Finansial

IHSG Melonjak Respons Pembatalan Tarif Trump oleh MA AS, Analis Soroti Potensi Volatilitas Tinggi

Advertisement

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,76 persen ke level 8.334,54 pada pembukaan perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Penguatan ini terjadi menyusul euforia global setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif global yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Namun, di balik sentimen positif tersebut, ancaman tarif balasan hingga 15 persen dari Trump membuat pasar tetap siaga menghadapi potensi volatilitas tinggi.

Pembatalan Tarif dan Respons Pasar Global

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS memberikan harapan baru akan berkurangnya hambatan perdagangan global. Meski demikian, respons cepat Trump dengan menaikkan tarif menjadi 15 persen menandakan bahwa ketegangan belum benar-benar berakhir.

“Pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS memberikan harapan akan berkurangnya hambatan dagang. Namun, langkah balasan Presiden Trump yang menaikkan tarif menjadi 15 persen menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan belum berakhir,” ujar Azharys. Ia mencatat ada sinyal bahwa risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan AS masih menjadi faktor ketidakpastian utama.

Secara historis, IHSG memiliki korelasi positif dengan pergerakan indeks utama di Wall Street. Lonjakan indeks di pasar saham AS memicu fase risk-on di pasar global, di mana investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko di negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

“Kenaikan 0,7 persen pada pembukaan IHSG adalah bukti nyata bahwa investor domestik merespons optimisme tersebut,” papar Azharys. Wall Street sendiri ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026. Penguatan dipimpin oleh lonjakan saham perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Amazon.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 menguat 0,69 persen dan ditutup di level 6.909,51 poin. Nasdaq naik 0,90 persen ke posisi 22.886,07 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,47 persen menjadi 49.625,97 poin. Sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam S&P 500 mencatat kenaikan, dengan sektor layanan komunikasi memimpin penguatan 2,65 persen.

Ancaman Tarif Balasan dari Donald Trump

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa putusan MA AS mengurangi risiko kebijakan sepihak yang membayangi arus perdagangan internasional. Dengan voting 6-3, pengadilan memutuskan Trump telah melampaui kewenangannya dengan menggunakan Undang-Undang Darurat untuk memberlakukan tarif resiprokal.

Pengadilan tidak memberikan informasi lebih jelas sejauh mana pemangku kepentingan memiliki hak untuk mengembalikan dana, sehingga permasalahan tersebut akan diberikan kepada pengadilan yang lebih rendah. Jika diizinkan, pengembalian dana mampu mencapai 170 miliar dollar AS atau lebih dari setengah pendapatan total dari tarif Trump.

Advertisement

“Apakah Trump menyerah? Tentu saja tidak. Dia mengatakan bahwa dirinya akan mencari beberapa alternatif perangkat hukum yang dapat digunakan untuk mengenakan kembali tarif. Yang menarik adalah, tentu saja Uni Eropa, Kanada, Mexico, dan Tiongkok akan tertawa paling kencang, karena sebelumnya merekalah yang ditusuk dari belakang oleh Trump,” ujar Nico.

Nico memandang putusan pengadilan berpotensi mengurangi tarif yang sebelumnya diberikan oleh Trump dari 13,6 persen menjadi 6,5 persen. Namun, tarif terhadap baja, aluminium, dan mobil diberlakukan dengan undang-undang yang berbeda, sehingga tidak terpengaruh secara langsung.

Meskipun demikian, volatilitas pasar dinilai masih akan tetap tinggi. Trump disebut tengah menyiapkan alternatif perangkat hukum untuk tetap mengenakan tarif impor sebesar 10 persen dalam waktu dekat. “Trump berencana untuk memberlakukan tarif impor tetap sebesar 10 persen pada barang-barang impor dalam beberapa hari mendatang sembari menyusun langkah lebih lanjut untuk memberlakukan tarif yang lebih permanen,” ucap Nico.

Trump dipastikan akan terus maju, meskipun hampir 1.000 perusahaan menentang tarif tersebut. Ia akan menggunakan bea masuk berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974 yang memberikan Presiden kemampuan untuk memutuskan sepihak untuk mengenakan tarif. “Kapan penerapan tarif baru akan diberlakukan? Trump mengatakan akan berlaku tiga hari lagi. Untuk sementara, tarif 10 persen akan berlaku untuk semua negara yang memiliki perjanjian perdagangan sementara,” lanjutnya.

Selain Pasal 122, Trump juga akan menggunakan Pasal 301 dan 232, di mana sebelumnya ia telah menggunakan tarif tersebut untuk ekspor, mobil, dan logam dari Tiongkok. Apabila ia tetap memberlakukan tarif impor global sebesar 10 persen, maka tarif efektif Amerika berpotensi naik dari 13,6 persen menjadi 16,5 persen atau justru berpotensi turun menjadi 11,4 persen.

Analisis Dampak dan Proyeksi Pasar

“Belum ada hitungan yang jelas dari kami maupun Bloomberg terkait hal tersebut. Menurut pandangan kami, apa yang terjadi saat ini, akan membuat ketidakpastian di pasar mengenai tarif dan tindakan sesuka hati Trump akan menjadi berkurang,” kata Nico. Dalam kondisi tersebut, volatilitas akan mengalami kenaikan, terutama terjadi sebelum Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada Selasa malam, di mana ia akan fokus terhadap perekonomian Paman Sam.

Hal ini dipandang memberikan kesempatan bagi dunia untuk mengembalikan keadaan seperti semula, tanpa adanya tindakan di luar batas seperti sebelumnya dilakukan oleh Trump sendiri. Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi dari para analis pasar dan laporan media keuangan terkemuka.

Advertisement