Perang antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu, 28 Februari 2026, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas regional dan perdagangan energi global. Fokus utama konflik ini kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut strategis yang berpotensi menjadi pemicu resesi dunia jika ditutup.
Ancaman Resesi Global dari Selat Hormuz
Bob McNally, mantan penasihat bidang energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41 dan pendiri Rapidan Energy, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menguasai sisi utara selat, khususnya di Bandar Abbas, dengan markas darat yang dibangun untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional. Sementara itu, wilayah negara Oman berada di sisi berlawanan.
Selat Hormuz: Koridor Vital Perdagangan Minyak dan Gas Dunia
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia, dengan kedalaman tidak lebih dari 60 meter. Beberapa pulau strategis seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak dikuasai Iran, sementara pulau Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa masih menjadi sengketa dengan Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun demikian, kendali selat ini telah berada di tangan Iran sejak tahun 1971.
Selat ini menjadi koridor vital ekspor minyak bagi negara-negara Teluk menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Menurut US Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz merupakan titik perdagangan minyak terpenting di dunia. Konsultan energi Kpler mencatat bahwa volume lalu lintas kapal tanker pengangkut minyak dari selat ini mencapai sekitar 14 juta barel per hari sepanjang tahun 2025, setara dengan sepertiga dari total ekspor minyak mentah global. Separuh dari ekspor tersebut dikirimkan ke Tiongkok. Selain minyak mentah, 20 persen ekspor gas alam cair (LPG) dunia, sebagian besar berasal dari Qatar, juga melewati jalur ini.
Dampak Ekonomi Global Akibat Penutupan Selat Hormuz
Nilai perdagangan non-minyak melalui Selat Hormuz juga sangat signifikan. Moneycontrol.com melaporkan pada 28 Februari 2026, ekspor barang dari India ke negara-negara Teluk mencapai 47,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 770 triliun (kurs 16.200 per dollar AS). Rinciannya meliputi UEA sebesar 28,5 miliar dollar AS, Arab Saudi 11,7 miliar dollar AS, Irak 2,8 miliar dollar AS, Kuwait 2,1 miliar dollar AS, Qatar 1,7 miliar dollar AS, dan Iran 1,25 miliar dollar AS.
Selain itu, altasinstitute.org mencatat pada 7 Agustus 2025, total nilai perdagangan di kawasan Teluk Persia-Selat Hormuz mencapai 1,2 triliun dollar AS atau Rp 19.440 triliun, yang mewakili 20 persen pengiriman kontainer global. Pentingnya jalur ini menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar krusial dalam kebijakan geopolitik.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi dari berbagai lembaga riset energi dan ekonomi global, serta laporan media internasional yang dirilis pada akhir Februari 2026.
