Islami

Kementerian Agama Jelaskan Pedoman Penggunaan Pengeras Suara Masjid Usai Insiden Gili Trawangan

Advertisement

Kementerian Agama (Kemenag) merespons insiden protes warga negara asing (WNA) terhadap kegiatan tadarus pada malam pertama Ramadan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/2/2026). Peristiwa ini menjadi viral setelah video keberatan terhadap penggunaan pengeras suara saat tadarus beredar luas di media sosial.

Respons pemerintah muncul karena isu ini berkaitan langsung dengan aturan penggunaan pengeras suara masjid dan musala. Kemenag menegaskan bahwa pedoman resmi telah berlaku secara nasional sejak tahun 2022 untuk menjaga ketenteraman dan harmoni sosial.

Pedoman Resmi Penggunaan Pengeras Suara Masjid

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menyampaikan bahwa penggunaan pengeras suara sudah diatur dalam Surat Edaran Menteri Agama. “Penggunaan pengeras suara sebenarnya sudah ada pedomannya dalam SE Menteri Agama untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama. Jadi kalau tadarus sebaiknya menggunakan speaker dalam sesuai Surat Edaran tersebut,” ujar Thobib Al Asyhar, Minggu (22/2/2026), dilansir dari laman Kemenag.

Thobib menjelaskan bahwa pedoman tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara pelaksanaan syiar Islam dan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Pengurus masjid dan musala diminta untuk mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala, yang diterbitkan pada 18 Februari 2022. Dalam surat edaran ini, pengeras suara dibagi menjadi dua jenis: pengeras suara dalam untuk kebutuhan di dalam ruangan masjid atau musala, dan pengeras suara luar yang diarahkan ke luar ruangan. Volume pengeras suara diatur sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel.

Advertisement

Ketentuan Sebelum dan Sesudah Azan

  • Sebelum azan Subuh, pembacaan Alquran atau selawat dapat menggunakan pengeras suara luar paling lama 10 menit.
  • Untuk azan Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, penggunaan pengeras suara luar sebelum azan dibatasi maksimal 5 menit.
  • Setelah azan dikumandangkan, rangkaian sholat, zikir, doa, dan kajian menggunakan pengeras suara dalam.
  • Pada pelaksanaan Sholat Jumat, penggunaan pengeras suara luar sebelum azan diperbolehkan paling lama 10 menit. Khutbah, sholat, zikir, dan doa menggunakan pengeras suara dalam, sedangkan azan tetap menggunakan pengeras suara luar.

Aturan Khusus Syiar Ramadan

Khusus kegiatan Ramadan seperti Sholat Tarawih, ceramah, kajian, dan tadarus Alquran, penggunaan pengeras suara dianjurkan menggunakan pengeras suara dalam. Takbir Idul Fitri dan Idul Adha diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar hingga pukul 22.00 waktu setempat, dan selanjutnya menggunakan pengeras suara dalam. Sholat Id dapat menggunakan pengeras suara luar.

Praktik Pengeras Suara Masjid di Berbagai Negara

Pengaturan penggunaan pengeras suara masjid juga diterapkan di sejumlah negara lain:

  • Malaysia: Azan dan bacaan Alquran diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar, sedangkan ceramah dan pembelajaran dibatasi di lingkungan masjid atau musala.
  • Arab Saudi: Membatasi volume azan dan iqamah tidak melebihi sepertiga volume maksimal pengeras suara.
  • Mesir: Sejak 2018 mengatur penggunaan pengeras suara masjid karena dinilai terlalu keras.
  • Bahrain: Memisahkan fungsi pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk kegiatan ibadah lainnya.
  • Uni Emirat Arab: Menetapkan batas volume azan maksimal 85 desibel.
  • Turki: Pengeras suara luar digunakan untuk azan dan khutbah Jumat.
  • Suriah: Menggunakan pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk khutbah serta pengajian.

Kementerian Agama menegaskan bahwa pedoman penggunaan pengeras suara masjid bertujuan menjaga keseimbangan antara syiar keagamaan dan ketenteraman bersama. Seluruh pengurus masjid dan musala diimbau mematuhi aturan tersebut sebagai bagian dari upaya merawat harmoni sosial di Indonesia.

Informasi mengenai pedoman penggunaan pengeras suara masjid ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Agama yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026.

Advertisement