Harga Bitcoin Anjlok ke Level 64.000 Dollar AS: Tiga Faktor Utama Pemicu Tekanan Pasar Kripto
Harga Bitcoin dan aset kripto lainnya mengalami tekanan hebat pada awal Februari 2026. Mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini kini diperdagangkan di bawah level 80.000 dollar AS dalam sepekan terakhir.
Pada sesi perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu Amerika Serikat, Bitcoin sempat menyentuh level 62.303 dollar AS atau sekitar Rp1,05 miliar. Angka ini merupakan posisi terendah sejak November 2024. Hingga Jumat (6/2/2026) pagi, harga terpantau bergerak di kisaran 64.500 dollar AS, menandakan penurunan nilai sekitar 23 persen dalam satu minggu.
Nominasi Ketua The Fed dan Kebijakan Moneter Ketat
Salah satu pemicu utama merosotnya harga Bitcoin adalah penguatan signifikan dollar AS yang didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter ketat. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell pada akhir Januari lalu.
Kevin Warsh dikenal memiliki pandangan hawkish, yang cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Kondisi ini membuat biaya pinjaman menjadi mahal dan meningkatkan daya tarik dollar AS serta obligasi pemerintah sebagai instrumen yang lebih aman dibandingkan aset berisiko seperti kripto.
Ketidakpastian Regulasi dan Arus Keluar Dana Institusional
Faktor kedua adalah molornya pengesahan regulasi kripto di Amerika Serikat, khususnya Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act). RUU yang bertujuan memperjelas kewenangan antara SEC dan CFTC ini masih tertahan di Senat meski telah lolos dari DPR AS sejak Juli 2025.
Ketidakpastian hukum ini memicu kekecewaan investor institusional. Berdasarkan data CoinShares, terjadi arus keluar dana yang signifikan dari produk investasi kripto:
- Hampir 990 juta dollar AS keluar dari dana kripto global pada akhir Desember 2025.
- Sekitar 378 juta dollar AS ditarik hanya dalam satu hari pada pertengahan Januari 2026.
Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah
Kondisi pasar semakin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel. Pernyataan Presiden Donald Trump mengenai opsi aksi militer terhadap Iran memicu kekhawatiran global, yang diikuti dengan laporan pergerakan pasukan Amerika Serikat ke kawasan tersebut.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas dan uang tunai. Aset berisiko tinggi seperti Bitcoin menjadi instrumen pertama yang dilepas oleh pasar untuk mengamankan likuiditas.
Informasi mengenai dinamika pasar kripto ini dihimpun berdasarkan laporan dari berbagai sumber pasar keuangan dan pernyataan resmi otoritas terkait hingga awal Februari 2026.