Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada Senin (2/3/2026), imbas eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan inflasi global dan stabilitas ekonomi, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai nasib aset kripto, khususnya Bitcoin.
Kenaikan Harga Minyak Global
Pada pembukaan perdagangan Brent di London, harga minyak mencapai 80 dollar AS per barel, naik 13 persen dari harga penutupan Jumat (27/2/2026) sebesar 72,87 dollar AS per barel. Kenaikan ini terjadi setelah serangan Israel yang didukung AS ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Sebelumnya, pada awal pekan lalu, minyak mentah Brent masih diperdagangkan di angka 71,24 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diproduksi di AS, juga mengalami kenaikan sekitar 7,3 persen, dari 67 dollar AS menjadi sekitar 72 dollar AS per barel pada Senin pagi, menurut data dari grup CME.
Proyeksi Bitcoin di Tengah Gejolak
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi dan memperburuk sentimen risiko global. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat menekan pasar saham dan kripto secara bersamaan.
“Lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi dan memperburuk sentimen risiko global, yang dalam jangka pendek bisa menekan saham dan kripto sekaligus. Dengan korelasi tinggi terhadap pasar ekuitas, Bitcoin kemungkinan ikut terseret pada fase awal kepanikan,” ujar Calvin saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).
Data menunjukkan, dalam tujuh hari terakhir, korelasi Bitcoin terhadap indeks saham AS S&P 500 berada di kisaran 78 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa selama investor global masih memperlakukan Bitcoin sebagai aset berisiko, tekanan di pasar saham berpotensi merembet ke kripto.
Namun, Calvin menekankan bahwa skenario jangka menengah bisa berbeda. “Jika inflasi meningkat dan kepercayaan terhadap sistem keuangan tradisional terguncang, sebagian investor bisa mulai melihat Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan dan risiko mata uang,” paparnya.
Reaksi awal pasar menunjukkan kripto belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven klasik seperti emas. Saat serangan terjadi, nilai pasar kripto sempat terkoreksi tajam sebelum akhirnya pulih. Pemulihan Bitcoin yang naik sekitar 3,5 persen dalam 24 jam terakhir menunjukkan tekanan jual lebih didorong kepanikan jangka pendek ketimbang perubahan fundamental.
Arus masuk ETF spot Bitcoin yang mencapai sekitar 787 juta dollar AS dalam sepekan terakhir juga memberi sinyal bahwa investor institusional kembali menyerap suplai. Secara teknikal, level support penting Bitcoin berada di 65.000 dollar AS.
“Dengan support penting di sekitar $65.000 dan potensi retest area 69.000-70.000 dollar AS, jika arus masuk ETF berlanjut, arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh apakah konflik ini bersifat terbatas atau berkembang menjadi krisis energi global yang berkepanjangan,” beber Calvin.
Struktur Pasar Kripto yang Lebih Sehat
Menurut Calvin, pasar kripto saat ini jauh lebih siap menghadapi volatilitas dibanding beberapa bulan lalu. Likuidasi besar telah membersihkan posisi leverage berlebihan, sehingga risiko efek domino akibat margin call menjadi lebih kecil.
Indikator mingguan menunjukkan kondisi jenuh jual yang dalam sejarah pergerakan Bitcoin sering menjadi fase awal pemulihan. Dalam situasi seperti ini, jika tidak ada eskalasi besar lanjutan, Bitcoin berpotensi mengikuti pola historis “sell the rumor, buy the news”, yakni pulih setelah fase ketakutan ekstrem.
“Dari sisi struktur, pasar terlihat lebih siap dibanding beberapa bulan lalu. Likuidasi besar telah membersihkan posisi spekulatif berlebihan, sehingga risiko efek domino akibat margin call lebih kecil. Fear & Greed Index yang berada di zona extreme fear menunjukkan banyak pelaku pasar sudah defensif,” katanya.
Karakter Bitcoin yang diperdagangkan 24 jam selama tujuh hari menjadikannya sering berfungsi sebagai “katup tekanan” ketika pasar tradisional tutup. Volatilitas awal kerap terjadi di kripto sebelum pasar saham global menemukan keseimbangan baru.
Bitcoin sebagai Aset Makro Alternatif
Calvin memandang bahwa gejolak di Timur Tengah justru memperjelas dualitas Bitcoin. Emas masih menjadi tujuan utama flight to safety, dengan analis memperkirakan potensi kenaikan harga logam mulia jika konflik berlarut. Di sisi lain, Bitcoin menunjukkan daya pulih cepat setelah tekanan awal, serta didukung narasi penggunaan di negara-negara yang menghadapi sanksi.
“Ketahanan Bitcoin bukan terletak pada absennya volatilitas, melainkan pada kemampuannya menyerap guncangan dan pulih ketika sentimen stabil. Untuk saat ini, ia belum sepenuhnya menggantikan emas sebagai lindung nilai, tetapi semakin memperkuat posisinya sebagai aset makro alternatif,” lanjutnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.
