Finansial

Laporan Accenture Ungkap Transformasi Perbankan 2026: AI dan Uang Digital Dorong Perubahan Fundamental

Advertisement

Industri perbankan global diprediksi memasuki fase transformasi fundamental pada tahun 2026. Laporan terbaru dari Accenture menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI), uang digital, dan persaingan ketat memperebutkan dana nasabah akan secara mendasar mengubah model bisnis dan operasional bank.

Batasan-batasan tradisional yang selama ini membentuk cara bank beroperasi kini mulai runtuh, menuntut institusi keuangan untuk melakukan perubahan yang lebih dari sekadar bertahap.

Runtuhnya Batasan dan Konvergensi Teknologi

Tri Hindriasari, Banking Lead Accenture Indonesia, pada Selasa (24/2/2026) menyatakan bahwa industri perbankan tengah memasuki era baru. Era ini ditandai oleh runtuhnya berbagai batasan yang selama ini membentuk cara bank beroperasi.

Menurutnya, konvergensi antara generative AI, agentic AI, aset digital, dan model bisnis baru tidak hanya menantang batas-batas tersebut, tetapi juga membentuk ulang industri secara mendasar. Laporan Accenture menegaskan, bank tidak lagi cukup berbenah secara bertahap, melainkan harus mengubah model bisnis, pengelolaan risiko, serta strategi mempertahankan dana simpanan dan kredit.

Uang Digital dan Potensi Migrasi Pendapatan Bank

Salah satu perubahan paling mendasar terjadi pada evolusi uang. Stablecoin, Central Bank Digital Currencies (CBDC), serta simpanan yang ditokenisasi kini bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi yang lebih luas.

Pembayaran terprogram memungkinkan dana tidak sekadar berpindah, melainkan membawa data dan instruksi otomatis. Riset Accenture mencatat, hingga 13 triliun dollar AS atau sekitar Rp 208.000 triliun nilai transaksi berpotensi bermigrasi ke metode pembayaran alternatif sebelum akhir dekade ini.

Tanpa strategi yang tepat, bank berisiko kehilangan pendapatan berbasis biaya dalam jumlah besar. Perubahan ini memaksa bank untuk tidak lagi bergantung pada pola simpanan pasif, karena uang terprogram memungkinkan dana bergerak otomatis sesuai kebutuhan nasabah.

AI dan Transformasi Pengalaman Nasabah

Transformasi juga menyentuh relasi bank dengan nasabah. Antarmuka AI kini berkembang dari sekadar alat otomatisasi menjadi asisten berbasis konteks. Nasabah berharap bank hadir di berbagai platform, termasuk ruang interaksi digital berbasis AI, dengan ekspektasi pengalaman real-time yang personal.

Ketika bank gagal mengenali preferensi nasabah, jarak emosional dapat muncul. Di sisi lain, AI membuka ruang bagi pihak ketiga untuk berada di antara bank dan nasabah, meningkatkan risiko disintermediasi, serupa dengan kemunculan dompet digital beberapa tahun lalu.

Meskipun demikian, kehadiran fisik dan interaksi manusia dinilai tetap penting dalam membangun kepercayaan, terutama untuk keputusan finansial yang kompleks.

Advertisement

Perebutan Dana Global dan Proposisi Nilai Terintegrasi

Persaingan industri juga bergeser langsung ke neraca bank. Selama ini, simpanan dan kredit menjadi sumber utama pendapatan, namun kini stablecoin, perusahaan kripto, hingga lembaga pembiayaan swasta mulai menantang peran tersebut.

Accenture mencatat lebih dari 200 triliun dollar AS atau sekitar Rp 3.200.000 triliun dana simpanan dan pinjaman global berada dalam pusaran persaingan baru ini. Angka tersebut mencerminkan skala dana yang diperebutkan dalam ekosistem keuangan modern.

Di tengah tekanan tersebut, bank dituntut untuk melampaui pendekatan berbasis produk. Mereka perlu membangun proposisi nilai terintegrasi agar tidak mudah dibandingkan secara instan oleh agen AI yang hanya mencari penawaran terbaik.

Tri Hindriasari menegaskan, perubahan ini bukan sekadar soal efisiensi biaya. “Bank dapat memperoleh pemahaman risiko yang lebih menyeluruh dan bersifat real-time, sekaligus mengubah pengalaman nasabah menjadi rangkaian interaksi yang berkesinambungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Bagi perbankan di Indonesia, inilah saatnya melampaui perubahan yang bersifat inkremental dan mulai membayangkan kembali bagaimana pekerjaan dilakukan, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana manfaat dapat diciptakan.”

Dampak pada Dunia Kerja dan Pentingnya Kepemimpinan

Laporan Accenture juga menyoroti perubahan dunia kerja dengan konsep “10x bank”, di mana satu pegawai dapat mengoordinasikan berbagai kapabilitas AI untuk menghasilkan dampak berlipat. Implementasi awal menunjukkan peningkatan produktivitas pengembangan perangkat lunak, percepatan proses Know Your Customer (KYC), serta pengambilan keputusan risiko yang lebih adaptif.

Namun, Accenture mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Kepemimpinan dan budaya organisasi menjadi faktor penentu apakah AI akan mendorong pertumbuhan atau sekadar menghasilkan efisiensi jangka pendek.

Pada akhirnya, fondasi industri perbankan tetap bertumpu pada kepercayaan. Namun, cara bank beroperasi, mengelola risiko, dan bersaing diperkirakan akan berubah secara mendasar. Tahun 2026 dinilai menjadi titik penting bagi bank yang ingin bertahan sekaligus tumbuh di tengah lanskap keuangan tanpa batas.

Informasi lengkap mengenai tren perbankan ini disampaikan melalui laporan resmi Accenture yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026.

Advertisement