Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), Joao Angelo De Sousa Mota, memastikan bahwa hingga Rabu, 25 Februari 2026, belum ada keputusan resmi untuk menunda impor 105.000 unit mobil dari India. Ia menyatakan akan segera mengomunikasikan rencana impor ini kepada pihak-pihak yang meminta penundaan, termasuk Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
“Dokumen dan kontrak (impor) ini, saya akan memintakan waktu kepada Pak Dasco untuk menyampaikan kepada beliau juga, karena mungkin selama ini beliau hanya mendengarkan dari satu sisi. Jadi sekarang saya pun akan mencoba mencari waktu beliau,” ujar Joao dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Klarifikasi Agrinas Mengenai Penundaan Impor
Joao menegaskan bahwa penolakan terhadap impor mobil ini berasal dari individu dan kelompok tertentu, bukan dari pemerintah maupun masyarakat luas. “Yang menolak ini siapa? Karena kami ini kan BUMN, pasti taat kepada pemerintah dan rakyat. Jadi kami hanya setia kepada negara dan rakyat, tidak kepada individu atau kelompok tertentu yang menolak,” katanya.
Meskipun demikian, Joao tidak menampik kemungkinan Agrinas akan menghentikan impor jika pemerintah nantinya memutuskan demikian. “Selama negara mendukung apa yang kami lakukan akan kami laksanakan, tapi kalau negara dan DPR mengatakan bahwa kami harus hentikan, kami hentikan dengan segala risikonya,” ucapnya.
Alasan Impor Kendaraan dari India
Pada kesempatan sebelumnya, Joao mengungkapkan bahwa pertimbangan utama Agrinas membeli kendaraan dari India adalah faktor harga yang lebih kompetitif dan keterbatasan kemampuan industri dalam negeri untuk pengadaan dalam jumlah besar. Ia menyebut harga pikap 4×4 di pasaran Indonesia relatif mahal.
Menurutnya, harga yang ditawarkan produsen India lebih efisien sehingga dapat menghemat penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Pertama masalah harga. Produk-produk yang ada, baik dari manapun yang men-supply pasar Indonesia, harganya kalau 4×4 sangat mahal,” ungkapnya saat ditemui pada Jumat (20/2/2026).
“Jadi dengan mengambil dari India, itu kita menjadi jalan tengah. Jadi adil untuk kita menggunakan biaya anggaran APBN ini secara bijak. Karena kita beli dengan harga yang hampir setengahnya lebih murah daripada produk-produk yang ada di pasaran Indonesia,” jelas Joao.
Selain itu, kapasitas produksi nasional dinilai belum mampu memenuhi pengadaan pikap 4×4 sebanyak 70.000 unit dalam kurun waktu yang ditetapkan Agrinas. Jika dipaksakan membeli dari pasar domestik, dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas distribusi komoditas lainnya. “Produksi mobil nasional kita juga sekarang ini cuma 70.000, kalau enggak salah. Kalau kita tambahkan lagi beli 70.000 dari pasar, yang ada itu stok sendiri tidak ada. Selain stoknya tidak ada, harganya mahal, nanti kita bisa memutus distribution yang lain gitu,” jelasnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026.
