Finansial

Gejolak Selat Hormuz Soroti Ancaman Ekonomi RI: Rupiah Melemah, Subsidi Energi Membengkak

Advertisement

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi besar menekan nilai tukar rupiah hingga Rp 17.000 per dolar AS. Situasi ini juga mengancam pembengkakan beban subsidi energi di Indonesia, terutama karena posisi strategis Iran yang menguasai Selat Hormuz.

Ancaman Gejolak di Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen produksi minyak dunia, atau hampir 20 juta barel per hari. Gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga energi global, yang pada gilirannya mengguncang stabilitas ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pelemahan Rupiah dan Tekanan Inflasi

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai dampak konflik ini tidak hanya terbatas di kawasan, melainkan langsung menyentuh perekonomian domestik. “Pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS, yang akan memicu inflasi barang impor karena banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri,” ujar Rahma dalam keterangannya pada Senin, 2 Maret 2026.

Kenaikan biaya impor bahan baku industri manufaktur akan mendorong harga barang domestik naik. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat secara signifikan.

Beban Subsidi Energi dan Tekanan Fiskal

Rahma juga menyebutkan bahwa lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak akan meningkatkan biaya untuk menjaga harga bahan bakar minyak dan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.

Advertisement

Situasi ini menciptakan tekanan fiskal yang lebih besar dan berisiko memaksa pemerintah merealokasi anggaran pembangunan. Anggaran tersebut kemungkinan akan dialihkan untuk perlindungan sosial dan stabilisasi ekonomi di tengah gejolak.

Jalur Strategis Bab el-Mandeb dan Risiko Berlipat

Selain Selat Hormuz, jalur Bab el-Mandeb juga berstatus strategis karena menghubungkan perdagangan Asia dan Eropa. Gangguan di kawasan ini dapat memperlambat arus perdagangan global, meningkatkan biaya logistik, dan menambah tekanan inflasi global.

Secara keseluruhan, konflik Iran dan Amerika Serikat menciptakan tekanan berlapis bagi ekonomi Indonesia. Risiko yang dihadapi mencakup pelemahan rupiah, lonjakan subsidi energi, serta inflasi yang lebih tinggi.

Informasi mengenai potensi dampak ekonomi ini disampaikan melalui keterangan resmi Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026.

Advertisement