PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), emiten yang bergerak di sektor perdagangan wholesale, mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited. Kesepakatan ini akan menjadikan Dragonmine Mining sebagai pengendali baru perseroan, membuka potensi BLUE untuk merambah bisnis material baterai kendaraan listrik (EV).
Akuisisi dan Pengendali Baru
Dalam keterbukaan informasi BLUE, Dragonmine Mining berencana mengakuisisi 334,4 juta saham produsen tinta merek Blueprint tersebut. Jumlah ini setara dengan 80 persen dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan.
Perkembangan ini merupakan kelanjutan dari proses akuisisi yang telah diumumkan perseroan pada November 2025. Dragonmine Mining sendiri merupakan perusahaan swasta yang berkantor pusat di Hong Kong, dengan Huayou Hongkong Limited sebagai pemiliknya.
Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha dari Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd. Perusahaan induk ini dikenal fokus sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.
Peluang Bisnis Material Baterai EV
Akuisisi ini berpotensi besar membawa BLUE masuk ke dalam bisnis material baterai kendaraan listrik. Huayou Cobalt Co.,Ltd memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, dengan industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya.
Perusahaan asal China tersebut kian ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi. Salah satu inisiatifnya adalah melalui Proyek Titan, yang merupakan kerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Analisis Pasar dan Regulasi
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, menyatakan bahwa terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. Langkah ini berpotensi memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia (BEI), memungkinkan perusahaan dengan kualitas lebih baik masuk melalui skema backdoor listing.
Ezar menambahkan bahwa BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka. “Sebagai referensi, sekitar 30 persen dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar dalam keterangan tertulis pada Senin (23/2/2026).
Studi Kasus Serupa: CNGR dan PACK
Ezaridho Ibnutama menjelaskan bahwa langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk memahami masa depan BLUE, dapat dilihat dari apa yang sebelumnya dilakukan CNGR terhadap PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK).
Sebelumnya, produsen material baterai lithium asal China, CNGR, mengubah emiten kemasan plastik PACK menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. Perusahaan yang awalnya bergerak di bidang kemasan ini dicaplok oleh PT Eco Energi Perkasa, yang dimiliki oleh Deng Weiming, pendiri CNGR, salah satu produsen prekursor baterai terbesar dunia.
Setelah akuisisi, PACK berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.
Dampak dan Strategi Raksasa Global
Ezaridho Ibnutama menyoroti bahwa BLUE, sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80 persen saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.
Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117 persen sepanjang tahun (year to date) dan hampir 1.900 persen dalam setahun. Namun demikian, harga saham BLUE sempat terkoreksi di tengah kondisi pasar yang volatil saat mengumumkan fakta CSPA ini.
Bagi raksasa global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi pasar kecil seperti BLUE dan PACK menawarkan jalur ekspres ketimbang melakukan IPO dari nol yang memakan waktu lama. “Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui rights issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia,” ucap Ezar.
Keberadaan entitas publik di BEI membantu meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, serta memperkuat profil ESG (Environmental, Social, and Governance) di mata investor global. Aksi Dragonmine di BLUE menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar penyedia bahan mentah, melainkan pusat finansial bagi raksasa energi hijau dunia.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi PT Berkah Prima Perkasa Tbk yang dirilis melalui keterbukaan informasi publik.
