Finansial

Industri Herbal Lokal Soroti Rendahnya Literasi Konsumen, Ungkap Tantangan Jangka Panjang

Advertisement

Minat masyarakat Indonesia terhadap produk herbal terus meningkat, didorong pergeseran gaya hidup dan kesadaran kesehatan preventif. Namun, di balik tren positif ini, industri herbal lokal menghadapi tantangan serius berupa rendahnya literasi konsumen terhadap produk berbasis bahan alami.

Kesenjangan Pemahaman Konsumen

Data Profil Statistik Kesehatan 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kecenderungan masyarakat memanfaatkan produk kesehatan non-medis. Namun, data ini juga menyoroti kesenjangan pemahaman konsumen terkait klasifikasi, fungsi, serta batasan penggunaan produk herbal.

Pemegang jenama Kutus Kutus, Fazli Hasniel, pada Rabu (25/2/2026) menjelaskan bahwa banyak masyarakat masih menyamakan produk herbal dengan obat medis. “Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” ujar Fazli.

Dampak pada Industri dan Konsumen

Rendahnya literasi konsumen menyebabkan pasar herbal berkembang tidak merata. Fazli Hasniel menyoroti bahwa produk dengan klaim berlebihan sering lebih cepat menarik perhatian, sementara pelaku usaha yang mengedukasi menghadapi tantangan komunikasi.

Situasi ini diperparah dengan maraknya produk herbal tanpa informasi memadai, menyulitkan konsumen awam membedakan produk aman dan terdaftar. Risiko salah penggunaan pun meningkat, berpotensi merugikan konsumen dan industri lokal.

“Industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa itu, pasar akan terus didominasi oleh narasi instan yang tidak berkelanjutan,” tegas Fazli.

Advertisement

Tantangan Strategis Jangka Panjang dan Solusi

Bagi pelaku industri herbal lokal, persoalan literasi konsumen merupakan tantangan strategis jangka panjang. Edukasi yang membutuhkan waktu dan konsistensi seringkali tidak memberikan dampak penjualan instan, namun dianggap sebagai fondasi utama keberlangsungan industri.

Fazli Hasniel menekankan bahwa produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan pengganti pengobatan medis. Pemahaman yang keliru sejak awal dapat merusak hubungan antara produk dan konsumen.

Di sisi regulasi, penguatan pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi krusial untuk melindungi konsumen dan mendorong persaingan sehat. Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan media diperlukan untuk memastikan pertumbuhan pasar herbal domestik yang berkualitas.

Informasi lengkap mengenai tantangan literasi konsumen produk herbal ini disampaikan melalui keterangan resmi pemegang jenama Kutus Kutus pada Rabu, 25 Februari 2026.

Advertisement