Penampilan kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, kembali menjadi sorotan usai memperkuat Ajax Amsterdam dalam laga pekan ke-25 Eredivisie 2025-2026. Meski berhasil mencatat cleansheet saat Ajax ditahan imbang PEC Zwolle 0-0 di Stadion Marc 3 Park pada Minggu, 1 Maret 2026, Paes justru menuai kritik tajam dari sejumlah analis.
Kritik tersebut terutama menyoroti aspek distribusi bola Paes yang dinilai kurang efektif. Namun, di tengah badai kritik, legenda Timnas Belanda, Wim Kieft, muncul memberikan pembelaan dan pemahaman atas situasi yang dihadapi kiper berusia 27 tahun tersebut.
Kritik Tajam untuk Distribusi Bola Maarten Paes
Laga antara PEC Zwolle dan Ajax Amsterdam yang berakhir tanpa gol pada Minggu, 1 Maret 2026, menjadi panggung bagi Maarten Paes untuk tampil kedua kalinya bersama tim utama Ajax. Meski gawangnya tidak kebobolan, performa Paes tidak luput dari evaluasi para pengamat sepak bola.
Analis ESPN, Kenneth Perez, secara terang-terangan mengkritik distribusi bola Paes. “Mereka memiliki pembuat masalah terbesar di posisi kiper dalam waktu yang lama. Paes memainkan umpan-umpan yang gila,” ujar Perez.
Senada dengan Perez, Marciano Vink, juga dari ESPN, menyoroti buruknya penguasaan bola Ajax secara keseluruhan. Dalam program “Dit Was Het Weekend”, Vink mengungkapkan bahwa Ajax kehilangan bola sebanyak 157 kali dalam pertandingan tersebut.
“Rata-rata pertandingan Eredivisie di level bawah kehilangan sekitar 120 bola. Ajax kehilangan 157. NAC yang tampil buruk pada Jumat kehilangan 140,” jelas Vink, membandingkan statistik tersebut.
Vink menambahkan bahwa gaya bermain Ajax menuntut kiper untuk membangun serangan dari belakang, sebuah tuntutan yang mungkin masih baru bagi Paes. “Dia belum pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi sekarang dia di Ajax dan mencoba membangun serangan,” katanya.
Sepanjang laga, Paes tercatat melakukan 50 sentuhan bola. Dari jumlah tersebut, ia menuntaskan 32 dari 41 operan pendeknya dan hanya 6 dari 14 operan panjang.
Pembelaan dari Legenda Timnas Belanda Wim Kieft
Buruknya performa Ajax secara keseluruhan dalam laga tersebut juga menarik perhatian legenda Timnas Belanda, Wim Kieft. Melalui keterangannya kepada Studio Voetbal, Kieft menilai permainan Ajax sangat buruk, terutama dalam mengantisipasi tekanan dari pemain PEC Zwolle.
“Sangat buruk. Tekanan yang diberikan PEC Zwolle dan ketidakmampuan para pemain Ajax untuk mengatasinya,” jelas Kieft, dikutip dari Voetbal Primeur.
Meski tidak sepenuhnya mendukung keputusan Paes dalam setiap operan, Kieft mencoba memahami posisi kiper tersebut. Ia berpendapat bahwa Paes terpaksa mengoper bola jauh karena para pemain belakang Ajax sangat buruk dalam memulai serangan dari bawah.
“Kiper itu terus saja mengoper bola ke arah (PEC). Saya berpikir: saya akan mengoper bola jauh saja. Karena mereka sama sekali tidak bisa membangun serangan di Ajax. Tidak ada yang bisa membangun serangan di Ajax,” tegas Kieft.
Kieft juga mengungkapkan keheranannya terhadap peran manajer Ajax, Fred Grim, yang terkesan diam dan tidak memberikan arahan apapun di pinggir lapangan. “Saya juga tidak mengerti mengapa hal itu tidak diarahkan (Fred Grim) di pinggir lapangan. Atau dikatakan tetapi mereka tidak memahaminya. Itu akan jauh lebih buruk,” tuturnya.
Informasi ini disampaikan melalui pernyataan para analis ESPN dan legenda Timnas Belanda Wim Kieft yang dikutip dari berbagai media pasca pertandingan pada Minggu, 1 Maret 2026.
