Perusahaan ritel perabot rumah tangga asal Swedia, IKEA, resmi merilis hasil studi global bertajuk IKEA Sleep Report 2025. Laporan ini merupakan salah satu penelitian terbesar mengenai kebiasaan tidur masyarakat dunia yang melibatkan lebih dari 55.221 responden di 57 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan masyarakat yang paling menganggap tidur sebagai sebuah kenikmatan atau hobi.
Daftar Negara Paling Hobi Tidur di Dunia
Berdasarkan data IKEA Sleep Report 2025, rata-rata durasi tidur global tercatat selama 6 jam 40 menit, namun mayoritas responden menginginkan waktu istirahat hingga 8 jam. Hal ini mengindikasikan adanya kekurangan waktu tidur sekitar 1 jam 20 menit setiap malamnya. Di tengah fenomena tersebut, terdapat lima negara yang masyarakatnya paling menyukai aktivitas tidur:
- Indonesia: 73 persen
- Thailand: 71 persen
- Filipina: 68 persen
- Singapura: 66 persen
- Mesir: 65 persen
Faktor Hubungan Keluarga dan Kebahagiaan
Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap tidur dikaitkan dengan nilai-nilai sosial yang kuat, terutama hubungan dengan keluarga. Pendiri The Sleep Scientist, Dr. Sophie Bostock, menjelaskan bahwa koneksi sosial dan komunitas membantu membangun rasa kebersamaan serta tujuan hidup yang lebih bermakna bagi masyarakat Indonesia.
Selain faktor keluarga, kondisi emosional dan rasa bahagia juga berdampak positif terhadap kualitas tidur. Studi ini mencatat bahwa hampir 70 persen orang setuju bahwa tidur adalah salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup. Angka ini bahkan mencapai 74 persen pada kelompok mahasiswa dan orang tua, serta 75 persen pada pekerja sif malam.
Kualitas Tidur vs Kuantitas Tidur
Meski memuncaki daftar negara paling hobi tidur, Indonesia bukan merupakan negara dengan kualitas tidur terbaik. Predikat kualitas tidur terbaik dipegang oleh Mainland China dengan rata-rata durasi tidur lebih dari 7 jam sehari. Sementara itu, Mesir mencatatkan persepsi kualitas tidur tertinggi dengan 64 persen responden merasa tidur mereka berkualitas baik.
Di sisi lain, Norwegia dan Amerika Serikat dilaporkan sebagai negara dengan kualitas tidur paling rendah atau paling banyak mengalami gangguan tidur. Beberapa hambatan utama yang memengaruhi kualitas istirahat secara global meliputi:
- Stres, kecemasan, dan kecenderungan berpikir berlebihan (overthinking).
- Penggunaan ponsel atau perangkat elektronik di kamar tidur yang dialami oleh 72 persen responden.
- Gangguan medis, di mana 1 dari 5 orang dilaporkan menggunakan obat tidur.
Pengaruh Faktor Ekonomi terhadap Kualitas Istirahat
IKEA Sleep Report 2025 juga menyoroti hubungan antara tingkat pendapatan dengan kualitas tidur. Tidur yang berkualitas sering kali menjadi sebuah kemewahan bagi kelompok ekonomi tertentu. Orang dengan penghasilan lebih tinggi cenderung memiliki tidur yang lebih baik dibandingkan mereka yang berpenghasilan rendah.
Pengamat perilaku tidur, Vanessa Hill, menambahkan bahwa kelompok yang rentan secara finansial sering menghadapi kendala teknis seperti waktu perjalanan kerja yang lebih panjang, memiliki lebih dari satu pekerjaan, hingga jam kerja yang sangat panjang. Hal ini menyebabkan 27 persen orang yang tidak aman secara finansial sering terbangun lebih dari dua kali setiap malam.
Informasi lengkap mengenai hasil studi kebiasaan tidur global ini disampaikan melalui laporan resmi IKEA Sleep Report 2025 yang dirilis pada Februari 2026.
