Finansial

IHSG Tertekan Konflik Global dan Kebijakan Sawit Domestik: Analis Ungkap Risiko Pelemahan Pasar

Advertisement

IHSG diperkirakan akan bergerak melemah dengan volatilitas tinggi pada perdagangan Senin, 02 Maret 2026. Tekanan utama datang dari eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat, serta kebijakan kenaikan tarif pungutan ekspor kelapa sawit di dalam negeri.

Dampak Konflik Geopolitik Terhadap Pasar Global

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran diperkirakan masih akan berlanjut, meskipun Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas. Selain eskalasi militer, pasar juga mencemaskan stabilitas distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

Kawasan Asia diketahui membeli lebih dari 80 persen minyak mentah yang diproduksi Timur Tengah, dengan sekitar 90 persen dari volume tersebut melewati Selat Hormuz. China sendiri membeli sekitar 14 persen minyak mentahnya dari Iran, dan sektor plastik di negara tersebut sangat bergantung pada pasokan Iran.

Saat ini, beberapa armada kapal dilaporkan terhenti, meningkatkan risiko gangguan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent tercatat naik ke level 72,87 dollar AS per barel, sementara minyak WTI menguat ke 67,02 dollar AS per barel. Nico Demus menambahkan, “Sejauh ini kenaikan masih relatif terkendali, namun tidak akan baik untuk jangka panjang. Beberapa proyeksi menyebut harga minyak berpotensi kembali ke 100 dollar AS per barel, yang tentu saja dapat memicu inflasi di kemudian hari.”

Untuk meredam kenaikan harga, OPEC+ sepakat mempercepat laju peningkatan produksi minyak. Organisasi tersebut akan menambah pasokan sebesar 206.000 barel per hari pada April mendatang, sekitar 1,5 kali lebih besar dibandingkan kenaikan 137.000 barel per hari pada Desember lalu. Namun, peningkatan produksi dinilai belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan apabila Selat Hormuz tidak dapat dilalui, dengan skenario terburuk harga minyak berpotensi melonjak hingga 108 dollar AS per barel.

Di sisi lain, pernyataan para pemimpin dunia turut mempertegas ketegangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemboman besar-besaran akan terus dilakukan sepanjang pekan ini atau selama diperlukan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyebut serangan terhadap Iran akan terus ditingkatkan dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam dan akan membalas serangan tersebut.

Pergeseran Investor ke Aset Safe Haven

Selain minyak, harga emas turut menguat ke level 5.278 dollar AS per ounce, meskipun masih di bawah rekor tertinggi 5.417 dollar AS per ounce pada 28 Januari 2026. Kenaikan emas ini mencerminkan pergeseran dana investor ke aset safe haven.

Nico Demus menilai pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dalam kondisi seperti ini dan melakukan re-alokasi portofolio untuk menjaga potensi imbal hasil. Saham berbasis emas dan energi dinilai berpeluang lebih baik, sementara obligasi juga berpotensi menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap instrumen yang lebih aman.

Kenaikan Tarif Pungutan Ekspor Kelapa Sawit

Di dalam negeri, pemerintah menaikkan tarif pungutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya mulai 2 Maret 2026. Kebijakan ini diatur melalui PMK Nomor 9 Tahun 2026 yang merevisi PMK Nomor 69 Tahun 2025 tentang tarif layanan BLU BPDP, dengan tujuan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat nilai tambah industri hilir sawit nasional.

Advertisement

Dalam beleid terbaru tersebut, tarif ekspor crude palm oil (CPO) naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen dari harga referensi. Tarif crude palm olein dan crude palm stearin meningkat dari 9,5 persen menjadi 12 persen. Sementara itu, tarif RBD palm olein naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen, dan RBD palm olein kemasan ≤25 kilogram naik dari 4,75 persen menjadi 7,25 persen.

Untuk pungutan berbasis tarif spesifik, bungkil inti sawit dinaikkan dari 25 dollar AS menjadi 30 dollar AS per metrik ton, sedangkan cangkang kernel sawit meningkat dari 3 dollar AS menjadi 5 dollar AS per metrik ton.

Kenaikan pungutan ini berpotensi meningkatkan penerimaan dana kelolaan BPDP yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program hilirisasi, peremajaan sawit rakyat, serta pembiayaan subsidi biodiesel. Namun, beban biaya ekspor yang lebih tinggi berisiko menekan margin eksportir dan mengurangi daya saing CPO Indonesia di pasar global, terutama ketika harga referensi berada pada level tinggi.

Dalam jangka pendek, tambahan beban tersebut juga berpotensi menekan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani apabila eksportir meneruskan kenaikan biaya ke rantai pasok, dengan tekanan margin diperkirakan berada di kisaran 3-5 persen. Sejumlah emiten perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menjadi perhatian pasar karena pendapatannya masih sangat bergantung pada penjualan CPO mentah.

Meski demikian, apabila dana yang dihimpun dikelola secara efektif untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat hilirisasi, kebijakan ini berpeluang memperbaiki struktur industri sawit nasional dalam jangka menengah hingga panjang serta meningkatkan nilai tambah domestik.

Rekomendasi Saham Pilihan

Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia:

  • PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tercatat berada di harga terakhir Rp 4.500 per saham. Level support terdekat berada di 4.320, sementara resistance di 4.950. Saham ini memiliki target kenaikan Rp 4.930.
  • PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diperdagangkan pada harga Rp 2.380 per saham. Support berada di 2.260 dan resistance di 2.490, dengan target harga Rp 2.450.
  • PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) tercatat di Rp 1.055 per saham. Support berada di 1.020 dan resistance di 1.130, dengan target harga Rp 1.120.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Informasi lengkap mengenai analisis pasar dan rekomendasi saham ini disampaikan melalui analisa harian Pilarmas Investindo Sekuritas yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.

Advertisement