FIFA dan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi memperkenalkan aturan baru yang melarang pemain menutup mulut saat berbicara dengan lawan di lapangan. Kebijakan ini, yang secara informal dijuluki “Vinicius Law“, merupakan respons tegas terhadap insiden dugaan rasisme yang melibatkan Vinicius Jr dari Real Madrid dan Gianluca Prestianni dari Benfica. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk memerangi rasisme dalam dunia sepak bola.
Insiden Rasisme yang Memicu Perubahan Regulasi
Insiden dugaan rasisme mencuat dalam laga Benfica melawan Real Madrid beberapa waktu lalu, menyoroti Vinicius Jr dan Gianluca Prestianni. Prestianni diduga melakukan tindakan rasisme terhadap Vinicius Jr setelah selebrasi golnya ke gawang Benfica pada menit ke-50. UEFA segera turun tangan untuk menyelidiki insiden tersebut, yang kemudian berujung pada sanksi bagi Prestianni, membuatnya absen pada leg kedua pertandingan.
Meskipun demikian, Prestianni dan klubnya, Benfica, telah membantah tuduhan rasisme tersebut. Penyelidikan UEFA menghadapi kendala karena rekaman audio di lapangan tidak merekam dialog antara kedua pemain, sehingga menyulitkan pembuktian. Tindakan Prestianni yang menutup mulutnya saat berbicara kepada Vinicius juga menjadi sorotan, karena hal ini membuat pembacaan gerak bibir tidak dapat dijadikan bukti yang sah.
“Vinicius Law” Resmi Ditetapkan IFAB dan FIFA
Menanggapi tantangan pembuktian dan untuk menekan praktik rasisme, FIFA dan IFAB sepakat mengambil langkah proaktif. Berdasarkan laporan Diario AS, kedua badan tersebut memutuskan untuk melarang pesepak bola menutup mulut menggunakan jersey, benda lain, maupun tangan ketika berbicara dengan pemain lawan. Aturan ini secara informal dikenal sebagai “Vinicius Law” karena kemunculannya setelah perselisihan antara Vinicius Jr dan Gianluca Prestianni.
Keputusan ini dirampungkan dalam pertemuan terbaru IFAB yang digelar pada Sabtu. Regulasi baru ini direncanakan akan diselesaikan sebelum Piala Dunia musim panas mendatang dan berpeluang besar untuk diterapkan pada turnamen empat tahunan tersebut. FIFA menegaskan kembali komitmennya untuk memerangi rasisme, menjadikan kebijakan baru ini sebagai wujud nyata dari tekad tersebut.
Dukungan dari Thibaut Courtois dan Real Madrid
Penerapan “Vinicius Law” langsung mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk kiper Real Madrid, Thibaut Courtois. Secara pribadi, Courtois menyatakan dukungannya terhadap rencana aturan tersebut sebagai upaya menekan aksi rasisme di sepak bola. “Jika larangan menutup mulut dapat mengakhiri hinaan semacam ini, saya akan menyambutnya,” ujar Courtois, seperti dikutip dari The Athletic. Ia menambahkan, “Saya tidak keberatan (dengan aturan itu) jika bisa membasmi rasisme.”
Langkah ini juga diperkirakan akan disambut baik oleh Real Madrid, yang secara konsisten memberikan dukungan penuh kepada Vinicius Jr di tengah kasus yang masih dalam penyelidikan UEFA.
Informasi lengkap mengenai regulasi baru ini disampaikan melalui pernyataan resmi FIFA dan IFAB yang dirilis setelah pertemuan pada Sabtu, 29 Februari 2026.
