Jude Bellingham meminta suporter timnas Inggris mencintai tim apa adanya menjelang Piala Dunia 2026. Gelandang Real Madrid itu menilai Inggris kini datang dengan ekspektasi tinggi setelah serangkaian capaian penting dalam beberapa turnamen besar.
Inggris finis keempat di Piala Dunia 2018 dan mencapai perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar setelah kalah dari Prancis dalam laga ketat. Meski langkah mereka terhenti di delapan besar, penampilan The Three Lions saat itu tetap mendapat apresiasi.
Ekspektasi Tinggi untuk Inggris
Selain catatan di Piala Dunia, Inggris juga mencapai final dalam dua edisi Euro terakhir, meski berakhir sebagai runner-up. Namun, perjalanan di Euro 2024 justru diwarnai sorotan tajam karena tim dinilai bermain buruk walaupun tetap melaju hingga partai puncak.
Sentimen dari suporter saat itu juga disebut tidak bagus. Keraguan menyelimuti laju tim, termasuk kepada Bellingham yang dibebani harapan besar untuk menjadi pengangkat performa Inggris.
Pengalaman Euro 2024
Bellingham mengakui ada persoalan di luar lapangan yang memengaruhi suasana tim pada Euro 2024. Ia merasa situasi tersebut membuat kekompakan skuad tidak terjalin sebaik yang semestinya.
“Di Euro lalu, kami punya sejumlah hal yang agak salah di luar lapangan. Saya tak merasa grup ini terhubung sebaik yang semestinya untuk sejumlah alasan,” ungkapnya dikutip BBC.
Menurut Bellingham, besarnya ekspektasi publik ikut membentuk tekanan terhadap Inggris. Ia menilai pencapaian di Piala Dunia 2018 dan Qatar membuat tim datang ke turnamen berikutnya dengan status unggulan kuat.
“Ekspektasi punya peran di sana, kami tampil bagus di 2018 dan di Qatar (Piala Dunia 2022) dan ketika tiba ke turnamen itu, kami dilihat sebagai salah satu dari dua atau tiga tim yang seharusnya juara.”
Bellingham Soroti Cara Publik Menilai Tim
Bellingham mengatakan performa Inggris yang tidak konsisten membuat kemenangan terasa kurang dihargai. Ia menilai ada tuntutan untuk menang dengan meyakinkan, padahal ketangguhan juga menjadi bagian penting dari sepak bola turnamen.
“Kami tak bermain baik jadi meskipun kami menang, Anda tak merasa sesenang yang seharusnya. Memang harus ada elemen pantang menyerah dan tekad untuk menag, tapi sudah menjadi sifat alami sepakbola bahwa kemenangan lekas hilang dan kami harus sedikit lebih menghargai momen itu.”
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan seluruh pemain dalam tim. Menurut Bellingham, pengalaman dari turnamen sebelumnya menunjukkan penentu kemenangan tidak selalu datang dari nama yang paling dijagokan.
“Saya rasa kali ini dengan pengalaman-pengalaman itu, dan tahu, misalnya, bahwa orang yang mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia tak selalu orang yang Anda jagokan, jadi Anda mesti selalu siap. Semua orang harus merasa dicintai dan merasa jadi bagian besar dari tim. Untuk hal lainnya, yang penting menikmati saja,” imbuh Bellingham.
Pernyataan itu muncul ketika Inggris menatap Piala Dunia 2026 dengan keyakinan bahwa tim kini semakin matang. Di tengah ekspektasi besar, Bellingham menegaskan pentingnya dukungan suporter dan rasa memiliki bagi seluruh anggota skuad.
