Finansial

Kemenperin: Industri Tekstil Nasional Tertekan Impor, Konsumsi Rumah Tangga Naik Tak Berdampak Positif

Advertisement

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mengalami tekanan signifikan pada tahun 2025, meskipun konsumsi rumah tangga untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya menunjukkan peningkatan. Kondisi ini dinilai terjadi karena pasar domestik dibanjiri oleh produk impor.

Konsumsi Rumah Tangga Meningkat, Industri Lokal Tertekan Impor

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga untuk pakaian mencapai 4,52 persen pada tahun 2025, naik dari 2,73 persen pada tahun 2024. Namun, peningkatan ini tidak serta-merta dinikmati oleh industri dalam negeri.

“Pada tahun 2025 industri pakaian jadi yang berorientasi pada pasar domestik IKI-nya (Indeks Kepercayaan Industri) kontraksi,” kata Febri dalam konferensi pers di kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Kemenperin mencermati bahwa kenaikan konsumsi rumah tangga atas pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya justru dipenuhi oleh produk impor. Hal ini menyebabkan industri dalam negeri tetap tertekan meski permintaan di pasar tinggi.

Kemenperin berharap momentum Lebaran dapat mendorong permintaan yang bisa diserap oleh industri dalam negeri, memberikan angin segar bagi sektor TPT lokal.

Indeks Kepercayaan Industri Melambat di Awal 2026

Data Kemenperin menunjukkan bahwa Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sektor berorientasi ekspor pada Februari 2026 tercatat sebesar 54,61, sedikit melambat dibandingkan Januari yang mencapai 54,62. Kondisi serupa juga dialami oleh industri berorientasi pasar domestik.

Advertisement

Nilai IKI untuk industri berorientasi domestik tercatat 53,12 pada Februari 2026, turun 0,13 poin dari angka 53,25 pada Januari. “Laju kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan Februari 2026 sedikit menurun,” tutur Febri.

Febri menambahkan, kondisi kegiatan usaha secara umum pada Februari 2026 berada di level 77,6 persen, sedikit menurun dibandingkan bulan Januari sebelumnya.

Optimisme Pelaku Usaha Tetap Terjaga di Tengah Tantangan

Meskipun menghadapi tekanan, Kemenperin mencatat adanya peningkatan optimisme di kalangan pelaku industri. Sebanyak 33 persen industri menyatakan kondisi usaha membaik pada Februari 2026, naik 0,3 persen dibanding Januari.

Sementara itu, 44,3 persen industri menyatakan kondisi usaha stabil, dan 22,4 persen menyatakan kondisi usaha menurun. “Optimisme pelaku usaha masih menunjukkan adanya tren peningkatan optimisme dalam 8 bulan terakhir yaitu sebesar 73,5 persen naik sebesar 1 persen,” jelas Febri.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Perindustrian yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.

Advertisement