Finansial

Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel: Pasar Minyak Global Terancam Lonjakan Harga, Selat Hormuz Disoroti

Advertisement

Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), memicu balasan langsung dari Teheran. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut bertujuan menghancurkan program nuklir Iran dan berpotensi menggulingkan rezim yang berkuasa. Langkah ini berisiko memperluas konflik di kawasan dan langsung menekan pasar minyak global.

Eskalasi Konflik dan Klaim Presiden Trump

Serangan AS dan Israel pada Sabtu pagi melibatkan puluhan serangan udara ke ibu kota Teheran dan sejumlah kota besar lain di Iran. Aksi militer ini terjadi setelah perundingan terakhir antara negosiator AS dan Iran pada Kamis berakhir tanpa kesepakatan, meskipun Menteri Luar Negeri Oman yang menjadi mediator sebelumnya menyebut ada “kemajuan”.

Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Presiden Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah tewas, meski ia tidak merinci lebih lanjut klaim tersebut. Trump juga menegaskan operasi militer AS berskala besar dan masih berlangsung, dengan tujuan menghancurkan kemampuan persenjataan nuklir Iran, melemahkan angkatan laut Iran, serta kelompok proksi yang didukung Teheran di kawasan. Ia bahkan menyerukan militer Iran untuk menyerah atau menghadapi “kematian tertentu”, serta mendorong para demonstran di Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka.

Ancaman Lonjakan Harga Minyak Global

Sebelum eskalasi terbaru, harga minyak dunia sudah menguat. Kontrak berjangka Brent, acuan internasional, naik sekitar 2,9 persen dan ditutup di atas 72,80 dollar AS per barel pada Jumat (27/2/2026). Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai acuan AS naik 2,8 persen ke atas 67 dollar AS per barel.

Kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge León, memperingatkan bahwa tanpa tanda-tanda deeskalasi hingga akhir pekan, harga minyak bisa melonjak 10 hingga 20 dollar AS per barel saat pasar dibuka kembali pada Minggu malam. “Melihat skala serangan balasan, inisiatif strategis kini banyak berada di tangan Iran. Respons Teheran dalam 24–72 jam ke depan, terutama terhadap infrastruktur energi atau pelayaran regional, akan menjadi penentu utama dinamika harga minyak jangka pendek,” ujarnya, dikutip dari Yahoo Finance. León menambahkan, jika konflik meluas dan menyasar infrastruktur minyak di kawasan Teluk, harga bisa terdorong lebih tinggi lagi.

Serangan Balasan dan Target Strategis

Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke aset militer AS dan infrastruktur di sejumlah negara Teluk, seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab. Laporan media kawasan menyebut ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta provinsi timur yang kaya minyak juga menjadi sasaran. Sejumlah fasilitas penerbangan, termasuk Bandara Internasional Kuwait dan Bandara Internasional Dubai, dilaporkan ikut menjadi target. Pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Al Udeid di Qatar, juga disebut terdampak. Di Teheran, AS dilaporkan menyerang kompleks yang menjadi kediaman utama Ayatollah Khamenei.

Advertisement

Selat Hormuz: Jalur Vital di Tengah Ketegangan

Pasar minyak kini menyoroti potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari. Iran memiliki pengaruh strategis di selat tersebut. Garda Revolusi Iran dilaporkan memperingatkan melalui radio bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas di Selat Hormuz.

Meskipun Iran belum pernah sepenuhnya menutup jalur itu, negara tersebut pernah menyerang kapal tanker dan memasang ranjau di perairan tersebut. Gangguan sekecil apa pun dapat memicu lonjakan premi risiko dan biaya pengiriman minyak serta gas. Beberapa perusahaan minyak besar dan rumah dagang dilaporkan menangguhkan pengiriman melalui Selat Hormuz sesaat setelah serangan AS.

Faktor OPEC+ dan Kapasitas Produksi Iran

Kelompok produsen minyak OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan bulanan pada Minggu. Beredar spekulasi bahwa aliansi tersebut dapat menaikkan kuota produksi lebih besar dari rencana sebelumnya, yakni 137.000 barel per hari. Menurut Jorge León, kenaikan kuota produksi bisa meredam sebagian tekanan harga pada awal pekan. Namun, dampaknya dinilai terbatas jika risiko geopolitik terus meningkat.

Iran memproduksi sekitar 3,4 juta barel per hari atau sekitar 4 persen pasokan minyak dunia. Ekspornya berkisar 1–2 juta barel per hari, sebagian besar menuju China meski berada di bawah sanksi.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Presiden AS Donald Trump dan analisis dari Rystad Energy yang dirilis pada akhir pekan.

Advertisement