Finansial

GIMNI Ungkap Potensi Kematian Sawit Indonesia 2030, Dorong Pertanian Regeneratif untuk Kelestarian

Advertisement

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap masa depan perkebunan sawit nasional. Ia memprediksi seluruh tanaman sawit di Indonesia berpotensi mati pada tahun 2030. Kondisi ini dapat terjadi jika perkebunan hanya mengandalkan pupuk kimia tanpa menerapkan pendekatan pertanian regeneratif.

Ancaman Kematian Sawit Akibat Pupuk Kimia

Sahat Sinaga, yang juga Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia, menegaskan bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa upaya pemulihan tanah akan berdampak fatal. “Salah satu contoh adalah memang saya khawatir itu kalau kita tidak berbuat mungkin tahun 2030 sawit kita itu mati semua,” ujar Sahat dalam acara buka puasa bersama di Kuningan, Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Ia menganalogikan kondisi tanah perkebunan dengan tubuh seorang ibu yang terus melahirkan. “Enggak ada bedanya dengan tanah jadi harus ada regeneratif,” tambahnya, menjelaskan bahwa mineral tanah yang terus diserap tanaman sawit akan menyebabkan keropos jika tidak diregenerasi.

Pentingnya Pertanian Regeneratif dan Komposting

Pertanian regeneratif didefinisikan sebagai pendekatan cocok tanam yang berfokus pada pemulihan kesehatan tanah. Sahat menjelaskan bahwa regenerasi tanah dapat dilakukan melalui penggunaan kompos limbah organik atau komposting bio-organik fertilizer.

Praktik ini terbukti mampu menekan konsumsi pupuk kimia. Sebagai contoh, perkebunan sawit di Sabah, Malaysia, berhasil mengurangi penggunaan pupuk kimia dari 10 kilogram menjadi 5 kilogram per pohon. “Bagaimana caranya? Tanahnya disehatkan kembali remediasi dengan cara apa? Bio organik fertilizer dari mana? Dari biomassa diolah kembali komposting,” jelas Sahat.

Strategi Peningkatan Produktivitas dan Kolaborasi Internasional

Sahat Sinaga menekankan bahwa peningkatan produktivitas sawit tidak perlu dilakukan dengan menambah luasan lahan (ekstensifikasi). Sebaliknya, intensifikasi atau memaksimalkan lahan yang sudah ada menjadi kunci utama.

Advertisement

Pihaknya juga telah menyusun rencana strategis bersama China untuk mengimplementasikan pertanian regeneratif. Dalam kerja sama ini, sebanyak 42 persen dari biomassa sawit akan diolah kembali menjadi kompos organik.

Proyeksi Manfaat Ekonomi dari Regenerasi Lahan

Penerapan pertanian regeneratif diproyeksikan akan membawa dampak ekonomi yang signifikan. Sahat memperkirakan, jika metode ini dijalankan, pada tahun 2029, dengan luasan lahan sawit Indonesia yang mencapai 16 juta hektar, manfaat ekonomi yang dihasilkan bisa meningkat dua kali lipat.

“Prediksi by the year 2029 kalau ini dijalankan dengan lahan yang sama kita punya bisa regenerasi bisa generate kira-kira 120 billion dollar sekarang 60-an dollar kan? Dengan tidak menambah luas lho,” pungkas Sahat, menyoroti potensi peningkatan nilai ekonomi tanpa perlu ekspansi lahan.

Informasi mengenai potensi ancaman terhadap perkebunan sawit Indonesia dan solusi pertanian regeneratif ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, pada Rabu, 25 Februari 2026.

Advertisement