Finansial

Konflik Iran-Israel: Harga BBM Dunia Diprediksi Melonjak Tajam Akibat Penutupan Selat Hormuz

Advertisement

Harga bahan bakar minyak (BBM) dunia diperkirakan akan melonjak signifikan menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi konflik ini berujung pada potensi penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya

Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dengan nilai perdagangan mencapai 500 miliar dollar AS per tahun, kini berada di bawah ancaman serius. Ketegangan di kawasan tersebut telah memicu larangan pelayaran yang dikeluarkan Garda Revolusi Iran, secara langsung mengguncang pasar energi global.

Insiden penyerangan terhadap sebuah kapal tanker berbendera Palau di Selat Hormuz pada Minggu, yang melukai empat awak, semakin memperparah situasi. Analis Mortimer menyoroti bahwa serangan semacam ini berdampak besar pada tarif asuransi perang, menyebabkan setidaknya 150 kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair memilih berlabuh di laut terbuka, hampir menghentikan lalu lintas pelayaran.

Teheran sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan penutupan selat tersebut sebagai respons atas serangan militer. Namun, Tamsin Hunt, analis senior S-RM, menilai langkah tersebut berisiko bagi Iran. “Penutupan penuh Selat Hormuz akan menghancurkan perekonomian Iran sendiri,” ujar Hunt.

Proyeksi Kenaikan Harga Minyak Mentah Global

Data dari broker IG menunjukkan potensi lonjakan harga minyak mentah Amerika Serikat sekitar 11 persen saat perdagangan dibuka kembali. Kenaikan ini terjadi meskipun kelompok produsen minyak OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi lebih besar dari rencana awal, dalam upaya meredam dampak konflik terhadap pasokan global.

Pasar future memproyeksikan harga minyak mentah AS akan naik dari 67 dollar AS per barel menjadi sekitar 74 dollar AS per barel, level tertinggi sejak Juni 2025. Analis Barclays memperkirakan harga dapat menyentuh 80 dollar AS per barel jika gangguan pasokan memburuk.

Advertisement

Lebih jauh, Royal Bank of Canada memperingatkan bahwa harga berpotensi menembus 100 dollar AS per barel jika konflik meluas. Analis Bank of Canada menegaskan, “Sejauh yang kami pahami, para pemimpin di kawasan telah memperingatkan Washington tentang risiko meluasnya dampak (contagion) jika kembali terjadi konfrontasi dengan Iran, dan menegaskan bahwa harga minyak di atas 100 dollar AS merupakan ancaman yang nyata dan serius.”

Dampak Langsung pada Konsumen dan Rantai Pasok

Lonjakan harga minyak mentah secara langsung berdampak pada harga bahan bakar di tingkat konsumen. Asosiasi otomotif Inggris (AA) mencatat bahwa harga bensin rata-rata telah mencapai 132,9 pence per liter dan diesel 142,4 pence per liter.

Juru bicara AA, Luke Bosdet, menyatakan, “Harga BBM telah naik dalam sepekan terakhir dan eskalasi konflik berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar bagi pengemudi.”

Dampak konflik juga merambat ke pasar keuangan dan logistik global. Sejumlah pelabuhan di kawasan Teluk telah menghentikan operasional, sementara perusahaan pelayaran menunda pengiriman, dan biaya asuransi kapal melonjak tajam. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengimbau kapal untuk menghindari wilayah terdampak hingga situasi kembali kondusif, meningkatkan tekanan pada rantai pasok global dan berisiko mendorong kenaikan harga energi serta komoditas lain dalam waktu dekat.

Informasi lengkap mengenai prediksi kenaikan harga BBM dan dampak konflik ini disampaikan melalui berbagai laporan media dan analisis pasar yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.

Advertisement