Di tengah dinamika kehidupan yang kian kompleks, potensi tipu daya dan kezaliman dapat muncul dalam berbagai wujud, baik melalui ucapan, penyalahgunaan kekuasaan, maupun rekayasa tersembunyi. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak hanya meningkatkan kewaspadaan secara lahiriah, tetapi juga memperkuat perlindungan batin melalui amalan doa.
Kementerian Agama RI, melalui buku Kumpulan Do’a Sehari-hari, merilis sebuah doa yang bersumber dari Al-Qur’an. Doa ini secara spesifik memohon perlindungan dari orang-orang zalim dan tercantum dalam bagian doa-doa pilihan dari Al-Qur’an.
Doa Perlindungan dari Al-Qur’an: Lafaz dan Makna Mendalam
Doa yang dimaksud bersumber dari Surah Nuh ayat 28. Lafaz doa ini menjadi panduan spiritual bagi umat Muslim untuk menghadapi berbagai bentuk kezaliman.
Berikut adalah lafaz doa tersebut:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا
Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua ibu-bapakku, serta dosa orang yang masuk ke rumahku dengan membawa iman, dan orang-orang beriman laki-laki maupun perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh: 28)
Doa ini tidak hanya sekadar permohonan perlindungan, melainkan juga mengandung beberapa pesan penting yang mendalam bagi seorang Muslim.
Memulai dengan Ampunan Diri dan Keluarga
Sebelum memohon perlindungan dari kezaliman pihak lain, seorang Muslim diajak untuk terlebih dahulu memohon ampunan bagi dirinya sendiri dan kedua orang tuanya. Ini menunjukkan urgensi membersihkan diri dari dosa sebagai fondasi sebelum menghadapi ancaman eksternal.
Solidaritas Sesama Mukmin
Cakupan doa ini juga meluas hingga mencakup seluruh kaum mukminin dan mukminat. Hal ini menegaskan bahwa perlindungan dari kezaliman bukan hanya kebutuhan personal, melainkan juga kebutuhan kolektif seluruh umat Islam.
Ketegasan Terhadap Kezaliman
Bagian akhir doa memohon agar orang-orang zalim tidak ditambahkan kecuali kebinasaan. Permohonan ini bukan representasi kebencian personal, melainkan penegasan prinsip bahwa kezaliman tidak boleh dibiarkan berkembang dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.
Relevansi Doa di Tengah Tantangan Modern
Pada era modern ini, tipu daya orang-orang zalim dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti fitnah, manipulasi informasi, ketidakadilan hukum, hingga pengkhianatan kepercayaan. Dalam situasi-situasi tersebut, doa menjadi benteng spiritual yang mampu menguatkan hati agar tidak mudah goyah.
Membaca doa ini secara rutin, khususnya setelah shalat atau pada waktu-waktu mustajab, merupakan ikhtiar batin agar Allah SWT senantiasa menjaga diri, keluarga, dan lingkungan dari dampak buruk kezaliman.
Doa dan Ikhtiar Nyata: Membangun Masyarakat Adil
Selain memanjatkan doa, Islam juga mendorong umatnya untuk menyertai ikhtiar batin tersebut dengan usaha-usaha nyata. Keseimbangan antara doa dan tindakan menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
- Bersikap adil dan tidak ikut serta dalam perbuatan zalim.
- Menjaga lisan dan tindakan agar tidak menyakiti orang lain.
- Berani menolak kezaliman dengan cara yang bijak dan sesuai syariat.
Dengan memadukan kekuatan doa dan usaha nyata, seorang Muslim tidak hanya berharap perlindungan dari Allah SWT, tetapi juga turut serta menjadi bagian dari solusi dalam mewujudkan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan.
Informasi mengenai doa perlindungan dari kezaliman ini disampaikan melalui buku Kumpulan Do’a Sehari-hari terbitan Kementerian Agama RI.
