Volatilitas pasar global kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menaikkan tarif impor sebesar 15 persen. Situasi ini diperparah dengan eskalasi perang antara Israel dan Iran yang menambah tekanan signifikan pada pasar keuangan dunia, termasuk aset kripto seperti Bitcoin. Gejolak geopolitik dan kebijakan perdagangan tersebut berpotensi besar memengaruhi arus modal, likuiditas global, serta arah suku bunga yang selama ini menjadi penopang pergerakan aset berisiko.
Eskalasi Konflik Israel-Iran dan Tekanan Pasar Global
Kronologi perang Israel-Iran menunjukkan eskalasi yang cepat dan mengkhawatirkan. Israel memulai penyerangan ke ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) waktu Indonesia, di tengah proses perundingan negosiasi nuklir antara Iran dengan AS. Tidak berselang lama, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Bahrain, memicu situasi kawasan yang semakin panas.
Amerika Serikat terus menuntut Iran menghentikan proyek nuklirnya dan tidak menerima pengayaan uranium Iran yang telah mencapai 60 persen. Ketidakpastian ini membuat investor global cenderung mengurangi risiko di berbagai kelas aset, mencari instrumen yang lebih aman di tengah gejolak.
Respons Investor Institusi: Beralih ke Aset Defensif
Di tengah situasi tersebut, investor institusi dinilai lebih memilih langkah defensif dengan mengurangi eksposur pada instrumen berisiko tinggi, salah satunya kripto. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, investor institusi akan melakukan penyesuaian portofolio saat volatilitas global meningkat, terutama jika dipicu kebijakan besar seperti kenaikan tarif dagang dari AS hingga konflik Iran, Israel, dan Paman Sam.
“Dalam banyak kasus investor institusi cenderung mengurangi eksposur ke kripto saat volatilitas global meningkat, terutama jika dipicu oleh kebijakan besar seperti kenaikan tarif,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).
Ia menambahkan, dalam fase risk-off, manajer aset global biasanya melakukan de-risking dengan mengurangi alokasi pada aset berisiko tinggi, termasuk saham teknologi, emerging markets, dan kripto. Dana kemudian dialihkan ke kas, obligasi pemerintah AS, atau instrumen pasar uang yang lebih stabil.
Volatilitas akibat kebijakan tarif dan perang Israel-Iran tidak hanya berdampak pada perdagangan global, tetapi juga memengaruhi ekspektasi pertumbuhan ekonomi, inflasi, serta arah kebijakan moneter bank sentral. Kombinasi faktor-faktor itu mendorong investor mengurangi risiko secara menyeluruh, termasuk di aset kripto yang dikenal sangat fluktuatif.
Respons investor institusi pun tidak selalu seragam. Institusi jangka pendek seperti hedge fund yang menggunakan leverage biasanya lebih cepat menurunkan eksposur saat volatilitas meningkat tajam. Sementara itu, institusi dengan horizon investasi panjang, misalnya asset manager besar atau perusahaan publik yang memegang Bitcoin (BTC) sebagai bagian dari strategi treasury, umumnya tidak bereaksi seagresif itu, kecuali terjadi perubahan fundamental besar pada likuiditas atau regulasi.
Strategi Investor Ritel: Disiplin dan “Wait and See”
Di tengah perang Israel-Iran dan ketidakpastian global, investor ritel juga diminta lebih waspada. Gejolak jangka pendek yang dipicu berita geopolitik maupun kebijakan perdagangan kerap memicu pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat.
“Bagi investor kripto, kondisi saat ini menuntut kehati-hatian lebih tinggi. Walaupun sebagian pelaku pasar kemungkinan sudah mengantisipasi hasil putusan hukum tersebut, faktor makro seperti likuiditas global, arah suku bunga, dan sentimen risiko tetap menjadi pendorong utama harga Bitcoin,” beber Calvin.
Pendekatan wait and see dinilai menjadi pilihan rasional bagi investor yang belum memiliki keyakinan kuat terhadap arah pasar. Selain itu, penggunaan leverage berlebihan sebaiknya dihindari karena dapat memperbesar potensi kerugian saat volatilitas melonjak.
“Dalam periode gejolak jangka pendek yang dipicu oleh berita geopolitik, penting bagi investor untuk meninjau kembali toleransi risiko masing-masing, menghindari penggunaan leverage berlebihan, dan tetap fokus pada indikator makro yang secara historis berkorelasi dengan pergerakan Bitcoin,” lanjutnya.
Informasi lebih lanjut mengenai dinamika pasar dan strategi investasi di tengah gejolak global ini disampaikan melalui pernyataan resmi CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, pada Minggu (1/3/2026).
