Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyoroti Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Selat ini bukan hanya krusial untuk energi, tetapi juga menjadi arteri utama perdagangan pupuk global. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga pupuk dan menekan produksi pangan dunia.
Peran Krusial Selat Hormuz bagi Pupuk Global
Selat Hormuz merupakan salah satu titik sempit perdagangan global paling strategis. Kawasan ini memainkan peran penting dalam perdagangan pupuk, khususnya pupuk berbasis nitrogen seperti urea, selain menjadi jalur utama ekspor minyak dan gas.
Menurut analisis Rabobank, dampak penutupan jalur ini terhadap pasar pupuk global bisa sangat besar. Laporan tersebut menyebutkan bahwa kawasan Teluk memiliki peran signifikan dalam ekspor pupuk dunia, terutama urea.
Rabobank menyatakan, “Jika Selat Hormuz tertutup, dampaknya terhadap kompleks pupuk bisa sangat parah. Kompleks nitrogen, dan urea khususnya, akan menanggung beban terberat, mengingat pentingnya kawasan ini bagi ekspor global.”
Wilayah Timur Tengah adalah pusat produksi pupuk berbasis nitrogen terbesar di dunia, dengan negara-negara seperti Qatar, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Sekitar 45 persen ekspor pupuk urea dunia berasal dari kawasan ini, menjadikan Selat Hormuz sebagai “nutrient highway” global.
Potensi Lonjakan Harga Pupuk Akibat Gangguan
Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya menghambat distribusi pupuk, tetapi juga dapat memicu lonjakan harga signifikan. Rabobank memodelkan skenario penutupan penuh, di mana harga urea di negara pengimpor utama dapat melonjak tajam.
Laporan tersebut memperkirakan harga pupuk urea di Brasil dapat naik lebih dari 100 persen dalam tiga bulan. Sementara itu, harga di India berpotensi meningkat sekitar 80 persen.
Brasil dan India, sebagai konsumen pupuk terbesar dunia, sangat bergantung pada impor, dengan kebutuhan mencapai lebih dari 15 juta metrik ton per tahun. Gangguan pasokan akan langsung memengaruhi harga domestik.
Tidak hanya urea, pasar fosfat dan sulfur juga berpotensi terdampak. Rabobank menjelaskan, pasar fosfat memiliki ketergantungan struktural pada sulfur, yang sebagian besar diproduksi sebagai produk sampingan industri energi di Teluk.
Ketergantungan Tinggi pada Jalur Selat Hormuz
Data perdagangan Kpler menunjukkan besarnya ketergantungan pasar pupuk global terhadap jalur ini. Setiap bulan, sekitar 3 juta hingga 3,9 juta ton pupuk dikirim dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Volume tersebut terdiri dari 1,2 juta hingga 1,5 juta ton pupuk urea, 1,5 juta hingga 1,8 juta ton sulfur, serta 400.000 hingga 500.000 ton amonia dan fosfat.
Rabobank menilai, jalur Selat Hormuz relatif sulit digantikan. Sebagian besar pelabuhan ekspor utama di kawasan Teluk bergantung pada jalur tersebut untuk mencapai pasar global, berbeda dengan komoditas lain yang lebih fleksibel.
Dampak Tidak Langsung dari Harga Energi
Penutupan Selat Hormuz juga dapat meningkatkan biaya produksi pupuk melalui lonjakan harga energi. Produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada gas alam dan energi sebagai bahan baku utama.
Kenaikan harga minyak dan gas seringkali langsung memengaruhi biaya produksi pupuk. The Economic Times mengutip bahwa produksi pupuk berbasis nitrogen bergantung pada gas alam dan minyak.
Harga acuan minyak mentah Brent tercatat naik ke sekitar 72,8 dollar AS per barrel (sekitar Rp 1,22 juta per barrel dengan kurs Rp 16.800 per dollar AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.
JM Financial Institutional Securities menganalisis, “gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong harga di atas 90 dollar AS per barrel, sementara konflik regional yang lebih luas dapat melampaui 100 dollar AS per barrel.”
Risiko Terhadap Subsidi Pupuk dan Sistem Pangan Global
Lonjakan harga pupuk berpotensi berdampak pada kebijakan fiskal negara-negara yang memberikan subsidi pertanian. Beban subsidi pemerintah dapat meningkat jika harga pupuk global naik tajam.
DK Pant, kepala ekonom India Ratings, menjelaskan, “Gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz dapat berdampak pada pasokan/harga ekspor dan impor,” dikutip dari The Financial Express.
Karena pupuk adalah input utama produksi pangan, gangguan pasar pupuk berpotensi memengaruhi harga pangan global. Eksekutif industri pupuk global Yara menyatakan pasar pupuk sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok energi dan logistik.
Al Jazeera melaporkan, Selat Hormuz dilalui perdagangan minyak dan gas senilai lebih dari 500 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.400 triliun) setiap tahun. Ketergantungan ini menjadikan Selat Hormuz titik kritis dalam sistem pangan dunia.
Informasi lengkap mengenai potensi dampak gangguan di Selat Hormuz terhadap pasokan pupuk global disampaikan melalui analisis Rabobank dan laporan dari berbagai lembaga keuangan serta media internasional.
