Timnas Iran, negara pertama yang memastikan lolos ke Piala Dunia 2026, dilaporkan tidak menghadiri rapat perencanaan turnamen yang digelar FIFA di Atlanta pekan ini. Ketidakhadiran delegasi Iran ini memicu pertanyaan besar mengenai partisipasi mereka dalam gelaran akbar sepak bola dunia yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada musim panas mendatang.
Situasi ini semakin kompleks di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang menewaskan pemimpin-pemimpin tertinggi negara tersebut termasuk Ayatollah Ali Khameini, menjadi latar belakang utama ketidakpastian ini.
Ketidakhadiran Iran di Rapat FIFA
Pertemuan perencanaan Piala Dunia 2026 merupakan ajang tiga hari yang diadakan oleh FIFA. Dalam acara tersebut, federasi-federasi nasional yang akan bermain di turnamen mengadakan serangkaian lokakarya dan pertemuan.
Pembahasan utama meliputi organisasi laga, fasilitas tim, serta hal-hal terkait komersial. Absennya Iran dari forum penting ini menimbulkan spekulasi luas mengenai kesiapan dan komitmen mereka.
Respons Presiden Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi isu partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 dengan pernyataan tegas. Saat ditanya mengenai hal tersebut, Trump menunjukkan ketidakpeduliannya.
“Saya benar-benar tidak peduli,” tutur Presiden Trump, seperti dikutip dari POLITICO. Ia melanjutkan, “Saya pikir Iran adalah negara yang sangat kalah. Mereka berjalan dengan sisa-sisa tenaga mereka.”
Ancaman Boikot dan Jadwal Potensial
Timnas Iran dijadwalkan akan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni di Los Angeles. Selanjutnya, mereka akan bertanding melawan Belgia pada 21 Juni dan Mesir pada 26 Juni di Seattle.
Jika kedua tim finis sebagai runner-up grup, Iran dan Amerika Serikat berpotensi bertemu pada 3 Juli di Dallas. Namun, setelah serangan udara di wilayah Iran, Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menyatakan keraguan terkait partisipasi timnya.
“Yang pasti, setelah serangan ini, kami tidak bisa diharapkan menatap Piala Dunia dengan harapan,” ujarnya kepada media olahraga Iran.
Kebijakan Visa dan Kekhawatiran Keamanan
Iran termasuk dalam daftar negara yang terdampak pembatasan perjalanan paling ketat yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Aturan tersebut memang memberikan pengecualian bagi tim dan staf pendukung Piala Dunia.
Namun, keputusan visa bagi pejabat atau perwakilan lain ditentukan kasus per kasus oleh Departemen Luar Negeri. Pada Desember lalu, tidak semua permohonan visa perwakilan Iran untuk menghadiri undian Piala Dunia di Washington disetujui.
Iran sempat mengancam memboikot acara tersebut sebelum FIFA melakukan mediasi. Direktur Satuan Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia, Andrew Giuliani, menyatakan bahwa pertimbangan keamanan akan menjadi faktor utama dalam keputusan pemerintah.
“Kami ingin Piala Dunia yang aman dan terlindungi. Kami tentu ingin tim hadir dan bermain, tetapi akan keliru jika kami hanya membuka perbatasan tanpa mempertimbangkan situasi yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi FIFA, Presiden Amerika Serikat, dan Federasi Sepak Bola Iran.
