Finansial

Kecerdasan Buatan Ciptakan 1,3 Juta Pekerjaan Baru Global: LinkedIn Soroti Pergeseran Pasar Kerja

Advertisement

Kecerdasan buatan (AI) terbukti tidak hanya mengancam, tetapi juga membuka jutaan peluang kerja baru di seluruh dunia. Data terbaru dari LinkedIn, yang disorot oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada pertengahan Januari 2026, mengungkapkan bahwa AI telah menciptakan sekitar 1,3 juta pekerjaan baru secara global dalam dua tahun terakhir.

Fenomena ini terjadi di tengah lanskap pasar tenaga kerja global yang masih menghadapi perlambatan perekrutan, menunjukkan peran AI sebagai pendorong pertumbuhan di beberapa sektor ekonomi utama.

Perlambatan Perekrutan Global dan Kontribusi AI

Laporan global LinkedIn bertajuk Building a Future of Work That Works mencatat bahwa perekrutan secara umum masih di bawah level pra-pandemi. Ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter disebut sebagai faktor utama yang menekan aktivitas perekrutan di berbagai sektor.

Namun, data LinkedIn menegaskan bahwa AI bukanlah penyebab utama perlambatan ini, melainkan katalisator bagi penciptaan lapangan kerja baru yang berbasis teknologi. Dan Shapero, Chief Operating Officer LinkedIn, menyatakan, “AI sebenarnya menambah pekerjaan di pasar tenaga kerja global. Data kami menunjukkan lebih dari 1,3 juta peran baru, termasuk peran seperti AI Engineer, Forward-Deployed Engineer, dan Data Annotators, sebuah pertumbuhan yang signifikan dalam permintaan tenaga kerja berbasis keterampilan AI.”

Meski demikian, lebih dari 50 persen pekerja global dilaporkan sedang mencari pekerjaan baru pada tahun 2026. Ironisnya, hampir 80 persen dari mereka merasa belum siap menghadapi transformasi yang terjadi di pasar kerja akibat perkembangan teknologi ini.

Profil Pekerjaan Baru di Era AI

LinkedIn mengidentifikasi beberapa jenis pekerjaan yang mengalami pertumbuhan signifikan seiring dengan adopsi AI di berbagai industri. Pekerjaan-pekerjaan ini mencerminkan pergeseran kebutuhan pasar terhadap keahlian spesifik.

  • AI Engineer: Salah satu pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat, menunjukkan tingginya permintaan akan tenaga ahli yang mampu mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi AI.
  • Forward-Deployed Engineer: Profesional yang bertanggung jawab menerapkan solusi teknologi secara langsung di lokasi klien atau lapangan.
  • Data Annotators: Tenaga kerja yang berperan penting dalam menopang kualitas data untuk kebutuhan machine learning AI.

Kemunculan peran-peran ini menandai era “new-collar work“, di mana keterampilan praktis berbasis teknologi menjadi lebih krusial dibandingkan gelar formal atau klasifikasi pekerjaan tradisional.

Pergeseran Keterampilan dan Respons Pasar

Perkembangan AI juga memicu perubahan cepat dalam keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja. Keterampilan literasi AI kini menjadi persyaratan standar di banyak negara, bahkan untuk jenis pekerjaan non-teknis.

Di Amerika Serikat, permintaan akan keterampilan literasi AI meningkat hingga 70 persen secara tahunan. Fenomena ini juga memengaruhi perilaku pekerja; 53 persen pekerja di AS berencana mempelajari keterampilan AI dalam enam bulan ke depan, dan 48 persen meyakini AI akan mendukung pertumbuhan karier mereka.

Pergeseran ini menunjukkan bahwa kombinasi keterampilan manusia, seperti kreativitas, empati, dan penilaian, dengan kemampuan teknologi AI menjadi semakin dicari oleh para pemberi kerja.

Dinamika Pasar Kerja Global dan Peran Industri

Penciptaan lapangan kerja berbasis AI menunjukkan variasi geografis yang menarik. Meskipun perekrutan melambat di banyak ekonomi maju, negara-negara seperti India dan Uni Emirat Arab justru mencatat pertumbuhan perekrutan di atas 30 persen, menandakan adopsi teknologi digital yang kuat.

Advertisement

Laporan LinkedIn juga menyebutkan bahwa pekerjaan terkait AI tidak hanya terbatas pada sektor teknologi murni, tetapi tersebar di berbagai sektor ekonomi. Contohnya, peran yang mendukung infrastruktur digital, seperti pekerjaan terkait data center AI, telah menyumbang lebih dari 600.000 pekerjaan baru secara global.

Peran Industri dan Strategi Perusahaan

Pergeseran peran pekerjaan ini mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi perekrutan dan pengembangan bakat. Forum Ekonomi Dunia (WEF) menekankan bahwa di tengah pasar tenaga kerja yang kompetitif untuk keterampilan AI, perusahaan harus mengadopsi pendekatan baru dalam mencari dan mengembangkan talenta.

  • Melebarkan kriteria keahlian kandidat di luar gelar dan pengalaman tradisional.
  • Memanfaatkan alat berbasis AI untuk mempercepat proses perekrutan.
  • Meningkatkan strategi upskilling internal untuk membangun kapabilitas AI di dalam perusahaan.

Langkah-langkah ini krusial tidak hanya untuk menarik talenta baru, tetapi juga sebagai strategi retensi pekerja di tengah persaingan global. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tidak hanya menciptakan peran baru, tetapi juga mendefinisikan ulang cara organisasi mengelola tenaga kerja mereka.

Meningkatnya Kebutuhan Upskilling

Upskilling menjadi fokus utama bagi banyak pemimpin perusahaan di tengah pergeseran permintaan pekerjaan dan keterampilan. Pengembangan kemampuan AI dianggap sebagai investasi strategis untuk menjaga produktivitas tenaga kerja di era digital.

Dan Shapero menegaskan, “Saat keterampilan berubah dan peran baru terus muncul, upskilling jelas menjadi bagian sentral dari strategi talent kita, agar pekerja dapat bertahan dan berkembang di pasar kerja yang terdisrupsi oleh teknologi ini.”

Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun banyak pekerja merasa belum siap, perusahaan semakin melihat upskilling sebagai fondasi untuk membangun daya saing organisasi dalam jangka panjang.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun penciptaan 1,3 juta pekerjaan baru oleh AI merupakan kabar baik di tengah perlambatan pasar kerja, pertumbuhan ini belum merata di seluruh sektor atau populasi pekerja. Transisi menuju era new-collar work membutuhkan waktu, biaya pendidikan ulang, dan kebijakan yang mendukung akses pekerja terhadap keterampilan baru.

Tingkat persiapan pekerja yang masih tertinggal dan potensi ketimpangan keterampilan dapat menjadi hambatan. Oleh karena itu, upaya preventif terhadap kesenjangan ini akan menjadi perhatian penting di masa mendatang, baik di tingkat perusahaan maupun dalam kebijakan publik.

Informasi lengkap mengenai dampak AI terhadap pasar kerja global ini disampaikan melalui laporan resmi LinkedIn dan disorot oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada pertengahan Januari 2026.

Advertisement