Memasuki hari kedua Ramadhan 1447 Hijriah pada Jumat (20/2/2026), umat Islam diajak untuk merefleksikan kembali hakikat ibadah puasa yang tengah dijalani. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, Drs KH Achmad Hasanuddin, HR, menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proses pendidikan ruhani atau madrasah ketakwaan.
Hakikat Puasa dan Tujuan Ketakwaan
Dalam khutbahnya, KH Achmad Hasanuddin menjelaskan bahwa tujuan utama kewajiban puasa adalah mencapai derajat takwa, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Beliau mengutip pandangan Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Marah Labid yang menyatakan bahwa takwa dicapai dengan meninggalkan keinginan syahwat selama berpuasa.
Senada dengan hal tersebut, At-Tanthawi dalam tafsir Al-Washit menguraikan bahwa pelaksanaan kewajiban ini akan membawa seorang hamba pada derajat khasyah atau rasa takut kepada Allah. Kondisi inilah yang nantinya akan mendatangkan rida dari Sang Pencipta bagi mereka yang menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
Tiga Ciri Utama Pribadi yang Bertakwa
Guna mengukur keberhasilan ibadah di madrasah Ramadhan, KH Achmad Hasanuddin memaparkan tiga ciri orang bertakwa berdasarkan riwayat dalam kitab Washiyatul Musthafa:
- Menjaga lisan dari ucapan dusta, bohong, hoaks, maupun perkataan yang keji.
- Membentengi diri dari pengaruh pergaulan yang buruk di lingkungan sosial masyarakat.
- Memiliki sikap hati-hati dengan meninggalkan sebagian perkara halal karena khawatir terjerumus pada hal yang haram.
Ketiga indikator ini menjadi tolok ukur bagi setiap Muslim dalam menjalani aktivitas sehari-hari, baik selama bulan Ramadhan maupun setelah bulan suci ini berakhir.
Puasa Sebagai Benteng Pertahanan Diri
Lebih lanjut, KH Achmad Hasanuddin mengingatkan bahwa puasa berfungsi sebagai junnah atau tameng. Berdasarkan hadis riwayat Thabrani, puasa adalah benteng pertahanan bagi orang beriman untuk melawan bujuk rayu hawa nafsu dan godaan setan yang menyesatkan.
“Mari kita jadikan ibadah puasa Ramadhan ini sebagai benteng pertahanan diri kita dari setiap serangan dan tipuan hawa nafsu,” pesannya di hadapan jamaah. Dengan menjadikan Ramadhan sebagai madrasah, diharapkan umat Islam mampu meraih kemenangan sejati berupa keselamatan di dunia dan akhirat.
Informasi mengenai materi khutbah ini disampaikan berdasarkan naskah resmi yang dirilis oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Februari 2026.
