Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait potensi boikot Tim Nasional Iran pada Piala Dunia 2026. Hal ini menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel, serta tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sinyal Boikot dari Federasi Sepak Bola Iran
Mehdi Taj secara eksplisit memberikan sinyal bahwa Iran mungkin tidak akan memberangkatkan tim nasionalnya ke Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes atas situasi geopolitik yang memanas. Pernyataan ini disampaikan kepada media Varzesh3.
“Dengan apa yang terjadi hari ini dan dengan serangan dari Amerika Serikat, sepertinya kita tidak bisa menantikan Piala Dunia, tetapi para petinggi olahraga lah yang harus memutuskan hal itu,” komentar Mehdi Taj.
Timnas Iran sendiri tergabung di Grup G dan dijadwalkan akan menghadapi Belgia, Mesir, serta Selandia Baru. Menariknya, ketiga pertandingan Iran akan berlangsung di Amerika Serikat, dengan dua laga di Inglewood, California, dan satu di Seattle.
Kekhawatiran Duta Besar dan Ancaman Konflik Berkelanjutan
Duta Besar Iran untuk Kenya, Gholampour, turut menyuarakan kekhawatirannya. Ia mengakui bahwa konflik yang sedang berlangsung dapat membahayakan partisipasi tim nasional Iran di turnamen tersebut.
“Kita tidak tahu persis apa yang akan terjadi dan, jika situasi ini berlanjut, itu juga akan membahayakan partisipasi tim nasional kita,” jelas Gholampour dalam konferensi pers di Nairobi.
Situasi semakin rumit dengan indikasi dari Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa serangan AS terhadap Iran dapat berlanjut hingga empat minggu ke depan, tanpa ada tanda-tanda mereda.
Sikap FIFA dan Potensi Solusi Logistik
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) terus memantau situasi global sebelum mengambil keputusan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memberikan penjelasan rinci.
“Kami akan memantau perkembangan seputar semua isu di seluruh dunia,” kata Grafstrom, dilansir dari Yahoo!Sports pada Minggu (1/3/2026), dalam pertemuan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional di Cardiff, Wales.
Grafstrom menambahkan, “Kami telah melakukan pengundian babak final di Washington di mana semua tim berpartisipasi, dan fokus kami adalah pada Piala Dunia yang aman dengan semua tim berpartisipasi. Kami akan terus berkomunikasi seperti biasa dengan tiga pemerintah (tuan rumah) seperti yang selalu kami lakukan dalam kasus apa pun. Semua orang akan aman.”
Berdasarkan aturan FIFA yang terbit pada tahun 2025, FIFA memiliki hak untuk melakukan pengaturan ulang, termasuk kemungkinan memindahkan pertandingan Iran ke Meksiko atau Kanada sebagai tuan rumah lainnya. Hal ini dapat terjadi jika ada situasi mendesak yang memengaruhi keselamatan dan keamanan para pemain.
“FIFA berhak untuk membatalkan, menjadwal ulang, atau memindahkan satu atau lebih pertandingan (atau seluruh Piala Dunia 2026) karena alasan apa pun atas kebijakannya sendiri, termasuk sebagai akibat dari keadaan kahar atau karena masalah kesehatan, keselamatan, atau keamanan,” demikian kutipan dari Sportbible.
Meskipun demikian, dengan waktu tiga bulan tersisa sebelum turnamen, pemindahan lokasi pertandingan akan menjadi tantangan logistik besar bagi penyelenggara dan dapat berdampak pada sponsor serta stasiun televisi.
Opsi Penggantian Tim Jika Iran Mundur
Opsi lain yang bisa diputuskan FIFA adalah mengizinkan Iran untuk mundur dari Piala Dunia 2026, dan posisinya digantikan oleh negara lain. Aturan FIFA menyatakan:
“Jika Asosiasi Anggota Peserta mana pun menarik diri dan/atau dikeluarkan dari Piala Dunia FIFA 26, FIFA akan memutuskan masalah tersebut atas kebijakannya sendiri dan mengambil tindakan apa pun yang dianggap perlu. FIFA dapat memutuskan untuk mengganti Asosiasi Anggota Peserta yang bersangkutan dengan asosiasi lain.”
Sebagai wakil zona Asia (AFC), Iran seharusnya digantikan oleh tim dari konfederasi yang sama untuk menjaga kuota benua. Penentuan tim pengganti tidak dapat dilakukan secara acak, melainkan disesuaikan dengan hasil kualifikasi terakhir. Spekulasi menyebutkan Uni Emirat Arab (UEA) atau Irak dapat menjadi kandidat pengganti jika mereka lolos dari babak play-off antarbenua.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Federasi Sepak Bola Iran dan FIFA yang dirilis pada awal Maret 2026.
