
Fluktuasi Bulanan dan Pentingnya Angka Ini
Defisit perdagangan juga mengalami fluktuasi setiap bulan. Pada November 2025, defisit neraca perdagangan AS tercatat sekitar 56,8 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 954 miliar. Bulan sebelumnya, Oktober 2025, defisit sempat menyempit menjadi sekitar 29,4 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 494 miliar.
Fluktuasi ini dipengaruhi oleh perubahan permintaan impor, pergerakan ekspor, respons terhadap kebijakan tarif, dan kondisi ekonomi global.
Angka defisit perdagangan ini penting karena berkaitan dengan lapangan kerja di sektor manufaktur, ketahanan industri domestik, stabilitas hubungan dagang internasional, serta nilai tukar dan arus investasi. Namun, para ekonom juga menekankan bahwa defisit perdagangan tidak selalu berarti ekonomi dalam kondisi lemah, melainkan dapat mencerminkan daya beli domestik yang kuat serta posisi dolar sebagai mata uang global.
Informasi lengkap mengenai data defisit perdagangan Amerika Serikat ini disampaikan melalui statistik perdagangan resmi AS yang dirangkum oleh Visual Capitalist.
