Konflik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai merembet ke ranah olahraga, khususnya Piala Dunia 2026. Isu boikot dan pencoretan peserta pun merebak, mengancam partisipasi Iran yang sejatinya telah lolos kualifikasi.
Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan di tiga negara, yakni Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Amerika Serikat memegang porsi terbesar sebagai tuan rumah, menjadi lokasi seluruh pertandingan yang dijadwalkan untuk tim nasional Iran.
Pesimisme Federasi Sepak Bola Iran
Eskalasi konflik Iran yang memuncak, menyusul tewasnya pemimpin Ali Khamenei, memicu seruan boikot terhadap negara tersebut. Iran sendiri telah memastikan tempat di Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi zona AFC, tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Seluruh laga Iran direncanakan berlangsung di wilayah Amerika Serikat, yaitu Los Angeles (melawan Selandia Baru pada 15 Juni dan Belgia pada 21 Juni) serta Seattle (melawan Mesir pada 26 Juni). Namun, situasi perang yang semakin genting menimbulkan keraguan besar terkait keikutsertaan mereka.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bahkan secara terbuka menyatakan pesimisme. “Dengan apa yang terjadi hari ini, serangan oleh Amerika Serikat itu, kecil kemungkinan kami bisa menatap Piala Dunia,” ujar Mehdi Taj, seperti dikutip dari Marca.
Yugoslavia dan Rusia: Korban Konflik di Piala Dunia
Sejarah mencatat, Iran bukanlah negara pertama yang menghadapi masalah partisipasi di Piala Dunia akibat konflik. Pada tahun 1992, Yugoslavia, yang dikenal sebagai kekuatan besar sepak bola Eropa, ‘ditendang’ dari kualifikasi Piala Dunia 1994.
Keputusan tersebut merupakan buntut dari pencoretan Yugoslavia dari Piala Eropa 1992 akibat perang sipil dan pelanggaran HAM di dalam negeri. Padahal, skuad Yugoslavia saat itu diisi nama-nama legendaris seperti Dejan Savicevic, Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, Sinisa Mihajlovic, dan Davor Suker.
Posisi Yugoslavia di putaran final Piala Eropa 1992 digantikan oleh Denmark, yang secara mengejutkan berhasil menjadi juara. Jika tidak dihukum, Yugoslavia berpotensi besar melaju mulus melewati kualifikasi Piala Dunia 1994 zona UEFA, di mana mereka seharusnya menempati Grup 5 bersama Yunani, Hongaria, Islandia, Luksemburg, dan Rusia.
Selain Yugoslavia, Rusia juga pernah merasakan dampak perang terhadap partisipasi di Piala Dunia. Invasi Rusia ke Ukraina sekitar empat tahun lalu (sekitar 2022) menyebabkan negara tersebut dilarang ikut serta dalam berbagai kejuaraan olahraga internasional, termasuk Piala Dunia.
Kala itu, Rusia sedang bersiap menghadapi babak play-off melawan Polandia untuk Piala Dunia Qatar 2022. Mereka dinyatakan kalah walkover (WO) dan harus mengubur mimpi tampil di ajang tersebut. Sanksi pembekuan Rusia masih berlanjut hingga kini, membuat mereka tidak dilibatkan dalam kejuaraan sepak bola internasional.
Meskipun sempat muncul titik terang dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebulan lalu (sekitar Februari 2026) mengenai kemungkinan pencabutan sanksi, wacana tersebut ditentang keras oleh UEFA.
Informasi lengkap mengenai potensi absennya Iran dari Piala Dunia 2026 ini disampaikan melalui pernyataan resmi Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang dikutip dari berbagai media internasional.
