Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan peningkatan signifikan produktivitas Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah. Model tambak udang modern yang dikelola secara berkelanjutan ini berhasil mencatatkan produksi hingga 358,97 ton pada tahun 2025.
Peningkatan Produksi dan Dampak Ekonomi
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb. Haeru Rahayu, atau akrab disapa Tebe, mengungkapkan bahwa produksi tambak udang di Kebumen terus melonjak. Angka 358,97 ton pada 2025 menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan 200,19 ton pada 2023 dan 193,29 ton pada 2024. “BUBK Kebumen membuktikan bahwa modeling ini mampu menjadi model pengembangan udang nasional yang berkelanjutan,” kata Tebe dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2/2026).
BUBK Kebumen mengelola lahan tambak seluas 65 hektar, dengan 23,5 hektar di antaranya merupakan lahan produktif yang terbagi dalam 16 klaster. Keberadaan tambak ini turut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kebumen melalui pembayaran Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Perikanan Budidaya, yakni sebesar Rp 259.087.652 pada 2024 dan Rp 489.264.736 pada 2025.
Selain itu, BUBK Kebumen juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja lokal. Sebanyak 142 karyawan tetap berasal dari desa-desa sekitar tambak, ditambah sekitar 100 pekerja lepas yang turut merasakan manfaat ekonomi. “Peningkatan ini menjadi bukti bahwa sistem budidaya berbasis kawasan yang diterapkan semakin efektif, efisien, dan berdaya saing,” tutur Tebe.
Kualitas Premium dan Ramah Lingkungan
Tidak hanya produktivitas, kualitas udang hasil budidaya BUBK Kebumen juga terjamin premium. Tebe menegaskan bahwa seluruh udang menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), sehingga dijamin bebas residu antibiotik. Kualitas ini memberikan nilai tawar tinggi bagi udang BUBK Kebumen di pasar ekspor.
Model tambak ini juga sejalan dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang mendorong praktik budidaya ramah lingkungan. “Dengan penerapan CBIB, kami optimistis produktivitas akan terus meningkat hingga mencapai titik optimal. Ini adalah sarana edukasi bagi masyarakat bahwa budidaya bisa produktif sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Tebe.
Pengalihan Pengelolaan untuk Optimalisasi
Dalam upaya menjaga tren produktivitas yang tinggi, KKP memutuskan untuk mengalihkan pengelolaan BUBK Kebumen dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang ke Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Kebijakan ini diambil mengingat BLUPPB Karawang kini memiliki tugas besar mengelola Modeling Budidaya Ikan Nila Salin hingga 314 hektar.
Saat ini, BBPBAP Jepara telah menebarkan benur udang vaname di tambak Kebumen, menandai dimulainya siklus budidaya ketujuh. “Transisi pengelolaan berjalan mulus tanpa menghentikan aktivitas produksi. Justru saat ini operasional tambak terus diperkuat agar semakin optimal,” tutur Tebe.
Informasi lengkap mengenai capaian dan kebijakan BUBK Kebumen ini disampaikan melalui keterangan resmi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb. Haeru Rahayu, pada Selasa, 24 Februari 2026.
