Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak signifikan di pasar komoditas global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas dan perak, menyebabkan lonjakan harga logam mulia dunia pada Senin, 02 Maret 2026.
Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional dan memperbesar premi risiko. Akibatnya, terjadi pergeseran portofolio investasi menuju komoditas bernilai lindung nilai.
Harga Emas Dunia Mendekati Rekor Baru
Harga emas dunia menunjukkan kenaikan signifikan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Dikutip dari Global Times, dalam perdagangan berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME) pada Minggu (1/3/2026), kontrak emas tercatat melonjak hingga 5.296,4 dollar AS per ons.
Dengan asumsi kurs Rp 16.800 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 88,98 juta per ons. Rekor sebelumnya tercatat mendekati 5.608 dollar AS per ons atau sekitar Rp 94,21 juta per ons pada Januari 2026.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian global meningkat. Analis pasar, Yang Yang, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong harga logam mulia.
“Peningkatan ketegangan geopolitik menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran telah meningkatkan premi risiko seiring dimulainya kembali perdagangan pada hari Senin,” jelas Yang. Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memicu pembukaan perdagangan yang melonjak pada awal pekan karena investor meningkatkan eksposur pada aset yang lebih aman.
Permintaan Aset Safe Haven Meningkat
Emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yaitu instrumen investasi yang cenderung diburu investor ketika ketidakpastian meningkat. Ketika risiko geopolitik memanas, investor biasanya mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke komoditas yang memiliki nilai intrinsik lebih stabil.
Analis pasar memperkirakan tren tersebut akan kembali terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Yang mengatakan, pasar global kemungkinan akan menunjukkan respons risk-off.
“Investasi safe-haven seperti emas dan perak berpotensi mengalami lonjakan harga ke atas saat pembukaan pasar,” tuturnya. Selain emas fisik, kontrak berjangka emas juga mengalami peningkatan karena mencerminkan ekspektasi investor terhadap permintaan dan pasokan logam mulia di masa depan.
Volatilitas Pasar Akibat Konflik Timur Tengah
Lonjakan harga emas dan perak tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan pasokan energi global.
Perkembangan tersebut mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Analis pasar menilai ketegangan tersebut berpotensi memicu volatilitas tinggi di berbagai pasar keuangan global.
Laporan pasar menyebut, ketidakpastian geopolitik biasanya memperkuat permintaan logam mulia karena investor mencari perlindungan nilai. Dalam situasi seperti ini, emas sering menjadi pilihan utama karena memiliki sejarah panjang sebagai penyimpan nilai dalam periode krisis ekonomi maupun geopolitik.
Proyeksi Harga Logam Mulia ke Depan
Sejumlah analis memperkirakan harga emas dan perak dapat terus naik jika konflik geopolitik semakin memburuk. Dikutip dari The Economic Times, harga emas saat ini telah mendekati level 5.300 dollar AS per ons atau sekitar Rp 89 juta per ons.
Sementara itu, harga perak berada di kisaran lebih dari 92 dollar AS per ons atau sekitar Rp 1,55 juta per ons. Kenaikan tersebut terjadi setelah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global.
Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, mengatakan meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset yang lebih stabil. Ia menyebut situasi tersebut memicu fenomena “flight to safety” alias pergerakan menuju aset yang aman.
Jika ketegangan terus meningkat, para analis memperkirakan harga emas dapat menembus target berikutnya di sekitar 5.450 dollar AS per ons atau sekitar Rp 91,56 juta per ons. Namun, pergerakan harga logam mulia tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti kebijakan suku bunga, inflasi, serta permintaan global.
Dampak pada Pasar Energi dan Keuangan Global
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Pada 2025, lebih dari 14 juta barrel minyak per hari melewati jalur ini, atau sekitar sepertiga ekspor minyak mentah yang diangkut melalui laut secara global. Gangguan pada jalur ini dapat meningkatkan harga energi global dan memperbesar ketidakpastian ekonomi.
Beberapa perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan energi bahkan dilaporkan menangguhkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah eskalasi konflik terbaru. Ketidakpastian tersebut juga berpotensi memberikan tekanan pada pasar saham global.
Fu Yifu, peneliti di Jiangsu Su Merchants Bank, menyebut sejumlah sektor di pasar saham dapat mengalami penguatan akibat konflik tersebut. Ia mengatakan, sektor minyak dan gas, logam mulia, industri pertahanan, serta industri batu bara berpotensi mengalami kenaikan minat investor.
Investor Pantau Perkembangan Konflik
Para analis menilai pergerakan harga logam mulia dalam beberapa pekan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Yang menyatakan, investor perlu terus memantau perkembangan konflik karena kondisi tersebut dapat memicu volatilitas yang lebih besar di berbagai pasar.
“Investor perlu memantau perkembangan situasi dengan cermat,” saran dia. Menurutnya, jika ketegangan meningkat lebih lanjut, volatilitas harga minyak, emas, dan perak dapat meningkat secara signifikan, sementara pasar saham global berpotensi mengalami tekanan.
Di sisi lain, apabila ketegangan mereda, harga logam mulia dapat mengalami stabilisasi setelah lonjakan awal yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga komoditas global, terutama logam mulia, sangat sensitif terhadap perkembangan politik internasional dan dinamika konflik geopolitik.
Informasi mengenai lonjakan harga komoditas dan analisis pasar ini disampaikan berdasarkan laporan dari Global Times, The Economic Times, serta pernyataan resmi para analis pasar pada Senin, 02 Maret 2026.
