Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiagakan personel dan alat berat di sejumlah titik rawan bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran perjalanan kereta api selama arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Antisipasi Bencana di Jalur Kereta Api
Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono menjelaskan, pemantauan intensif akan dilakukan di wilayah Semarang dan sekitarnya. Area tersebut sering menjadi langganan bencana banjir, tanah labil, dan longsor, seperti yang terjadi pada awal tahun ini.
DJKA telah melakukan berbagai penguatan prasarana untuk mitigasi bencana. Upaya tersebut meliputi pemasangan pancang rel, cross drain, perkuatan sheet pile baja, normalisasi sungai, serta pengangkatan elevasi jembatan dan rel.
Seluruh area rawan tersebut dipantau selama 24 jam penuh melalui kamera pengawas (CCTV) dan sensor. Perhatian khusus diberikan pada wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk penanganan darurat, DJKA menempatkan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di 62 titik rawan. Penempatan AMUS ini mengacu pada pemetaan Daerah Pemantauan Khusus (Dapsus) yang tersebar di seluruh wilayah kerja DJKA. Pemantauan Dapsus dilakukan bersama operator dan pemerintah daerah guna menekan gangguan perjalanan kereta api akibat bencana.
Inspeksi Kelaikan Sarana dan Standar Pelayanan
Selain pengamanan jalur, DJKA juga gencar melakukan ramp check atau inspeksi kelaikan sarana perkeretaapian. Hingga saat ini, sebanyak 3.571 sarana telah diperiksa dari total 4.181 unit yang akan dioperasikan pada masa Angkutan Lebaran 2026.
Allan Tandiono merinci, sarana yang diperiksa terdiri dari 326 lokomotif, 2.119 kereta yang ditarik lokomotif, 103 kereta rel diesel (KRD), serta 1.633 kereta rel listrik (KRL). “Saat ini kami masih terus menghimpun data dari teman-teman balai yang melakukan ramp check di lapangan,” ujar Allan.
Proses ramp check telah dimulai sejak 2 Februari 2026 di seluruh Balai Teknik Perkeretaapian. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan seluruh armada dalam kondisi laik operasi dan memenuhi standar keselamatan.
DJKA juga memeriksa Standar Pelayanan Minimum (SPM) di stasiun, melakukan inspeksi keselamatan sarana dan prasarana, serta menyiapkan Posko Harian Bidang Perkeretaapian selama masa Angkutan Lebaran.
Kapasitas dan Prediksi Puncak Arus Mudik
Untuk Angkutan Lebaran 2026, DJKA menyiapkan kapasitas kereta api antarkota mencapai 3,58 juta kursi. Sebanyak 384 perjalanan kereta api antarkota akan beroperasi setiap hari untuk melayani masyarakat.
Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026, sementara puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 24 Maret 2026. “Kami terus upayakan agar persiapan menyambut hajat akbar ini dapat berlangsung optimal sehingga perjalanan mudik masyarakat nantinya dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan selamat,” tegas Allan Tandiono.
Informasi lengkap mengenai kesiapan Angkutan Lebaran 2026 ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026.
