Pertumbuhan ekonomi India mencatat angka impresif 7,8 persen pada kuartal yang berakhir Desember 2025. Capaian ini secara signifikan melampaui proyeksi analis yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 7,2 persen.
Data terbaru ini dirilis setelah pemerintah India melakukan perombakan kerangka penghitungan output ekonomi. Pada kuartal sebelumnya, Produk Domestik Bruto (PDB) India tercatat 8,2 persen, yang kemudian direvisi menjadi 8,4 persen berdasarkan seri baru. Estimasi pertumbuhan untuk tahun fiskal 2026 juga dinaikkan menjadi 7,6 persen dari 7,4 persen.
Pertumbuhan Ekonomi India Lampaui Ekspektasi
Alexandra Hermann, ekonom utama di Oxford Economics, menyatakan bahwa data PDB ini melampaui ekspektasi mereka dan konsensus pasar. “Data PDB melampaui ekspektasi kami maupun konsensus,” kata Hermann, dikutip dari CNBC pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Sektor manufaktur menjadi pendorong utama kinerja ekonomi yang tangguh selama tiga tahun fiskal berturut-turut. Konsumsi swasta dan pembentukan modal tetap bruto juga tercatat tumbuh lebih dari 7 persen pada tahun fiskal berjalan.
Perubahan Metodologi dan Respons Kritik IMF
Pemerintah India melalui Kementerian Statistik dan Implementasi Program (MoSPI) memperkenalkan perubahan pada seri PDB, inflasi, dan data produksi industri pada Januari lalu. Langkah ini bertujuan memperkuat kualitas data, meningkatkan kredibilitas, serta relevansi kebijakan.
Sebagai bagian dari pembaruan, India menggeser tahun dasar PDB menjadi tahun fiskal 2023 dari sebelumnya 2012. Perubahan ini diharapkan dapat mencatat sektor-sektor ekonomi yang tumbuh cepat dengan lebih akurat. Hermann menambahkan bahwa peningkatan pencatatan pada segmen yang berkembang pesat menunjukkan “lintasan pertumbuhan yang terukur kemungkinan akan secara struktural lebih tinggi di bawah seri baru.”
Perubahan metodologi ini juga merespons sorotan Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap kualitas data ekonomi India. Tahun lalu, IMF memberikan peringkat “C” atau terendah kedua, menyoroti penggunaan tahun dasar yang usang (2011/2012) dan satu deflator untuk menghitung inflasi yang dinilai dapat mendistorsi ukuran ekonomi riil.
Sekretaris MoSPI, Saurabh Garg, dalam wawancara dengan media lokal pada Kamis, 26 Februari 2026, optimistis. “Seri PDB baru akan secara luas menjawab kekhawatiran IMF, dan sebagai hasilnya, kami memperkirakan penilaian serta peringkat mereka terhadap data neraca nasional India akan berubah,” ujarnya.
Dampak Konsumsi Domestik dan Tantangan Ekspor
Di sisi domestik, kuartal Desember 2025 menunjukkan peningkatan selektif konsumsi emas dan otomotif, didorong oleh musim perayaan. Kenaikan ini turut menopang kinerja ekonomi pada periode tersebut.
Namun, kuartal ini juga menjadi periode penuh pertama bagi eksportir India yang merasakan dampak tarif 50 persen dari Amerika Serikat, yang telah berlaku sejak Agustus tahun lalu. Meskipun demikian, kedua negara kemudian menyepakati kesepakatan dagang sementara yang menurunkan tarif menjadi 18 persen.
Situasi perdagangan global kian kompleks setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar rezim tarif Presiden Donald Trump pada Jumat, 27 Februari 2026. Pemerintah AS kini menerapkan tarif global sebesar 10 persen dan mengancam akan menaikkannya lebih tinggi.
Meskipun ada perlambatan ekspor ke AS, survei ekonomi bulan lalu mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi India tidak terhambat. Produk-produk seperti tekstil, kelautan, permata dan perhiasan, komponen otomotif, serta barang kulit yang terdampak tarif AS, dilaporkan telah menemukan pasar alternatif berdasarkan data pemerintah India.
Informasi lengkap mengenai pertumbuhan ekonomi India ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Statistik dan Implementasi Program India (MoSPI) dan laporan media internasional pada 28 Februari 2026.
