Finansial

Indonesia Catat Surplus Perdagangan USD 41,05 Miliar, Perkebunan Ungkap Strategi Jaga Kinerja Ekspor Berkelanjutan

Advertisement

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor perkebunan Indonesia menunjukkan daya tahan dan daya dorong yang mengesankan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025 mencapai 269,84 miliar dollar AS, menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 41,05 miliar dollar AS. Komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, kopi, dan kelapa menjadi penopang penting ekspor nonmigas untuk devisa nasional.

Kinerja Ekspor 2025 dan Tren Harga Komoditas 2026

Capaian ekspor nonmigas pada 2025 yang mencapai 269,84 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 4.542 triliun, dengan surplus neraca perdagangan sebesar 41,05 miliar dollar AS (sekitar Rp 689,64 triliun), didorong oleh kombinasi kenaikan harga komoditas di pasar global dan upaya hilirisasi di dalam negeri. Momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat struktur industri perkebunan agar lebih tangguh dan berdaya saing.

Memasuki awal 2026, tren harga komoditas perkebunan memberikan sinyal positif. Harga referensi minyak sawit mentah (CPO) pada Januari 2026 tercatat 915,64 dollar AS per ton dan naik menjadi 918,47 dollar AS per ton pada Februari 2026, meningkat sekitar 0,31 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan global di tengah pasokan yang menurun akibat musim panen. Pemerintah menetapkan harga tersebut dengan merujuk pada Bursa Indonesia, Bursa Malaysia, dan Rotterdam.

Tren serupa terjadi pada kakao. Pada Februari 2026, harga referensi biji kakao ditetapkan sebesar 5.717,45 dollar AS per ton, naik hampir 1 persen dibanding bulan sebelumnya. Harga patokan ekspornya pun meningkat menjadi 5.350 dollar AS per ton. Salah satu faktor pendorongnya adalah tercatatnya kakao Indonesia di bursa internasional Bloomberg.

Dari sisi kebijakan, pemerintah menetapkan bea keluar CPO sebesar 10 persen, sekitar 91 dollar AS per ton berdasarkan harga Januari. Sementara itu, untuk kakao, bea keluar dan pungutan ekspor masing-masing sebesar 7,5 persen. Penguatan harga tersebut berdampak nyata pada nilai ekspor, dengan ekspor kakao Indonesia mencapai 2,65 miliar dollar AS sepanjang 2025, dan ekspor kopi sekitar 1,63 miliar dollar AS.

Hilirisasi dan Diversifikasi Pasar Kunci Peningkatan Nilai Tambah

Kenaikan nilai ekspor Indonesia tidak semata-mata dipicu oleh perbaikan harga komoditas global, tetapi juga oleh perubahan struktur ekspor yang semakin bernilai tambah melalui program hilirisasi. Pada komoditas kakao, ekspor tidak lagi didominasi biji mentah, melainkan produk olahan seperti cocoa butter, pasta kakao, dan cokelat jadi. Pergeseran ini menghadirkan nilai tambah signifikan, mendorong capaian ekspor kakao menembus 2,65 miliar dollar AS pada 2025.

Tren serupa terlihat pada komoditas kopi. Selain biji mentah, ekspor kopi olahan kini semakin berperan dalam menopang total nilai ekspor yang mencapai 1,63 miliar dollar AS. Permintaan global terhadap kopi spesialti dan produk premium terus meningkat, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Ini memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen bahan baku dan pemain penting dalam rantai pasok produk olahan berkualitas.

Dari sisi pasar tujuan, ekspor sawit Indonesia masih didominasi oleh India, China, Pakistan, dan Bangladesh, dengan India sebagai pembeli terbesar. Produk olahan kopi dan teh banyak mengalir ke Filipina, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Irak. Untuk kakao olahan, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tetap menjadi pasar utama berkat daya beli yang tinggi dan sistem perdagangan yang likuid. Diversifikasi pasar ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekspor nasional.

Advertisement

Pemerintah turut memastikan keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik. Salah satu kebijakan strategis adalah mempertahankan bea keluar 0 persen untuk produk RBD palm olein kemasan bermerek ukuran ≤25 kilogram. Kebijakan ini berlaku bagi 43 merek minyak goreng kemasan sesuai regulasi terbaru, bertujuan menjaga stabilitas harga eceran di dalam negeri sekaligus mendorong ekspor produk hilir.

Tantangan dan Strategi Keberlanjutan Sektor Perkebunan

Meski prospek 2026 terlihat positif, tantangan tetap perlu diantisipasi. Harga komoditas domestik masih mengikuti dinamika pasar global. Pada Februari 2026, harga kopi robusta di tingkat petani Subang tercatat sekitar Rp 87.000 per kilogram. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk golongan tertinggi bertahan di atas Rp 2.000 per kilogram, meski sempat melemah saat musim panen. Sementara harga kakao lokal tetap tinggi seiring tren global.

Kenaikan harga komoditas membawa angin segar bagi petani, namun akses ke pasar global kini semakin selektif dan menuntut standar yang lebih tinggi. Uni Eropa dan Amerika Serikat, misalnya, mewajibkan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO, RSPO, Fair Trade, dan Rainforest Alliance. Tanpa sertifikasi dan sistem ketertelusuran (traceability) yang kuat, produk Indonesia berisiko tersingkir dari rantai pasok global.

Selain standar keberlanjutan, tantangan juga datang dari sisi logistik. Fluktuasi tarif angkutan laut (freight rate) masih dipengaruhi dinamika geopolitik dan ketersediaan kontainer global. Pelabuhan utama seperti Belawan, Dumai, Pontianak, dan Tanjung Perak kini beroperasi lebih stabil dibanding masa pandemi, namun persoalan antrean, efisiensi bongkar muat, dan biaya logistik tetap menjadi pekerjaan rumah yang memengaruhi daya saing ekspor.

Menjaga momentum ekspor tidak cukup dengan mengandalkan harga komoditas yang sedang tinggi. Kepastian kebijakan menjadi kunci, seperti stabilitas tarif bea keluar 10 persen untuk CPO dan 7,5 persen untuk kakao, agar pelaku usaha dapat menyusun perencanaan bisnis secara lebih pasti. Percepatan hilirisasi, penguatan kelembagaan koperasi petani, serta perluasan akses sertifikasi harus berjalan beriringan sebagai fondasi daya saing jangka panjang.

Informasi lengkap mengenai kinerja sektor perkebunan ini disampaikan melalui data resmi Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perdagangan.

Advertisement