Keripik Maicih, camilan pedas yang sempat menjadi fenomena pada 2010-an, kini telah bertransformasi menjadi brand nasional yang eksis di supermarket dan waralaba ritel. Sang pendiri, Reza Nurhilman, menceritakan perjalanan bisnisnya yang bermula dari modal Rp 2 juta hingga mampu bertahan selama 15 tahun.
Perjalanan Reza Nurhilman Membangun Jiwa Wirausaha
Reza Nurhilman mengungkapkan bahwa keinginan besar untuk menjadi pengusaha telah tertanam dalam dirinya sejak muda. Sebagai bungsu dari tiga bersaudara, absennya figur ayah dan perjuangan sang ibu dalam bekerja keras membentuk mentalnya.
“Itu yang membuat kami selalu dalam mode survive,” ungkap Reza saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Sejak remaja, Reza telah memikirkan cara untuk mengangkat perekonomian keluarga. Jiwa kewirausahaannya mulai tumbuh sejak kelas tiga SMA, ketika ia berhasil membuat jaket angkatan yang kala itu sedang menjadi tren.
“Waktu itu saya cari supplier yang bisa jual harga tertentu, sehingga saya bisa dapat margin di sana,” jelasnya. Pengalaman tersebut mengasah jiwa pemasarannya, yang kemudian ia kembangkan dengan berjualan baju, jaket, hingga parfum.
Kelahiran dan Perkembangan Pesat Keripik Maicih
Setelah lulus SMA, Reza tidak langsung melanjutkan studi ke jenjang kuliah. Ia menjajal berbagai macam bisnis selama empat tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk kuliah pada 2009. “Pada 2010, lahirlah Maicih,” ucapnya.
Keripik Maicih bermula dari sebuah tempat produksi keripik pedas di Bandung, tempat Reza menjadi pelanggan sejak 2008. Sebagai penggemar keripik pedas, ide untuk memasarkan keripik tersebut ke masyarakat luas muncul saat ia kembali mengunjungi tempat produksi itu pada 2010.
“Dari situlah saya langsung juga, jadi sebenarnya Maicih itu lahir dari ide sederhana, yaitu saya beli keripik lalu saya jual,” tuturnya. Awalnya, ia membeli keripik seharga Rp 5.000 dan menjualnya kembali seharga Rp 10.000 kepada teman kampus dan kenalan terdekat.
Dalam empat bulan, permintaan keripik pedas ini melejit. Bahkan, belum sampai satu tahun, bisnis Maicih telah berkembang pesat. “Perkembangannya sangat luar biasa, di tujuh sampai delapan bulan jalan itu omzetnya langsung miliaran per bulan,” ungkap Reza. Kini, bisnis yang telah berjalan selama 15 tahun ini “sudah cukup sustain dan eksis di dunia FMCG.”
Modal Awal dan Filosofi Berbisnis
Reza memulai bisnis Keripik Maicih dengan modal sekitar Rp 2 juta untuk sebulan, yang kemudian berkembang menjadi Rp 15 juta pada masa awal merintis. “Tapi di awal karena sama memang saya mulainya otodidak, modal bisnis ini start dari Rp 2 juta,” jelasnya.
Bagi para pengusaha pemula, Reza mengingatkan pentingnya untuk memulai secepat mungkin. “Mulainya dengan secepat mungkin, intinya action saja dulu,” tegasnya. Ia bahkan menyarankan calon pengusaha yang masih bingung untuk memulai dengan berjualan produk orang lain terlebih dahulu, sesuai dengan pengalamannya.
Meskipun banyak orang mencibir bahwa berjualan keripik dinilai tidak bergengsi, Reza tetap teguh mengembangkan bisnisnya. “Kurang bergengsi jualan keripik, kan gitu ya stigmanya, tapi gengsi tidak menghasilkan hidup yang bergengsi,” katanya.
Inovasi Produk dan Strategi Pemasaran Maicih
Pada masa awal pengembangan bisnis, Reza langsung berfokus membangun brand yang kuat. Hal ini membuatnya lebih siap secara mental dan memiliki keinginan untuk mempersiapkan rencana keuangan serta tata kelola yang lebih matang.
Maicih juga melakukan diversifikasi produk, kini tidak hanya keripik pedas tetapi juga basreng hingga seblak. Misi Maicih adalah membuat makanan tradisional seperti keripik dapat naik kelas. “Dulu keripik, gurilem, itu selalu dipandang sebelah mata. Bahkan seingat saya dulu waktu SD hanya dijual Rp 500 atau Rp 1.000, dan jualannya gitu-gitu saja,” tutur Reza.
Reza kemudian memberikan “nyawa” pada brand Maicih sehingga mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat. “Padahal rasanya mirip-mirip lah,” ucapnya. Maicih menjadi berbeda karena hadir dengan sesuatu yang segar, mengombinasikan pemasaran online, khususnya melalui media sosial Twitter pada masanya.
Ia menciptakan berbagai gimik pemasaran yang menarik, seperti konsep keripik pedas berlevel. “Dengan memadukan permainan marketing gimmick tadi, jadi diketahui bahwa Maicih ini adalah jenis makanan pedas berlevel,” jelasnya. Siasat ini berhasil menggaet perhatian konsumen secara emosional, misalnya dengan warganet yang berlomba memamerkan pengalaman mengonsumsi keripik Maicih level terpedas atau level 10. Percakapan di dunia maya tersebut membuat Maicih tidak lagi hanya sekadar keripik pedas biasa, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat luas.
Informasi lengkap mengenai perjalanan bisnis Keripik Maicih ini disampaikan melalui wawancara dengan Reza Nurhilman di Jakarta pada Rabu, 25 Februari 2026.
