Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran, Iran, pada Sabtu (28/2/2026) tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga mengerek saham-saham sektor pertahanan di bursa AS. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran eskalasi konflik membuat pelaku pasar memburu saham perusahaan persenjataan, yang selama ini kerap menjadi barometer ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Mantan penasihat bidang energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41 George H. W. Bush, Bob McNally, menyatakan bahwa situasi ini adalah hal yang nyata. Ia memperkirakan harga minyak mentah berjangka akan naik signifikan saat perdagangan dibuka Minggu pukul 18.00 waktu setempat, dengan kenaikan di kisaran 5–7 dollar AS atau sekitar Rp 81.500–Rp 114.100 per barrel (kurs Rp 16.300).
Dampak Serangan Terhadap Pasar Energi
Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), dengan produksi sedikitnya 3 juta barrel per hari pada Januari 2026. Gangguan pasokan dari kawasan ini memicu kekhawatiran dunia akan masuk ke jurang resesi.
Sebelum serangan dimulai pada Jumat (27/2/2026), harga minyak Brent sudah ditutup di level 72,48 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.181.424, naik 2,45 persen atau 1,73 dollar AS. Sementara West Texas Intermediate (WTI) ditutup di 67,02 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.092.426, naik 2,78 persen atau 1,81 dollar AS. Kekhawatiran semakin besar setelah Iran menyerang pangkalan depan AS di Bahrain dan bandara Al Udeid, Qatar. Jika serangan balasan meluas, harga minyak berpotensi kembali melonjak.
Saham Pertahanan Jadi Barometer Geopolitik
Di tengah gejolak energi, saham-saham sektor pertahanan AS justru menguat. Tiga emiten besar di New York Stock Exchange (NYSE), yakni Lockheed Martin (LMT), RTX, dan Northrop Grumman (NOC), dinilai berpotensi mendapat keuntungan dari situasi ini.
Saham sektor pertahanan kerap menjadi barometer geopolitik AS. Ketika konflik bersenjata pecah, harga saham perusahaan pertahanan cenderung naik karena pasar memperkirakan peningkatan belanja militer. Sistem persenjataan dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan barang sekali pakai.
Setiap sistem membutuhkan perawatan berkala, dan ketika konflik terjadi, kebutuhan pemeliharaan menjadi semakin mendesak. U.S. Government Accountability Office (GAO) mencatat sekitar 70 persen dari total biaya pembelian sistem persenjataan sebenarnya dialokasikan untuk pemeliharaan dan perawatan.
Selat Hormuz: Taruhan Ekonomi Global
Perang Israel-Iran yang dimulai Sabtu (28/2/2026) menandai babak baru konflik bersenjata di kawasan. Fokus Israel dan AS kini mengarah ke Selat Hormuz, jalur perairan dengan titik tersempit 33–39 kilometer. Otoritas Republik Islam Iran menyerukan blokade jika serangan terhadapnya berlanjut.
Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) mengendalikan sisi utara selat di Bandar Abbas, sementara sisi seberangnya berbatasan dengan Oman. Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia. Kedalamannya tak lebih dari 60 meter, dengan sejumlah pulau yang dikuasai Iran seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak.
Perusahaan konsultan energi Kpler mencatat volume kapal tanker yang mengangkut minyak melalui jalur ini mencapai sekitar 14 juta barrel per hari sepanjang 2025. Angka tersebut setara sepertiga total ekspor minyak mentah dunia via laut. Setengah dari volume minyak mentah yang melintas di Selat Hormuz dikirim ke China.
“Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global,” kata McNally. Selain minyak mentah, 20 persen ekspor gas alam cair dunia dari Qatar juga melewati selat ini.
Laporan moneycontrol.com pada Sabtu (28/2/2026) menyebut ekspor barang non-minyak dari India ke negara-negara Teluk mencapai 47,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 775.880.000.000.000. Rinciannya, ke Uni Emirat Arab 28,5 miliar dollar AS, Arab Saudi 11,7 miliar dollar AS, Irak 2,8 miliar dollar AS, Kuwait 2,1 miliar dollar AS, Qatar 1,7 miliar dollar AS, dan Iran 1,25 miliar dollar AS.
Sementara itu, altasinstitute.org pada 7 Agustus 2025 melaporkan total nilai perdagangan di kawasan Teluk Persia–Selat Hormuz mencapai 1,2 triliun dollar AS, mewakili 20 persen pengiriman kontainer global. Di tengah nilai ekonomi sebesar itu, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan alat tawar geopolitik.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bob McNally yang dikutip dari CNBC pada Sabtu (28/2/2026), serta laporan dari Morningstar, Kpler, Moneycontrol, dan Altas Institute.
