Ekonom Universitas Indonesia (UI) sekaligus Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, memproyeksikan potensi pengalihan perdagangan atau trade diversion Amerika Serikat (AS) ke Indonesia mencapai 7,11 miliar dollar AS. Fenomena ini muncul karena tarif resiprokal atas produk Indonesia lebih rendah dibandingkan negara pesaing, mendorong importir di AS beralih ke produk asal Indonesia.
“Secara ekonomi kita diuntungkan, karena memang negara-negara tersebut memiliki tarif yang jauh lebih tinggi, seperti misalnya Brazil dan juga China, itu ada potensi trade diversion. Jadi, dalam konteks ekonomi kita untung,” ujar Fithra Faisal Hastiadi di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Potensi Keuntungan Ekonomi dari Tarif Rendah
Perhitungan potensi trade diversion sebesar 7,11 miliar dollar AS ini ditopang oleh tarif 0 persen untuk 1.819 produk Indonesia. Kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS juga membuka peluang investasi di sektor manufaktur strategis.
Fithra Faisal Hastiadi menjelaskan bahwa perhitungan ini merupakan hasil analisis pribadinya. “Ini bukan hitungan pemerintah, ini hitungan saya, disclaimer, jadi untuk manufacturing (sektor manufaktur) itu (Indonesia) bisa mendapatkan keuntungan (dari trade diversion) sekitar 3,38 miliar dolar AS,” jelasnya.
Sektor Manufaktur dan Lainnya Jadi Penopang Utama
Sektor manufaktur berpotensi menyumbang 3,38 miliar dollar AS dari trade diversion ini. Selain itu, sektor tekstil diperkirakan meraih 2,22 miliar dollar AS, sementara sektor agrikultur berpotensi menambah 1 miliar dollar AS.
Peluang Investasi dan Pengakuan Standar Global
Perjanjian dagang tersebut juga membuka peluang pengakuan standar timbal balik atau mutual recognition. Skema ini mencakup standarisasi jaminan kesehatan dan sertifikasi halal.
Fithra menilai standar tinggi dari Food and Drug Administration (FDA) AS dapat memperkuat pengawasan keamanan makanan dan obat di Indonesia. Produk asal AS yang telah tersertifikasi FDA tidak perlu lagi mengurus perizinan ulang di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Hal serupa berlaku untuk produk yang telah memiliki sertifikasi halal, misalnya dari ISWA Halal Certification Department USA Halal Chamber of Commerce.
Posisi Geopolitik Indonesia dan Dampak BRICS
Fithra juga menyoroti posisi Indonesia yang konsisten menjaga politik luar negeri netral. Sikap tersebut memberikan keuntungan di tengah dinamika perdagangan global. Keikutsertaan Indonesia dalam BRICS turut menciptakan peluang, mengingat banyak anggota BRICS menghadapi beban tarif tinggi ke AS, yang mendorong arus trade diversion ke Indonesia.
AS kini menempatkan Indonesia sebagai basis rantai pasok alternatif utama. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap peran strategis Indonesia dalam peta perdagangan global.
Investasi Semikonduktor dan Rare Earth Perkuat Ekosistem
Manfaat kerja sama bilateral mulai terlihat dari komitmen investasi AS yang mengalir ke pengembangan teknologi semikonduktor dan pengolahan mineral logam tanah jarang atau rare earth. Investasi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri di Indonesia.
“Ketika AS dalam hal ini datang berinvestasi semikonduktor, jadi artinya dalam hal ini kita juga bisa membangun ekosistem itu. Jadi ketika kita ekspor di situ (ekosistem semikonduktor) juga untuk kepentingan kita juga,” imbuh Fithra Faisal Hastiadi.
Informasi lengkap mengenai potensi trade diversion dan dampaknya disampaikan melalui pernyataan Fithra Faisal Hastiadi pada Jumat, 27 Februari 2026.
