Kesepakatan dagang resiprokal antara Amerika Serikat dan Indonesia yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 19 Februari 2026 disambut positif oleh berbagai pelaku usaha di Amerika. Perjanjian ini secara signifikan menghapus hambatan tarif atas lebih dari 99 persen produk AS yang akan masuk ke pasar Indonesia.
Asosiasi industri dan pertanian di AS menilai bahwa akses ke pasar Indonesia, yang memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa, akan secara langsung mendorong ekspor dan permintaan produk mereka.
Dukungan Kuat dari Industri Susu dan Daging AS
Presiden dan CEO National Milk Producers Federation, Gregg Doud, menegaskan pentingnya Indonesia sebagai pasar bagi peternak susu AS. “Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan menjadi pasar krusial bagi peternak susu Amerika Serikat,” ujar Doud dalam siaran pers di laman USTR, Jumat (27/2/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Duta Besar Greer dan tim USTR yang berhasil mengamankan perluasan akses, yang diyakini akan langsung meningkatkan permintaan produk susu AS.
Senada, Presiden dan CEO U.S. Dairy Export Council, Krysta Harden, menyatakan bahwa perjanjian ini memperkuat hubungan yang terus berkembang dengan pemerintah dan industri susu Indonesia. “Kesepakatan ini menegaskan kemajuan tersebut dan memposisikan industri susu AS sebagai mitra yang andal dalam mendukung sektor susu dan target gizi Indonesia,” kata Harden.
Dari sektor daging, Presiden National Cattlemen’s Beef Association, Gene Copenhaver, menyoroti peluang besar di pasar daging halal Indonesia. “Dengan kesepakatan ini, produsen sapi Amerika kini memiliki akses ke negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, pasar daging sapi halal terbesar, dan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan profitabilitas,” ucap Copenhaver.
Presiden dan CEO U.S. Meat Export Federation, Dan Halstrom, menambahkan bahwa kesepakatan tersebut menghapus berbagai hambatan dagang. Ia menyebut adanya komitmen pembelian tahunan sebesar 50.000 metrik ton, dengan nilai ekspor yang dapat mencapai 400 juta dollar AS hingga 500 juta dollar AS dalam waktu dekat setelah implementasi. Nilai ini setara sekitar Rp 6,72 triliun hingga Rp 8,40 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.798 per dollar AS.
Halstrom juga mengonfirmasi bahwa hambatan lisensi impor dan pembatasan persetujuan pabrik untuk produk daging babi AS akan dihapus melalui kesepakatan ini.
Potensi Besar di Sektor Bioenergi dan Digital
Sektor bioenergi juga melihat peluang signifikan dari kebijakan campuran etanol di Indonesia. CEO Growth Energy, Emily Skor, menyatakan bahwa penerapan campuran etanol 10 persen secara nasional di Indonesia berpotensi membuka pasar sebesar 900 juta galon bagi produsen dan petani Amerika.
Presiden dan CEO Renewable Fuels Association, Geoff Cooper, memperkirakan potensi permintaan etanol Indonesia dapat mencapai sekitar 1 miliar galon. Ia berharap kebijakan impor Indonesia akan memberi ruang bagi etanol AS untuk menutup kekurangan pasokan domestik.
Dukungan serupa datang dari sektor digital. Senior Vice President Global Policy Business Software Alliance, Aaron Cooper, menyebut kesepakatan ini sebagai terobosan dalam perdagangan digital. “Ketentuan untuk menghapus tarif atas produk digital tak berwujud, menjamin arus data lintas batas, dan mendukung perpanjangan permanen moratorium bea masuk digital akan memperluas akses layanan digital dan mendukung adopsi teknologi,” ujar Cooper.
Sejumlah asosiasi industri di Amerika Serikat secara kolektif menilai kesepakatan dagang ini membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi sektor pertanian, energi, dan layanan digital AS ke Indonesia. Saat ini, para pelaku usaha tengah menantikan implementasi teknis dari perjanjian tersebut.
Informasi lengkap mengenai kesepakatan ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.
