Finansial

Gejolak Iran-Israel dan Kebijakan AS Guncang Pasar: Analis Terangkan Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham

Advertisement

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi sebesar 0,44 persen atau turun 36,28 poin, menutup pekan periode 23–27 Februari 2026 di level 8.235. Penurunan ini dipicu oleh gejolak geopolitik global yang memanas serta perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi Amerika Serikat, yang turut meningkatkan risiko di pasar domestik.

Konflik Iran-Israel Memanas, Guncang Pasar Global

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik krusial setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah target strategis Iran. Operasi yang diberi kode ‘Operation Epic Fury’ ini menyasar kompleks militer serta fasilitas yang diduga terkait program rudal dan nuklir Teheran.

Laporan awal menyebutkan ratusan korban jiwa, termasuk warga sipil. Otoritas Israel bahkan mengindikasikan kemungkinan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meskipun belum ada konfirmasi independen.

Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah wilayah yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Konflik ini memicu sirene serangan udara di Israel, mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan, serta penetapan zona peringatan maritim bagi kapal sipil.

Ketidakpastian semakin meluas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan pembatasan akses di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini memfasilitasi sekitar 20-25 persen distribusi minyak mentah dan LNG global setiap hari.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyatakan, “Di tengah meningkatnya ketidakpastian global tersebut, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan signifikan pekan ini,” merujuk pada dampak geopolitik yang berpotensi mengguncang pasar energi dunia dan rantai pasok global.

Perubahan Kebijakan Ekonomi AS dan Tekanan Fiskal Domestik

Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh dinamika kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global era Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum.

Namun, Donald Trump merespons dengan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen. Selain itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran 86-143,3 persen.

Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia, sekaligus menambah tekanan pada neraca perdagangan. Di dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia.

Advertisement

Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas 15 persen, sebuah level indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal. Jika rasio tersebut bertahan tinggi dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat kredit tetap terbuka meskipun outlook saat ini masih stabil.

Imam Gunadi menilai, kombinasi risiko geopolitik, kebijakan perdagangan AS, dan tekanan fiskal domestik menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar.

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham di Tengah Ketidakpastian

Eskalasi konflik dan potensi gangguan distribusi energi berpeluang mendorong harga minyak mentah lebih tinggi. Kondisi ini dapat menguntungkan emiten batu bara dan migas melalui kenaikan harga jual rata-rata (ASP), tetapi di sisi lain menekan sektor padat energi seperti aviasi dan manufaktur berbasis impor bahan bakar.

Kenaikan premi risiko global juga biasanya mendorong harga emas menguat, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi diuntungkan. Dalam waktu dekat, pasar juga menanti rilis sejumlah data penting seperti PMI Manufaktur Indonesia, Neraca Perdagangan Januari 2026, Inflasi Februari 2026, PMI ISM Manufaktur dan Jasa AS, PMI NBS China, Initial Jobless Claims AS, Cadangan Devisa Indonesia, serta Non-farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran AS.

Secara teknikal, IHSG pekan ini diproyeksikan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada rentang support 8.031 dan resistance 8.437. Arah indeks sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi bersifat terkendali dan mendukung emiten komoditas, atau justru berubah menjadi tekanan inflasi yang mengganggu stabilitas makro dan nilai tukar rupiah.

Jika harga minyak melonjak tajam dan rupiah melemah, volatilitas IHSG berpotensi meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di emerging markets.

Merespons dinamika tersebut, IPOT merekomendasikan strategi buy on breakout untuk sejumlah saham dan instrumen berikut:

  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Entry di harga Rp 1.820, target harga Rp 2.000, dan stop loss Rp 1.755. ENRG memiliki posisi menarik sebagai emiten hulu migas dengan leverage langsung terhadap kenaikan harga minyak dan gas. Jika risiko di Selat Hormuz mendorong harga energi bertahan di level tinggi, perseroan berpotensi menikmati kenaikan average selling price (ASP) serta perbaikan arus kas operasional.
  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Entry di harga Rp 1.900, target harga Rp 2.030, dan stop loss Rp 1.840. Sebagai produsen emas, ARCI berpotensi diuntungkan dari meningkatnya permintaan aset safe haven akibat eskalasi konflik global dan volatilitas pasar keuangan. Kenaikan harga emas global akan berdampak langsung pada margin dan profitabilitas perseroan.
  • PT HM Sampoerna Tbk (HMSP): Entry di harga Rp 910, target harga Rp 980, dan stop loss Rp 875. Sebagai saham defensif berbasis consumer staples, HMSP menawarkan karakter pendapatan yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Permintaan produk rokok domestik cenderung tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi jangka pendek.
  • Reksa Dana Saham Premier ETF Syariah JII (XIJI): Entry Rp 682, target harga di Rp 700, dan stop loss di Rp 671. ETF ini memiliki eksposur signifikan pada sektor komoditas dan energi yang berpotensi diuntungkan dalam kondisi geopolitik saat ini. Portofolionya mencakup emiten batu bara, logam, energi, hingga emas.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Informasi lengkap mengenai analisis pasar dan rekomendasi saham ini disampaikan melalui pernyataan resmi Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) pada Senin, 02 Maret 2026.

Advertisement