PT Mandiri Sekuritas Indonesia memproyeksikan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026 akan jauh lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Proyeksi ini didukung oleh komitmen calon emiten untuk memenuhi porsi saham publik beredar (free float) minimal 15 persen, sebuah ketentuan yang diyakini akan memperkuat likuiditas pasar modal.
Optimisme Mandiri Sekuritas terhadap IPO 2026
Oki Ramadhana, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, menyatakan bahwa sejumlah perusahaan yang sebelumnya memiliki free float di bawah ketentuan kini telah melakukan penyesuaian. Ia menekankan bahwa semakin besar porsi saham yang dilepas ke publik, semakin sehat pula proses pembentukan harga dan likuiditas setelah melantai di bursa.
“Ada (perusahaan) yang tadinya di bawah (free float 15 persen), tadi ada yang di bawah, sekarang harus menyesuaikan. Jadi kan itu sebenarnya untuk IPO itu akan lebih bagus. Semakin banyak, semakin besar,” ujar Oki saat acara buka puasa bersama awak media di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Oki menambahkan, calon emiten yang akan melantai di pasar modal dipastikan memiliki fundamental, tata kelola, dan prospek bisnis yang baik. Hal ini diharapkan dapat menarik minat investor ritel dan asing, terutama jika saham dilepas dalam jumlah besar. “Ini story-nya bagus nih, fundamentalnya bagus, manajemen bagus, pokoknya bagus lah emiten-nya. Kalau makin besar, investor makin punya, kasarnya ada barangnya untuk mereka, ada sahamnya yang mau dibelikan. Kalau sedikit, ya gimana mau, bagus gitu loh,” paparnya.
Pentingnya Free Float 15 Persen untuk Likuiditas Pasar
Peningkatan ketentuan porsi kepemilikan saham publik minimal 15 persen justru akan memperkuat likuiditas pasar. Oki menjelaskan, jika sebelumnya saham dengan porsi publik kecil masih bisa tergolong likuid, ke depan standar tersebut menjadi lebih ketat sehingga saham yang melantai benar-benar memiliki peredaran yang memadai di pasar.
“Bayangin aja kalau misalnya yang tadinya itu liquid itu yang kecil, itu kita sekarang harus 15 persen (free float) dan itu harus liquid gitu ya. Jadi itu full portfolio investor itu yang bener-bener akan invest di capital market kita,” kata Oki.
Dengan komposisi tersebut, portofolio investor, terutama institusi, akan lebih optimal ditempatkan di pasar modal domestik karena saham yang tersedia cukup besar dan aktif diperdagangkan. Menurut Oki, semakin besar ukuran emisi dan kapitalisasi, semakin besar pula peluang masuknya investor institusi yang tertarik pada saham dengan kedalaman pasar memadai.
“Jadi kalau mindset-nya itu semakin banyak, semakin besar, itu semakin banyak institusi yang akan masuk, kita akan liquid. Jadi kalau semakin besar, yang institusi akan jauh lebih interested untuk masuk. Jadi kebalikan kalau ditanya, oh ini issuance-nya besar sekali gitu ya,” lanjutnya.
Minat Perusahaan dan Pipeline IPO BEI
Mandiri Sekuritas sebelumnya telah mengungkapkan rencana untuk membawa empat hingga lima “super lighthouse company” atau perusahaan super mercusuar untuk mencatatkan saham perdana di pasar modal pada tahun 2026. Oki mencatat minat perusahaan untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI) terus meningkat dan mulai terlihat jelas untuk tahun ini.
“Ya tahun depan (2026) sih saya baru lihat IPO ya. Right issue saya belum lihat, tapi banyak yang benar-benar mau ke capital market sih banyak tahun depan. Saya sih, at least ada empat hingga lima yang kita lagi liatin, itu seharusnya akan masuk ke capital market tahun depan semua,” kata Oki saat gelaran Economic and Market Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).
Senada dengan Mandiri Sekuritas, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat adanya delapan perusahaan yang masuk dalam antrean IPO. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa hingga 20 Februari 2026, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI.
“Sampai dengan 20 Februari 2026 telah tercatat nol perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ungkap Nyoman kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).
Dari delapan calon emiten tersebut, lima di antaranya merupakan perusahaan beraset besar (di atas Rp 250 miliar) dan tiga beraset menengah (antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar). Secara sektoral, dua perusahaan berasal dari bidang basic materials, dua dari sektor financials, dan sisanya tersebar di sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, energy, industrials, serta transportation and logistic.
Informasi lengkap mengenai proyeksi IPO 2026 dan ketentuan free float ini disampaikan melalui pernyataan resmi Mandiri Sekuritas dan data dari Bursa Efek Indonesia.
