PT Pertamina International Shipping (PIS) secara intensif memantau dan memastikan keselamatan para pekerja serta kru kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang semakin memanas di area tersebut, sebagaimana disampaikan pada Minggu (1/3/2026). Perusahaan berfokus pada evakuasi armada dan kru dari zona berbahaya.
Langkah Sigap PIS Hadapi Konflik Timur Tengah
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa kondisi 30 pekerja dan keluarga PIS Middle East di Dubai saat ini dipastikan aman. Perusahaan terus memantau situasi di Dubai dan para pekerja mengikuti imbauan Kedutaan Besar Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, lapor diri, serta menghubungi hotline KBRI atau KJRI jika terjadi situasi darurat.
Vega Pita menyebut fokus utama perusahaan adalah memastikan keselamatan pekerja dan kru kapal, serta keamanan operasional armada di jalur strategis. PIS melaporkan empat kapal berada di area Timur Tengah: kapal Gamsunoro di Khor al Zubair – Irak, Pertamina Pride di Ras Tanura, PIS Rinjani di posisi jangkar Khor Fakkan, dan PIS Paragon di Oman.
PIS juga proaktif berkoordinasi dengan pihak pengelola kapal (Ship Management) dan otoritas maritim setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. Komunikasi intensif terus terjalin dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI Abu Dhabi, dan KJRI Dubai untuk mematuhi arahan yang dikeluarkan.
Dua kapal, yakni Pertamina Pride yang dikelola NYK dan Gamsunoro yang dikelola Synergy Ship Management, masih berada di dalam area teluk. “Kedua kapal kami upayakan bisa segera keluar dari area teluk. Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” tambah Vega.
Eskalasi Konflik Iran-Israel: Latar Belakang dan Dampak
Konflik di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini langsung memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi tempur ini merupakan langkah preventif untuk mengeliminasi ancaman yang dianggap mendesak. Pada Sabtu malam, Trump mengumumkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas. “Dia tidak dapat menghindari sistem intelijen dan sistem pelacakan canggih kami,” ujarnya, dikutip dari AFP, Minggu (1/3/2026).
Trump menegaskan operasi militer akan terus berlanjut sepanjang pekan ini jika diperlukan, dengan dalih demi menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Di sisi lain, militer Israel menyatakan telah menghantam lebih dari 500 target strategis, termasuk lokasi pertemuan pejabat senior Iran di Teheran, dengan mengerahkan 200 jet tempur.
Sebagai tanggapan, Garda Revolusi Iran mengatakan, mereka menargetkan armada kelima AS di Bahrain dan pangkalan-pangkalan AS lainnya di Teluk, setelah meluncurkan gelombang pertama serangan rudal dan pesawat tak berawak ke Israel. Layanan darurat Magen David Adom Israel menyebutkan, pihaknya sedang merawat seorang pria dengan luka akibat ledakan di bagian utara negara itu, setelah rudal diluncurkan dari Iran.
Militer Israel mengaku telah mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan ke berbagai lokasi di seluruh negeri, menyusul laporan tentang jatuhnya proyektil. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, bersumpah akan memberi pelajaran yang tak terlupakan kepada AS dan Israel.
Informasi lengkap mengenai upaya evakuasi dan pemantauan keselamatan kru PIS disampaikan melalui pernyataan resmi Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, yang dirilis pada Minggu (1/3/2026).
