Islami

Lemhannas Soroti Penurunan Kecerdasan Spiritual Generasi Z Akibat Konsumsi Teknologi Berlebihan

Advertisement

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, TB. Ace Hasan Syadzily, menyoroti penurunan kecerdasan neurosains dan spiritual pada generasi Z akibat konsumsi teknologi yang masif. Peringatan ini disampaikan dalam sambutan pameran seni “Ruang Tafakur” di Jakarta pada Jumat, 27 Februari 2026, yang juga didukung oleh pandangan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengenai pentingnya refleksi spiritual.

Temuan Lemhannas: Kecerdasan Generasi Z Menurun Akibat Teknologi

Lemhannas RI telah melakukan kajian internal yang melibatkan para ahli psikologi dan demografi untuk membaca dinamika generasi di Indonesia. Hasil kajian tersebut menunjukkan temuan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan terkait tren kecerdasan antar generasi.

“Ada satu hal yang menarik, yaitu dalam setiap fase generasi demografi, misalnya baby boomer, dari aspek IQ dan kecerdasan emosionalnya itu lebih rendah dibandingkan dengan generasi setelahnya yaitu generasi X,” ujar Ace saat sambutan pameran seni tersebut.

Ace melanjutkan, tren peningkatan kecerdasan sempat terlihat pada generasi berikutnya. “Generasi X ketika memasuki generasi milenial itu lebih bagus kecerdasannya. Setelah itu, yaitu generasi Z, mengalami penurunan baik kecerdasan neurosciencenya maupun kecerdasan spiritual,” jelasnya.

Menurut Ace, salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan ini adalah pola konsumsi teknologi yang tidak diimbangi dengan ruang penguatan akademik dan spiritual. “Salah satu penyebabnya adalah karena konsumsi terhadap teknologi yang tanpa disertai dengan kemampuan tadi, peluang akademik, apalagi ruang tafakur spiritual,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa manusia membutuhkan ruang jeda dari derasnya arus digital untuk membangun kesehatan mental yang kuat. “Karena itu saya ingin menegaskan kembali bahwa ketika kita menempatkan diri kita untuk berada pada ruangan spiritualitas itu artinya bahwa kita sedang membangun agar diri kita memiliki kesehatan mental yang kuat,” tegas Ace.

Dimensi spiritualitas dan kesehatan mental ini, bagi Ace, tidak dapat dipisahkan dari konsep ketahanan nasional. “Saya kira ketahanan budaya merupakan salah satu di antara elemen penting dari ketahanan nasional. Kira-kira begitulah relevansinya,” katanya.

Advertisement

Seni Islam dan Tafakur sebagai Penyeimbang Era Digital

Pernyataan Gubernur Lemhannas memperlihatkan bahwa seni dan spiritualitas memiliki dimensi strategis dalam pembangunan bangsa. Ketika kecerdasan buatan (AI) mendorong percepatan dan efisiensi, seni Islam justru menawarkan kedalaman, kesadaran, dan pengendapan makna.

Di sisi lain, Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, juga menyinggung pentingnya tafakur sebagai praktik refleksi yang melampaui sekadar intelektualitas. “Tafakur itu kegiatan intelektual atau spiritual? Ini masih menjadi objek diskusi,” ujarnya.

Dalam suasana Ramadan, seni Islam menghadirkan ruang hening di tengah kebisingan algoritma. Kaligrafi, lukisan, dan instalasi tidak hanya menjadi objek visual, melainkan medium perenungan. Di tengah generasi yang akrab dengan layar dan notifikasi tanpa henti, ruang tafakur menjadi sarana untuk menata ulang keseimbangan batin.

Dengan demikian, seni Islam dapat dibaca sebagai respons kebudayaan terhadap tantangan era AI. Ia bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan pengingat bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan kesehatan mental, kecerdasan spiritual, dan ketahanan budaya bangsa.

Informasi mengenai tantangan kecerdasan spiritual di era digital ini disampaikan melalui pernyataan resmi Gubernur Lemhannas RI dan Ketua Umum PBNU dalam acara pameran seni “Ruang Tafakur” yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.

Advertisement