Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat terbatas pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Proyeksi ini muncul setelah indeks ditutup melemah 0,3 persen ke level 8.271 pada perdagangan Jumat kemarin, didorong oleh sentimen positif dari ranah global dan domestik.
Proyeksi IHSG dan Sentimen Pasar
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 8.200 dan resistance 8.360. Sentimen eksternal yang mendukung penguatan ini salah satunya berasal dari keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif global yang diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump. Putusan dengan voting 6-3 ini dinilai mampu mengurangi risiko kebijakan sepihak yang selama ini membayangi arus perdagangan internasional.
Meskipun pengadilan tidak memberikan informasi lebih jelas mengenai hak pemangku kepentingan untuk mengembalikan dana, permasalahan tersebut akan diserahkan kepada pengadilan yang lebih rendah. Jika diizinkan, pengembalian dana berpotensi mencapai 170 miliar dollar AS, atau lebih dari setengah total pendapatan dari tarif Trump.
“Apakah Trump menyerah? Tentu saja tidak. Dia mengatakan bahwa dirinya akan mencari beberapa alternatif perangkat hukum yang dapat digunakan untuk mengenakan kembali tarif. Yang menarik adalah, tentu saja Uni Eropa, Kanada, Mexico, dan Tiongkok akan tertawa paling kencang, karena sebelumnya merekalah yang ditusuk dari belakang oleh Trump,” ujar Nico dalam analisis hariannya.
Putusan pengadilan tersebut berpotensi mengurangi tarif yang sebelumnya diberikan Trump dari 13,6 persen menjadi 6,5 persen. Namun, tarif terhadap baja, aluminium, dan mobil diberlakukan dengan undang-undang yang berbeda, sehingga tidak terpengaruh secara langsung.
Meski demikian, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi. Trump disebut tengah menyiapkan alternatif perangkat hukum untuk tetap mengenakan tarif impor sebesar 10 persen dalam waktu dekat, yang berpotensi menjaga tensi pasar global tetap fluktuatif.
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Jadi Penopang Domestik
Dari sisi domestik, data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV-2025 yang mencatat surplus 6,1 miliar dollar AS menjadi faktor penopang tambahan. Surplus ini mencerminkan ketahanan eksternal yang tetap solid di tengah dinamika global.
Surplus NPI terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus, meskipun transaksi berjalan masih mengalami defisit yang relatif rendah. Transaksi berjalan tercatat defisit sebesar 2,5 miliar dollar AS (0,7 persen dari PDB) pada kuartal IV-2025, setelah pada kuartal III-2025 membukukan surplus 4,0 miliar dollar AS (1,1 persen dari PDB).
“Secara keseluruhan capaian NPI tersebut mendukung ketahanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika perekonomian global yang berpotensi mempengaruhi prospek NPI, serta memperkuat respons bauran kebijakan, yang didukung sinergi erat dengan pemerintah dan otoritas terkait menjaga ketahanan eksternal,” papar Bank Indonesia.
Untuk tahun 2026, kinerja NPI diperkirakan tetap baik, dengan defisit transaksi berjalan yang terjaga rendah dalam kisaran 0,1 persen hingga 0,9 persen dari PDB.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Berikut adalah rekomendasi saham dari dua sekuritas yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia:
Pilarmas Investindo Sekuritas
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Ditutup di harga Rp 1.810 per saham. Saham ini memiliki level support di Rp 1.760 dan resistance di Rp 1.950, dengan target kenaikan di Rp 1.940.
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS): Tercatat di harga Rp 2.190 per saham. Level support berada di Rp 2.120 dan resistance di Rp 2.270, dengan target harga Rp 2.250.
- PT XL Axiata Tbk (EXCL): Berada di harga Rp 3.120 per saham. Support terdekat di Rp 2.860 dan resistance di Rp 3.440, dengan target harga Rp 3.410.
MNC Sekuritas
- PT Blue Bird Tbk (BIRD): Ditutup pada harga Rp 1.750 per saham dengan rekomendasi spec buy. BIRD saat ini berada pada bagian wave (v) dari wave [i], yang mengindikasikan potensi menguat.
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Berada di harga Rp 1.060 per saham dan direkomendasikan buy on weakness. BRMS tengah berada pada bagian wave ii dari wave (c) dari wave [b], yang mencerminkan fase koreksi dalam tren yang lebih besar. Kondisi ini dinilai membuka peluang akumulasi bertahap saat harga melemah.
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Ditutup di harga Rp 6.900 per saham. INCO disebut berada pada bagian wave [iv] dari wave 5, yang berarti sedang mengalami fase korektif sebelum potensi melanjutkan penguatan.
- PT PAM Mineral Tbk (NICL): Berada di harga Rp 1.200 per saham dengan rekomendasi buy on weakness. NICL saat ini berada pada bagian wave B dari wave (B), yang mengindikasikan fase koreksi dalam pola yang lebih besar.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Informasi mengenai proyeksi IHSG dan rekomendasi saham ini disampaikan berdasarkan analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas dan MNC Sekuritas pada Senin, 23 Februari 2026.
