Finansial

IHSG Sesi I Terkoreksi 1,60 Persen ke 8.103, Jeffrey Hendrik: Investor Wajib Rasional Hadapi Gejolak Global

Advertisement

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi pertama perdagangan Senin (2/3/2026) ditutup di zona merah, terkoreksi 1,60 persen ke level 8.103,718. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, mendorong PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengimbau para investor agar tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan investasi.

Pergerakan IHSG Sesi Pertama

Pada penutupan sesi pertama, IHSG kehilangan 131,767 poin. Indeks sempat dibuka di posisi 8.092,905 dan mencapai titik tertinggi 8.133,692 sebelum tekanan jual mendominasi, menyeret indeks ke level terendah 8.039,508.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume 33,272 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 16,614 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2.184.734 kali, namun tekanan jual terlihat jelas dengan 645 saham melemah, berbanding 110 saham menguat, dan 62 saham stagnan.

Kapitalisasi pasar BEI juga ikut terdampak, menyentuh angka Rp 14.549 triliun, seiring dengan pelemahan indeks.

Imbauan BEI di Tengah Gejolak Global

Eskalasi perang antara Iran dan Israel menjadi salah satu pemicu utama gejolak di pasar keuangan global, yang turut menekan pergerakan pasar modal Indonesia. Menanggapi situasi ini, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menekankan pentingnya sikap tenang dan rasional bagi investor.

Advertisement

Jeffrey menjelaskan bahwa gejolak pasar dalam situasi seperti ini umumnya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko. Oleh karena itu, fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.

Ia menggarisbawahi pentingnya investor untuk tetap berpegang pada analisis fundamental, termasuk kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, serta posisi utang emiten. Keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada kepanikan atau spekulasi sesaat, melainkan pada perhitungan yang matang.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami mengimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey kepada wartawan pada Senin ini.

Jeffrey menambahkan, “Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor.”

Informasi lengkap mengenai pergerakan pasar modal dan imbauan investasi ini disampaikan melalui pernyataan resmi Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, yang dirilis pada Senin (2/3/2026).

Advertisement