Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase akselerasi pemulihan kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Periode ini datang setelah maskapai nasional tersebut melalui konsolidasi fundamental sepanjang 2025 dan penguatan struktur permodalan dari pemegang saham mayoritasnya, Danantara Indonesia.
Proyeksi ini muncul seiring masuknya suntikan modal sebesar Rp 23,67 triliun. Dana tersebut dinilai mengubah struktur fundamental perseroan, sekaligus mempercepat transisi dari fase bertahan menuju pemulihan terstruktur.
Suntikan Modal Danantara: Katalis Utama Pemulihan
Analis UOB Kay Hian, Benyamin Mikael, menilai dukungan suntikan modal dari Danantara menjadi katalis utama pemulihan Garuda Indonesia. “Suntikan modal Rp 23,67 triliun dari Danantara menjadi katalis utama yang mengubah fundamental perseroan dan mempercepat proses pemulihan,” ujar Benyamin, melalui keterangannya, Jumat (27/2/2026).
Pelaksanaan capital injection yang disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) November 2025 mendorong ekuitas Garuda berbalik dari negatif menjadi positif. Perbaikan neraca ini membuka peluang GIAA keluar dari mekanisme Full Call Auction (FCA) Bursa Efek Indonesia pada Maret 2026.
Sentimen positif tersebut tercermin pada pergerakan saham GIAA. Pada awal Januari 2026, saham GIAA menguat 9,76 persen ke level Rp 90 per lembar. Kenaikan ini merefleksikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap keberlanjutan transformasi dan dukungan pemegang saham.
Menurut Benyamin, kehadiran Danantara sebagai entitas pengelola aset negara bukan hanya memperkuat sisi finansial. Kehadiran Danantara juga menciptakan stabilitas struktural dan kredibilitas jangka panjang bagi maskapai pelat merah tersebut.
2025: Tahun Konsolidasi dan Penguatan Fondasi
Sebelumnya, Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menegaskan bahwa tahun 2025 memang diposisikan sebagai periode penguatan fondasi. “Tahun 2025 adalah periode konsolidasi dan penguatan fondasi,” ujar Rohan.
“Fokus utama adalah memastikan kesiapan operasional dan struktur keuangan yang lebih sehat sebagai prasyarat pertumbuhan berkelanjutan,” lanjutnya. Sepanjang 2025, Garuda Group menjalankan program perawatan dan reaktivasi armada secara bertahap sesuai perencanaan operasional.
Progres tersebut menunjukkan perbaikan kesiapan armada yang konsisten dan terukur. Strategi ini menempatkan kualitas layanan dan keberlanjutan sebagai prioritas, alih-alih ekspansi agresif dalam jangka pendek. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan transformasi berjalan disiplin sebelum masuk fase optimalisasi kapasitas.
2026: Optimalisasi Kapasitas dan Integrasi Grup
Dengan fondasi yang dinilai semakin stabil, tahun 2026 diarahkan sebagai fase optimalisasi kapasitas dan peningkatan kinerja terukur. Fokusnya bukan sekadar mengejar pertumbuhan volume, melainkan pertumbuhan yang sehat, profitable, dan berkelanjutan.
Dari sisi operasional, reaktivasi armada menunjukkan progres signifikan. Sepanjang 2025, sebanyak 15 pesawat berhasil diaktifkan kembali. Jumlah itu akan diperkuat dengan tambahan 13 pesawat yang ditargetkan beroperasi pada 2026. Armada aktif meningkat menjadi 90 pesawat pada akhir 2025, dibandingkan 68 pesawat pada 2022.
Kinerja kuartal III 2025 juga mencatatkan perbaikan pendapatan penumpang, charter, dan kargo, disertai pengendalian biaya yang lebih disiplin. Ke depan, manajemen mempertimbangkan penguatan struktur armada melalui penambahan enam pesawat dengan opsi pembelian langsung untuk mengoptimalkan struktur utang dan memperbaiki profil leverage.
Analis turut melihat potensi sinergi dari integrasi Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air di bawah koordinasi Danantara sebagai katalis tambahan. Target integrasi yang diproyeksikan selesai pada kuartal I 2026 akan mengadopsi model multi-brand guna mendukung optimalisasi rute, diferensiasi segmen layanan, serta efisiensi jaringan dalam skala grup.
Dengan kombinasi penguatan permodalan, konsolidasi operasional 2025, dan optimalisasi kapasitas 2026, manajemen memperkirakan laba bersih dapat dicapai pada akhir 2027. Bagi pasar, proyeksi tersebut menandai pergeseran narasi: dari fase survival menuju structured recovery. Jika disiplin transformasi dan pengawasan pemegang saham konsisten dijalankan, Garuda Indonesia berpeluang kembali mengukuhkan posisinya sebagai maskapai nasional yang lebih sehat dan berdaya saing jangka panjang.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Analis UOB Kay Hian dan Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.
