Kehidupan kota modern seringkali diukur dari kemegahan bangunan dan pesatnya pembangunan fisik. Namun, peradaban sejati justru bertumpu pada akhlak serta tanggung jawab moral setiap warganya. Hal ini disampaikan oleh KH Ahmad Saifuddin HAS, S.Ag, MM, Bendahara 1 MUI Kota Tangerang, dalam khutbah Jumat pada 27 Februari 2026.
Dalam khutbahnya, KH Ahmad Saifuddin HAS mengajak jamaah untuk merenungkan kembali makna amanah Ilahi dalam membangun masyarakat madani yang berkeadaban. Pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya fondasi spiritual dalam keluarga, peran masjid sebagai pusat pembinaan umat, serta kepemimpinan yang adil dan berintegritas.
Fondasi Peradaban Sejati: Lebih dari Sekadar Bangunan Megah
KH Ahmad Saifuddin HAS menyoroti bahwa kota yang diberkahi bukan hanya berdiri di atas kemajuan infrastruktur, melainkan di atas nilai ketakwaan, keadilan, dan kepedulian sosial yang hidup dalam keseharian masyarakatnya. Ia mengibaratkan, seringkali “kemacetan” bukan hanya terjadi di jalan raya, melainkan juga dalam silaturahmi, serta “polusi” dalam kata-kata dan perilaku di lingkungan rumah.
Islam mendambakan sebuah “masyarakat madani”, sebuah peradaban yang akarnya tertanam kuat di bumi lewat akhlak, sementara cabangnya menjulang ke langit lewat ridha Ilahi. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Ayat ini menegaskan bahwa masyarakat madani dalam kota yang beradab dimulai dari jalinan kasih kepada orang tua, kerabat, hingga tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh.
Tiga Pilar Utama Masyarakat Madani Menurut KH Ahmad Saifuddin HAS
Mengutip Ibnul Qayyim al-Jauziyyah yang berpesan, “Barang siapa yang menginginkan bangunan yang tinggi, maka hendaklah ia memperkokoh fondasinya,” KH Ahmad Saifuddin HAS menguraikan tiga level lapisan spiritual dalam membangun masyarakat madani.
1. Fondasi Spiritual: Individu dan Keluarga
Keluarga adalah batu bata pertama dari bangunan peradaban. Jika setiap rumah tangga adalah oase ketenangan atau sakinah, maka kota akan menjadi samudera kedamaian. Fondasi ini adalah individu-individu yang lisannya basah dengan dzikir, dan tangannya ringan membantu sesama.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi). Kesalehan seorang warga kota tidaklah sempurna jika belum mampu menghadirkan kedamaian bagi istri dan anak-anaknya. Jika setiap rumah dipenuhi dengan tutur kata lembut dan akhlak mulia, kota akan menjadi taman-taman surga.
2. Pilar Komunitas: Peran Vital Masjid dan Tokoh Masyarakat
Syekh Yusuf al-Qaradhawi pernah menekankan bahwa masjid dalam sejarah Islam bukanlah gedung yang mati, melainkan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh masyarakat. Masjid adalah pusat musyawarah, tempat perbedaan dilarutkan dalam sujud, dan tempat kesulitan tetangga menjadi beban bersama.
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang hatinya terpaut pada rumah Allah ini dalam salah satu golongan yang akan mendapatkan perlindungan di Hari Kiamat: “…dan seseorang yang hatinya senantiasa terpaut (terikat) dengan masjid-masjid.” (HR Bukhari dan Muslim). Makna “terpaut” di sini adalah membawa nilai-nilai masjid, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kesetaraan, ke dalam setiap transaksi dagang, interaksi di kantor, dan di mana pun berada.
3. Atap Tata Kelola: Kepemimpinan Berintegritas dan Adil
Pemimpin adalah atap yang melindungi. Jika atapnya bocor karena ketidakadilan, maka penghuni di bawahnya akan kedinginan atau kepanasan. Kepemimpinan dalam masyarakat madani merupakan amanah yang harus dipikul dengan prinsip “syura” atau mendengar suara rakyat sebagai bentuk penghormatan atas martabat manusia.
Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah singgasana untuk berbangga diri, melainkan beban amanah yang sangat berat. Dalam doa Rasulullah SAW tersirat peringatan sekaligus panduan bagi setiap orang yang memegang urusan orang lain:
اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
Artinya: “Ya Allah, barang siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan barang siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia bersikap lemah lembut (memudahkan) mereka, maka bersikap lembutlah kepada-Nya.” (HR Muslim)
Masyarakat madani hanya bisa terwujud jika para pengambil kebijakan menjadikan “kemudahan bagi rakyat” sebagai kompas utamanya. Pemimpin yang adil adalah dia yang saat tidur memikirkan perut rakyatnya yang lapar, dan saat terjaga memastikan tidak ada satu pun warganya yang terzalimi haknya.
Refleksi Diri dan Pesan Buya Hamka
KH Ahmad Saifuddin HAS juga mengajak jamaah untuk tidak hanya menuntut hak pada para pemimpin, tetapi juga bertanya pada diri sendiri apakah sudah memberikan hak jalan bagi tetangga atau hak tenang bagi lingkungan. Hal ini selaras dengan nasihat ulama Buya Hamka:
“Tegaknya agama karena akhlak, dan tegaknya dunia karena ilmu. Sedangkan indahnya kota tercermin dalam budi pekerti.”
Saling Mengenal untuk Kebaikan Bersama
Sebagai penutup, KH Ahmad Saifuddin HAS mengajak untuk membangun kehidupan sehari-hari yang penuh kebaikan, santun, gotong royong yang tulus, dan kepedulian nyata di antara sesama, yang mana semua ini ditopang oleh ketakwaan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Perbedaan yang ada di antara manusia bukanlah alasan untuk berseteru, melainkan agar saling mengenal, melengkapi, dan bahu-membahu membangun kebaikan demi terwujudnya masyarakat madani dalam sebuah kota yang diberkahi.
Informasi mengenai topik ini disampaikan melalui khutbah Jumat oleh KH Ahmad Saifuddin HAS, S.Ag, MM, Bendahara 1 MUI Kota Tangerang, yang dilansir dari laman resmi MUI pada Jumat, 27 Februari 2026.
