Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, telah mengubah peta energi Timur Tengah. Peristiwa ini menempatkan Iran, salah satu simpul cadangan, produksi, dan distribusi minyak dunia, di pusat ketegangan geopolitik kawasan. Aksi tersebut memicu balasan dari Teheran dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari.
Posisi Strategis Iran di Peta Energi Global
Pengamat Energi dan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa posisi Iran sangat strategis dalam produksi, cadangan, maupun distribusi energi di Timur Tengah. “Untuk kawasan Timur Tengah, posisi Iran di dalam produksi cadangan maupun distribusi cukup strategis ya,” ujar Komaidi kepada Kompas.com pada Minggu, 1 Maret 2026.
Komaidi menambahkan, Iran merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar kedua di kawasan setelah Arab Saudi. Dari sisi produksi, Iran juga menempati posisi kedua di bawah Arab Saudi. “Jadi memang posisinya cukup besar,” tegasnya.
Saat ini, Iran memproduksi sekitar 3,4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4 persen dari total pasokan minyak dunia. Ekspornya berkisar 1–2 juta barel per hari, dengan sebagian besar tujuan ke China, meskipun Iran masih berada di bawah sanksi internasional.
Selain kapasitas produksi, letak geografis Iran yang berdekatan dengan Selat Hormuz memberikan pengaruh signifikan terhadap jalur distribusi energi global. “Yang tidak kalah penting adalah jalur distribusi, karena mereka kan dekat Selat Hormuz. Jadi controlling terhadap Selat Hormuz juga sewaktu-waktu mereka bisa closing, meskipun enggak bisa closing permanen tapi mereka punya akses untuk melakukan penutupan,” jelas Komaidi.
Akar Geopolitik dan Kepentingan AS di Kawasan
Komaidi menuturkan, ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel memiliki sejarah panjang yang berakar sejak revolusi Iran. Revolusi tersebut menggulingkan rezim Pahlavi dan menggantinya dengan rezim berbasis Syiah yang secara politik berseberangan dengan Israel dan AS. “Rezim yang sekarang itu sejak awal ketika terjadi revolusi Islam memang sudah mendeklarasikan mereka tidak pro terhadap Israel maupun Amerika,” katanya.
Dari perspektif energi, AS juga memiliki kepentingan strategis di kawasan ini. Pangkalan militernya tersebar di sejumlah negara Timur Tengah yang membutuhkan pasokan energi stabil. “Amerika mungkin juga tidak ingin bergantung pada satu negara, misalnya Arab Saudi, yang nanti kebijakannya juga bisa dinamis di dalam perjalanannya,” ujar Komaidi.
Tekanan pada Harga Minyak Dunia
Sebelum eskalasi terbaru, harga minyak dunia sudah menunjukkan penguatan. Kontrak Brent ditutup di atas 72,80 dollar AS per barel pada Jumat, 27 Februari 2026, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di atas 67 dollar AS per barel.
Kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge León, memperkirakan harga minyak bisa melonjak 10 hingga 20 dollar AS per barel jika tidak ada tanda-tanda deeskalasi. “Melihat skala serangan balasan, inisiatif strategis kini banyak berada di tangan Iran. Respons Teheran dalam 24–72 jam ke depan, terutama terhadap infrastruktur energi atau pelayaran regional, akan menjadi penentu utama dinamika harga minyak jangka pendek,” ujarnya, dikutip dari Yahoo Finance.
Jika konflik meluas dan menyasar infrastruktur minyak di kawasan Teluk, tekanan harga dinilai bisa meningkat lebih tinggi lagi.
Dampak Potensial ke Indonesia
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan bahwa serangan ke Iran hampir pasti akan memicu kenaikan harga minyak global secara signifikan. “Kalau serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan,” kata Fahmy kepada Kompas.com pada Sabtu, 28 Februari 2026 petang.
Fahmy memperkirakan harga minyak bisa berada di kisaran 70–80 dollar AS per barel jika konflik meluas dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah atau memblokir Selat Hormuz. Bahkan, jika Rusia, China, dan Korea Utara terlibat, harga minyak berpotensi menembus 100 dollar AS per barel.
Indonesia, yang mengimpor sekitar 1,2 juta barel BBM per hari, akan merasakan dampak kenaikan harga minyak global. Kenaikan ini akan secara langsung memengaruhi harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Sementara itu, harga Pertalite dan Solar masih ditopang oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau sudah di atas 100 (dollar AS per barel) saya kira APBN sudah tidak mampu lagi, maka pada saat itu pemerintah harus menaikkan,” pungkas Fahmy.
Informasi lebih lanjut mengenai dampak ketegangan geopolitik ini disampaikan oleh para pakar energi dan ekonomi melalui berbagai media pada awal Maret 2026.
