Sebuah laporan terbaru dari Glassdoor mengungkapkan pergeseran signifikan dalam pandangan generasi Z terhadap dunia kerja, di mana mayoritas dari mereka tidak lagi menganggap posisi manajerial sebagai tujuan karier utama. Survei terhadap lebih dari 1.000 profesional di Amerika Serikat (AS) menunjukkan 68 persen responden Gen Z mengaku tidak akan mengejar posisi manajemen jika bukan karena gaji atau jabatan.
Fenomena “Career Minimalism”
Fenomena ini disebut Glassdoor sebagai career minimalism, sebuah pendekatan karier yang menempatkan pekerjaan utama sebagai sarana stabilitas finansial. Sementara itu, ambisi dan passion mereka disalurkan di luar jam kerja, termasuk melalui side hustle yang kian menjanjikan.
Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor sekaligus pendiri Resume Official, menggambarkan perubahan ini. “Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel,” ujarnya. Sanner menambahkan bahwa fleksibilitas semacam itu lebih berkelanjutan, realistis, dan sesuai dengan realitas tempat kerja saat ini.
Gen Z dan Jabatan Manajerial: Antara Skeptis dan Realitas Data
Meskipun survei terbaru menunjukkan skeptisisme terhadap jabatan manajerial, data lain dari Glassdoor menghadirkan gambaran yang lebih kompleks. Daniel Zhao, Chief Economist Glassdoor, menyatakan bahwa laporan dua tahunan Worklife Trends menemukan Gen Z memasuki jajaran manajemen dengan tingkat yang sama seperti generasi sebelumnya.
Zhao merujuk pada konsep “conscious unbossing”, yaitu pelepasan kendali secara sadar, dan anggapan bahwa generasi muda enggan menjadi atasan karena tak lagi melihatnya sebagai jalur ideal. Namun, menurutnya, bukti dalam data tidak mendukung anggapan tersebut secara menyeluruh. Laporan itu juga mencatat bahwa milenial untuk pertama kalinya menjadi mayoritas manajer, sementara Gen Z menyumbang sekitar 10 persen dari total manajer.
“Manajemen bukanlah untuk semua orang, dan itu tidak apa-apa. Tetapi tetap saja, bidang ini dipandang sebagai jalur terbaik untuk menapaki tangga karier,” ucap Zhao. Ia menekankan pentingnya tidak menggeneralisasi seluruh generasi, namun mengakui bahwa banyak pekerja muda dan Gen Z merasa pasar kerja tidak menguntungkan mereka. “Sehingga beberapa jalur tradisional menuju kesuksesan terasa tidak terbuka seperti 10 hingga 20 tahun yang lalu,” sebutnya.
Survei tersebut mengindikasikan manajemen kini dipandang lebih sebagai langkah formal dalam tangga karier, bukan tujuan intrinsik. Pandangan ini selaras dengan temuan dua firma konsultan Big Four. EY menemukan Gen Z cenderung pragmatis dan memandang tonggak kehidupan tradisional dengan “skeptisisme yang beralasan”. KPMG juga mensurvei karyawan Gen Z mereka dan menemukan generasi ini haus akan mentorship serta kolaborasi di kantor, namun sekaligus menginginkan berakhirnya mentalitas kerja sembilan sampai lima yang kaku dan mendukung fleksibilitas.
Generasi “Side Hustle”
Jika Gen Z tidak sepenuhnya menolak ambisi, tetapi juga tak sepenuhnya tertarik pada manajemen korporasi, energi tersebut dialihkan ke mana? Laporan Glassdoor mengutip temuan Harris Poll yang menunjukkan 57 persen Gen Z saat ini memiliki side hustle atau pekerjaan sampingan, dibandingkan 48 persen milenial, 31 persen Gen X, dan 21 persen baby boomers.
Glassdoor menyebut Gen Z sebagai generasi yang benar-benar mengandalkan pekerjaan sampingan, di mana identitas pekerjaan berada di luar pekerjaan tradisional. Aktivitas ini menjadi wadah kreatif, kewirausahaan, atau bahkan aktivisme yang tidak bisa dipenuhi oleh pekerjaan utama. Popularitas pekerjaan jarak jauh juga tercermin dalam data LinkedIn pada 2024, di mana hingga Desember 2023, hanya 10 persen lowongan kerja yang bersifat remote, tetapi posisi tersebut menerima 46 persen dari seluruh lamaran yang masuk.
Manajemen dalam Perspektif Baru
Ketika Gen Z tetap memasuki posisi manajemen, pendekatan mereka dinilai berbeda. Glassdoor mencatat keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Sebanyak 58 persen manajer Gen Z dilaporkan mengurangi intensitas kerja pada musim panas, dibandingkan 39 persen rekan yang lebih tua. Selain itu, 31 persen pekerja mengharapkan jam kerja fleksibel dari manajer Gen Z.
“Gen Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini,” ujar Zhao dalam laporan tersebut. “Mereka bukannya menolak ambisi, mereka mengarahkannya ke jalur karier berkelanjutan yang memprioritaskan keamanan finansial dan kepuasan pribadi,” imbuhnya.
Dalam percakapannya dengan Fortune, Zhao menyebut terdapat banyak bukti bahwa pekerja merasa cemas, terlalu banyak bekerja, dan mengalami burnout. “Ini bukan karena malas,” tuturnya. Data yang ada menunjukkan Gen Z mengambil langkah rasional terhadap pasar kerja yang dianggap tidak selalu memberi imbalan setimpal. “Ini bukan karena pekerja tidak kapabel. Ini karena dalam kondisi seperti ini, banyak pekerja merasa tidak dihargai untuk level upaya dan performa yang mereka berikan,” terang Zhao.
Temuan Glassdoor menilai kritik terhadap Gen Z sebagai generasi malas atau terlalu menuntut tidak sepenuhnya menggambarkan realitas. Generasi ini disebut menetapkan batasan, mendiversifikasi portofolio profesional, dan menempatkan kesehatan mental di atas dorongan kenaikan jabatan tanpa henti. Mereka juga memandang kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang sekaligus ancaman, serta beradaptasi dengan perubahan cepat secara lincah dan skeptis.
Masa Depan Dunia Kerja
Glassdoor menulis, tren “career minimalism” bukan tentang bekerja lebih sedikit, namun tentang di mana pekerja menginvestasikan energi. Pendekatan ini dinilai sebagai gambaran masa depan dunia kerja yang lebih luas. Formula yang terlihat sederhana, pekerjaan stabil untuk keamanan finansial, side hustle untuk passion, serta batasan tegas demi keberlanjutan, mengubah definisi sukses profesional.
Dalam lanskap kerja yang terus berubah, munculnya career minimalism yang dipengaruhi nilai-nilai Gen Z berpotensi membentuk ulang cara orang mendefinisikan kesuksesan dan merasakan kepuasan. Profesionalisme tidak lagi identik dengan ambisi tanpa batas menuju puncak struktur organisasi, melainkan kemampuan menyeimbangkan stabilitas, fleksibilitas, dan pemenuhan diri di luar kantor. Data dan temuan tersebut menunjukkan bahwa pergeseran ini bukan semata-mata soal penolakan terhadap kerja keras, melainkan penyesuaian terhadap realitas pasar kerja yang dinilai semakin kompleks dan dinamis.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan Glassdoor yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026, dan dikutip dari Fortune.
