Maarten Paes, penjaga gawang utama Ajax Amsterdam, akhirnya mengungkapkan alasan mendalam di balik keputusannya untuk memperkuat Tim Nasional Indonesia. Dorongan terkuat untuk memilih Garuda bukan sekadar alasan teknis, melainkan sebuah penghormatan mendalam bagi mendiang neneknya yang memiliki akar sejarah kuat di tanah air. Keputusan pemain berusia 27 tahun ini menandai babak baru dalam perjalanan kariernya.
Latar Belakang Emosional Pilihan Maarten Paes
Melalui saluran resmi klub, Maarten Paes menceritakan bagaimana sang nenek memperkenalkan budaya Nusantara sejak dirinya masih kecil. Hubungan emosional Paes dengan Indonesia berakar dari sejarah kelam masa perang yang dialami neneknya. Nenek Paes lahir di Indonesia dan harus melewati masa sulit selama Perang Dunia Kedua sebelum akhirnya bermigrasi ke Eropa.
“Nenek saya lahir di sana,” ungkap Paes menjelaskan hubungannya dengan Indonesia, dikutip dari Voetbal Primeur pada Sabtu (7/3/2026). “Dia mengalami Perang Dunia Kedua di sana. Dia kehilangan ibunya di usia yang sangat muda. Saat itu, laki-laki dan perempuan dipisahkan, jadi dia tinggal di sana tanpa orang tuanya untuk waktu yang cukup lama.”
Pemain kelahiran Nijmegen, 14 Mei 1998, ini menuturkan bahwa ketika kesehatan sang nenek mulai menurun, ia merasa itu adalah momen yang tepat untuk memenuhi panggilan dari federasi. “Setelah perang, saya rasa setelah lima tahun, mereka datang ke Belanda dengan kapal,” lanjutnya. “Dia sebenarnya memperkenalkan budaya itu kepada saya sejak usia muda. Ketika dia hampir meninggal di tahun-tahun terakhirnya, saya pikir itu adalah saat yang tepat ketika mereka menghubungi saya lagi.”
“Saat itulah saya akhirnya memutuskan untuk melakukannya,” jelas Maarten Paes, menegaskan keputusannya untuk menjalani proses naturalisasi.
Belajar Pancasila dan Kenangan Sang Nenek
Sebelum melakukan debutnya, Paes sempat menghabiskan waktu berkualitas bersama sang nenek untuk mendalami identitas barunya sebagai warga negara Indonesia. Keduanya belajar mengenai simbol dan dasar negara demi persiapan membela Garuda.
“Ini suatu kehormatan besar baginya. Kami belajar lagu kebangsaan bersama, kami belajar Pancasila bersama, yaitu lima aturan utama Indonesia,” kata Paes.
Sayangnya, sang nenek meninggal dunia tepat sebelum dapat menyaksikan debut cucunya. “Dia meninggal tepat sebelum bisa melihat debut saya, yang sangat disayangkan. Setiap kali lagu kebangsaan diputar, saya selalu teringat padanya,” pungkas Paes, menunjukkan kedalaman emosinya.
Gairah Sepak Bola Indonesia yang Mendunia
Meskipun saat ini ia berkarier di kancah elite Eropa bersama Ajax, Maarten Paes menegaskan bahwa gairah sepak bola di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia bahkan membandingkan atmosfer di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) dengan kemeriahan di liga-liga besar dunia.
Penjaga gawang tersebut menyandingkan fanatisme suporter Indonesia dengan kegilaan suporter di Argentina. “Juga banyak jam penerbangan dari Amerika. Jakarta selalu menyenangkan. (Namun) budaya sepak bola mereka sangat diremehkan,” ujarnya.
Sebagai catatan, Timnas Indonesia sempat membawa harapan tinggi di kualifikasi Piala Dunia, namun langkahnya harus terhenti setelah kekalahan dari Irak. Situasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi perkembangan tim yang saat itu juga sempat melibatkan figur legendaris seperti Patrick Kluivert.
Informasi lengkap mengenai keputusan dan latar belakang emosional Maarten Paes ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh klub dan dikutip dari Voetbal Primeur pada Sabtu, 7 Maret 2026.
