Finansial

Gejolak Timur Tengah: Saham ANTM Menguat Tajam, IHSG Tertekan, Pengamat Soroti Risiko Inflasi Global

Advertisement

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat signifikan pada awal perdagangan Senin, 02 Maret 2026, di tengah eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka melemah, mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik.

Saham ANTM Menguat di Tengah Gejolak Pasar

Pada pukul 09.15 WIB, saham ANTM tercatat berada di level Rp 4.500 per saham. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 150 poin atau 3,45 persen dari harga penutupan sebelumnya. Saham ANTM sempat dibuka di kisaran Rp 4.350 dan melonjak hingga menyentuh Rp 4.630 sebelum kemudian bergerak konsolidatif dan kembali ke area Rp 4.500.

IHSG Tertekan dan Respons Pasar

Berbanding terbalik dengan ANTM, IHSG dibuka melemah 135,745 poin atau turun 1,65 persen, mencapai level 8.099,740. Indeks sempat menunjukkan kenaikan ke 8.132,094, namun kemudian tertekan hingga menyentuh 8.039,508. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 626 saham melemah, 74 saham menguat, dan 37 saham stagnan.

Volume perdagangan mencapai 13,919 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,531 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 937.428 kali.

Analisis Pengamat: Konflik Timur Tengah Picu Fase Risk-Off

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa konflik di Timur Tengah mendorong pasar global masuk ke fase risk-off. Investor global cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke aset safe haven.

“Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik, tetapi sudah masuk ke ranah risiko ekonomi global. Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com pada Minggu, 01 Maret 2026.

Hendra menambahkan, harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent naik hampir 3 persen. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 30 persen perdagangan minyak global.

Advertisement

Dampak ke Pasar Modal Indonesia dan Rekomendasi Saham

Lonjakan harga energi berisiko memicu inflasi global, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan kebijakan suku bunga bank sentral. Bagi pasar modal Indonesia, tekanan dapat datang dari potensi capital outflow dan risiko inflasi impor.

“Bagi pasar modal Indonesia, tekanan bisa datang dari dua sisi. Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi,” beber Hendra.

Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya operasional emiten berpotensi naik dan margin laba tertekan. IHSG diproyeksikan berpotensi menguji level support 8.133, dan jika ditembus, level 8.000 menjadi area berikutnya. Sementara itu, resistance terdekat berada di kisaran 8.300.

Sektor komoditas, khususnya saham tambang dan energi, dinilai berpotensi menopang indeks karena sentimen positif dari kenaikan harga emas dan minyak. Hendra merekomendasikan beberapa saham sebagai trading buy, antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target Rp 3.900, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target Rp 4.500, PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target Rp 900, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target Rp 1.900. Selain itu, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) masuk kategori speculative buy dengan target Rp 1.400, serta PT Soechi Lines Tbk (SHIP) layak dicermati dengan target Rp 750 seiring peningkatan aktivitas dan tarif pengangkutan energi.

Informasi mengenai dinamika pasar modal ini disampaikan berdasarkan data Bursa Efek Indonesia dan analisis dari pengamat pasar modal.

Advertisement