Dinamika kebijakan dagang Amerika Serikat kembali menciptakan gelombang ketidakpastian di pasar global, termasuk aset kripto. Keputusan Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2026 yang membatalkan kebijakan tarif Presiden Donald Trump, diikuti rencana tarif baru sebesar 15 persen, membuat harga Bitcoin bergerak liar dan diprediksi sulit menembus level 80.000 dollar AS.
Dampak Putusan Mahkamah Agung AS dan Rencana Tarif Trump
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 20 Februari 2026 lalu langsung mengguncang pasar global. Pengadilan menilai kebijakan tarif sebelumnya tidak sah dan melampaui kewenangan konstitusional Presiden, yang praktis meruntuhkan fondasi strategi perdagangan Trump.
Pada fase awal, pasar kripto merespons positif dengan Bitcoin sempat melonjak hampir 2 persen dan menembus level di atas 68.000 dollar AS. “Pasar kripto sempat merespons positif pada awal pengumuman tersebut. Bitcoin tercatat naik hampir 2 persen dan menembus level di atas 68.000 dollar AS, sesaat setelah putusan diumumkan,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (27/2/2026).
Namun, sentimen positif tersebut tidak bertahan lama seiring pelaku pasar mulai menilai dampak yang lebih luas, termasuk potensi perubahan kebijakan fiskal dan ketidakpastian hukum lanjutan. Tekanan semakin meningkat ketika Trump mengumumkan rencana tarif global baru sebesar 15 persen.
Kombinasi ketidakpastian hukum dan ancaman eskalasi dagang mendorong pasar kembali ke mode risk-off, di mana investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. “Tekanan semakin kuat ketika Trump mengumumkan rencana tarif global baru sebesar 15 persen. Seiring meningkatnya ketegangan dagang dan risiko geopolitik, harga Bitcoin terkoreksi tajam hingga turun di bawah 63.000 dollar AS pada 24 Februari,” papar Calvin.
Analisis Teknis dan Tantangan Likuiditas Bitcoin
Secara teknikal, harga Bitcoin berulang kali tertahan di bawah area 70.000 dollar AS, menunjukkan resistensi yang kuat. Data dari Glassnode mencatat pemulihan harga sejak awal Februari kerap kehilangan momentum saat mendekati level tersebut.
Aksi ambil untung dan likuiditas yang relatif tipis membuat kenaikan mudah terhenti, bahkan realisasi laba bersih sekitar 5 juta dollar AS per jam sudah cukup memicu penolakan harga. “Bahkan realisasi laba bersih yang relatif kecil (sekitar di atas 5 juta dollar AS per jam) sudah cukup memicu penolakan harga di sekitar level itu, sehingga area 70.000 dollar AS hingga 80.000 dollar AS menjadi kisaran yang secara struktural sulit ditembus dalam kondisi likuiditas seperti sekarang,” beber Calvin.
Berdasarkan data CoinMarketCap yang dikutip pada Jumat siang ini, Bitcoin bergerak volatil dalam 24 jam terakhir dan masih berada dalam tekanan moderat. Pada pukul 13.20 WIB, harga Bitcoin tercatat di level 67.640,50 dollar AS atau melemah sekitar 1,01 persen.
Cadangan USDT Menipis, Ancaman Tekanan Jual Lebih Lanjut
Tekanan likuiditas juga tecermin dari data CryptoQuant yang mencatat cadangan USDT di bursa turun sekitar 9 miliar dollar AS dalam dua bulan terakhir, dari 60 miliar dollar AS menjadi 51,1 miliar dollar AS. Penurunan ini berpotensi mengurangi “bahan bakar” untuk reli kripto, mengingat USDT kerap menjadi sumber likuiditas utama untuk pembelian aset digital.
CryptoQuant menilai level 50 miliar dollar AS sebagai ambang kritis bagi cadangan USDT. Jika cadangan turun di bawah angka tersebut, support berikutnya berada di kisaran 44 miliar dollar AS.
“CryptoQuant menilai 50 miliar dollar AS sebagai ambang kritis, jika turun di bawahnya, support berikutnya sekitar 44 miliar dollar AS, dan penembusan level tersebut bisa memperbesar tekanan jual bukan hanya di BTC, tetapi juga aset besar lain seperti ETH dan XRP,” ungkap Calvin. Hal ini terutama terjadi bila dibarengi arus keluar dana dari produk ETF dan melemahnya aktivitas investor ritel maupun institusi.
Informasi lengkap mengenai dampak kebijakan dagang AS terhadap pasar kripto ini disampaikan melalui pernyataan CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.
